Surat Syaikh Usamah bin Ladin Kepada Amir Al-Qaeda Wilayah Khurasan (Bag.2)

 

Surat Syaikh Usamah bin Ladin

Kepada

Amir Al-Qaeda Wilayah Khurasan (Bagian 2)

 


 

[Penanggung Jawab Rilisan Media Al-Qaeda di Setiap Wilayah dan Tugas-tugasnya]

Para amir wilayah juga harus diminta agar menugaskan seorang ikhwah di antara mereka yang memiliki kemampuan untuk memantau bagian media mereka dari semua sisi yang telah kita sebutkan di atas. Yaitu dari sisi syar’i dan dari sisi memperhatikan opini umum umat Islam dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat.

Kepada ikhwah yang ditunjuk itu sendiri juga harus diminta untuk selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan pengetahuan dirinya pada semua bidang yang berkaitan dengan tugasnya, termasuk di dalamnya adalah membaca buku-buku tentang berinteraksi dengan orang lain. Karena kedepannya dia akan memiliki jangkauan interaksi yang luas bersama para ikhwah lainnya.

Ia juga harus membaca buku-buku yang menjadi referensi dalam bidang publikasi media, supaya rilisan-rilisan mujahidin memiliki daya saing yang baik dan dapat menarik masyarakat. Karena misi utama dari rilisan-rilisan mujahidin adalah menyebarkan kesadaran di tengah-tengah umat Islam untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan penguasa.

Dia sendiri sesuai dengan perannya harus berusaha memperbaiki kemampuan para ikhwah yang terlibat dalam bagian media, juga hendaknya memberikan nasehat yang bersifat umum kepada orang-orang yang merilis penjelasan, ceramah, buku dan makalah, serta orang-orang yang memberikan komentar dalam film-film jihad supaya mereka semua dapat membantunya dalam membuat media jihad di wilayahnya bisa lebih objektif dan dapat diterima oleh umat Islam.

Ikhwah itu sendiri hendaknya menduduki jabatan sebagai penanggung jawab media sebagaimana yang sekarang ini berlaku di semua wilayah, atau bisa juga membuat satu job baru — direktur umum untuk semua bidang media — di masing-masing wilayah. Sehingga semua rilisan mujahidin tidak dipublikasikan kecuali setelah ia mengkajinya, termasuk di dalamnya ceramah para qiyadah.

Ikhwah ini sendiri memiliki hak untuk membekukan rilisan apapun yang padanya terdapat kata-kata yang dipandang keluar dari strategi umum, baik ditinjau dari materinya maupun dari waktu publikasinya.

Hendaknya ia berdialog dan memberitahukan kepada pihak yang hendak mempublikasikannya bahwa rilisan tersebut bertentangan dengan strategi umum, dan memalingkan pandangan umat dari misi terbesar mujahidin, seperti masalah Palestina, serta membantu musuh dalam memperburuk citra mujahidin.

Karena pada tahap ini sangatlah besar kekhawatiran kita dari dampak-dampak buruk yang ditimbulkan oleh perilaku dan kata-kata sebagian mujahidin terhadap kepentingan mujahidin sendiri.

 

[Contoh Kasus Kesalahan Rilisan Media Mujahidin Berdampak Buruk Terhadap Mujahidin Sendiri]

Di antara contohnya adalah pada saat kaum muslimin awam berada pada puncak simpati mereka kepada Freedom Flotilla (Armada Kebebasan) yang tengah menuju Jalur Gaza untuk membuka blokade dan mengantarkan bantuan kemanusiaan untuk penduduk kita di sana. Kemudian terjadi penghadangan oleh militer Yahudi dengan kekuatan senjata dan pembunuhan terhadap beberapa orang yang ada dalam rombongan tersebut.

Peristiwa itu mendorong Turki untuk campur tangan sehingga membuat kasus Freedom Flotilla tersebut sangat ramai di media massa internasional. Hal itu memaksa para pemimpin negara-negara Barat angkat bicara mengenai kasus tersebut dan mengkritik Israel.[1]

Pada saat seperti itu, tiba-tiba di sebuah situs internet dipublikasikan sebuah ceramah wakil Abu Bashir di Yaman, yakni saudara kita Sa’id Asy-Syihri.[2] Di antara hal yang nampak menonjol di media massa adalah apa yang dia katakan tentang penangkapan seorang akhwat di negeri dua tanah suci [Arab Saudi] dan seruannya kepada para mujahidin di sana agar melakukan amaliyat penculikan terhadap orang-orang Barat, para pemimpin dari keluarga kerajaan Arab Saudi dan para aparat keamanan seniornya untuk membebaskan akhwat tersebut.

Setelah dipublikasikannya ceramah tersebut, stasiun TV Al-Arabiya memblow upnya secara besar-besaran dan menjadikannya sebagai berita pertama di setiap siaran beritanya. Stasiun TV Al-Arabiya mengundang orang-orang tua dan anak-anak muda dari kalangan awam di jalan-jalan, menurut pengakuan stasiun TV tersebut, sebagai host dan komentator. Stasiun TV tersebut juga mengundang sejumlah ulama’ su’ dan pejabat tinggi pemerintah Arab Saudi sebagai host dan komentator.

Tentunya tidak diragukan lagi bahwa sebagian ulama su’ dan pejabat tinggi pemerintah tersebut adalah orang-orang yang diterima oleh sebagian umat Islam yang tidak memahami jati diri mereka, untuk memberikan komentar terhadap rekaman ceramah tersebut.

Para komentator itu menyampaikan baik secara terang-terangan maupun sindiran sesuai dengan kadarnya masing-masing, bahwa mujahidin tidak memiliki kepedulian sama sekali terhadap kasus Palestina dan blokade yang dialami saudara-saudara kita di Jalur Gaza. Para komentator itu menyampaikan bahwa kepentingan mujahidin hanyalah membunuh, membuat kerusakan dan bermusuhan dengan aparat keamanan, bukan dengan penjajah Yahudi.

Tidak diragukan lagi bahwa perilisan ceramah semacam ini adalah karena adanya dorongan emosi untuk membela darah dan kehormatan kaum muslimin, dan emosi yang dilakukan saudara kita ini adalah emosi yang terpuji yang akan mendapatkan pahala.

Akan tetapi rilisan ceramah ini tidaklah tepat dengan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi. Pada saat itu 1,5 juta kaum muslimin [di Jalur Gaza] diblokade, dan lebih dari setengahnya adalah kaum wanita dan anak-anak. Sementara kaum muslimin yang tengah ditawan penjajah Yahudi lebih dari 10 ribu, dimana banyak di antaranya adalah akhwat dan anak-anak, dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Keluarnya ceramah tersebut pada situasi seperti ini tentu bertentangan dengan strategi kita dalam memfokuskan diri kepada musuh terbesar, dan menyamarkan perhatian kita terhadap kasus-kasus mendasar yang menjadi alasan kenapa kita memulai jihad, serta mengisyaratkan kepada masyarakat bahwa kita tengah berperang dan bermusuhan dengan pemerintah dalam rangka membalas dendam untuk ikhwan-ikhwan kita yang mereka bunuh dan mereka tawan, jauh dari kasus yang tengah dihadapi dan diderita umat Islam; padahal untuk itulah para ikhwah kita harus mengalami pembunuhan dan penangkapan.

Hal ini juga memberikan cap buat kita bahwa kita adalah orang-orang yang fanatik dengan daerah atau kelompok atau keduanya sekaligus. Karena mereka mendengar bahwa saudara kita ini berbicara tentang seorang akhwat Jazirah Arab dan anggota organisasi Al-Qaeda, dan mereka tidak mendengar saudara kita ini berbicara tentang akhwat-akhwat kita di Palestina.

Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan hakekat kita dan strategi umum kita, juga akan melemahkan posisi kita sebagai organisasi internasional yang berjihad untuk memerdekakan Palestina dan seluruh negeri kaum muslimin serta menegakkan khilafah Islamiyah yang berhukum dengan syariat Allah.

 

[Dua Contoh Lain dari Kasus Kesalahan Rilisan Media Mujahidin]

Kesalahan semacam ini juga telah terjadi sebelumnya di dalam pernyataan para ikhwah Yaman yang menyatakan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas sebuah amaliyat besar yang dilakukan oleh Umar Al-Faruq fakkallahu asrah.[3]

Di dalam pernyataan tersebut para ikhwah mengatakan bahwa amaliyat tersebut dilakukan sebagai balasan atas bombardir yang dilakukan oleh Amerika di provinsi Mahfad.

Mengaitkan amaliyat yang sangat besar semacam ini dengan selain kasus Palestina sungguh akan menutupi sebagian sikap yang menunjukkan bahwa para ikhwah Yaman juga sedang memperjuangkan persoalan Palestina.

Ditambah lagi dengan kesibukan harian para ikhwah dalam perang melawan pemerintah Yaman dan fokus para ikhwah terhadap tokoh-tokoh kunci pemerintah di Semenanjung Arabia dalam ceramah-ceramah mereka, sehingga menyedot perhatian masyarakat bahwa musuh utama dan terbesar mujahidin di Semenanjung Arabia  adalah penguasa Yaman dan penguasa negeri dua tanah suci (Arab Saudi).

Kesalahan ini juga terulang dalam komentar para ikhwah atas amaliyat yang dilakukan saudara kita Humam Al-Balawi rahimahullah[4], di mana para ikhwah mengatakan bahwa amaliyat ini merupakan pembalasan atas terbunuhnya [Baitullah] Mahsud rahimahullah[5], padahal semestinya yang paling utama dibicarakan adalah masalah Palestina.

 

[Skala Prioritas Bidang Dakwah dan Jihad]

Di antara perkara yang dapat membantu kita dalam menghindari kesalahan-kesalahan seperti ini adalah hendaknya persepsi global dan strategi umum itu jelas di benak kita, supaya kita dapat menghindari kesalahan atau menghindari sikap yang terlalu asyik dan terlalu berlebihan dengan sesuatu perkara melebihi apa yang lebih prioritas dan lebih penting.

Skala prioritas dalam program dakwah adalah menjelaskan pengertian dan konsekuensi-konsekuensi kalimat Tauhid, serta mengingatkan orang agar tidak terjerumus dalam perkara-perkara yang membatalkannya. Juga memompa semangat umat Islam untuk berjihad melawan aliansi Salibis-Zionis.

Sedangkan skala prioritas dalam program militer adalah fokus dan memberikan porsi yang paling besar kepada gembong kekafiran internasional.

Adapun fokus kepada orang-orang murtad dan banyak berbicara tentang mereka adalah perkara yang tidak dipahami oleh mayoritas umat, sehingga mayoritas umat Islam tidak meresponnya. Justru banyak di antara mereka yang menjauh dan menjadikan kita berjalan di sebuah lingkungan yang tidak dapat melindungi gerakan jihad, dan selanjutnya lingkungan tersebut tidak akan memberikan bantuan kepada kita untuk keberlangsungan dan kesinambungan jihad.

Saya juga berpendapat hendaknya dikaji ulang tentang mempublikasikan video-video pembunuhan terhadap orang-orang murtad yang bekerja sama dengan Amerika atau bekerja sama dengan pemerintah murtad dalam memusuhi kaum muslimin.

 

[Nasehat Qiyadah Al-Qaeda Untuk Aktifis Media Jihad]

Setelah para ikhwah di semua wilayah berkomitmen dengan apa yang dijelaskan dalam buku panduan tersebut, alangkah baiknya jika Anda dan Syaikh Abu Yahya Al-Libi menulis beberapa makalah nasehat untuk para aktifis media jihad secara umum, termasuk di antaranya adalah para penulis yang membela mujahidin di situs-situs internet.

Syaikh Yunus telah menulis surat kepada saya mengenai pentingnya membuat sebuah buku panduan yang menjelaskan sikap kita dalam masalah takfir yang tidak terkontrol dengan kaedah-kaedah syar’i. Lalu saya menulis surat balasan kepada beliau bahwa saya akan mengirimkan kepada Anda apa yang telah dia kirimkan kepadaku. Surat tersebut saya lampirkan di akhir surat ini.

Saya juga meminta kepada beliau agar terus mengirimkan catatan-catatannya kepada Anda supaya Anda yang menulisnya dengan gaya bahasa Anda sendiri, menimbang karena musuh bisa saja mengenali jati diri beliau melalui para tawanan yang mengenal gaya bahasa beliau setelah mereka mengkaji makalah-makalah beliau di situs internet.

 

[Telaah Kritis dan Konstruktif Terhadap Rilisan Media Mujahidin]

Sebelum saya akhiri pembicaraan mengenai aspek rilisan media, saya katakan:

Kita perlu menelaah secara cermat untuk memberikan nasehat dan kritik konstruktif terhadap semua strategi dan rilisan kita, baik di pusat maupun di wilayah.

Secara internal hal itu bisa dilakukan dengan cara menugaskan dua ikhwah untuk konsentrasi pada tugas ini.

Sedangkan secara eksternal bisa dilakukan dengan cara mengirimkannya kepada seorang penuntut ilmu [ulama atau santri mumpuni] yang dapat dipercaya dan amanah dengan menggunakan cara-cara yang aman. Anda memberitahukan kepadanya bahwa kita tengah berada pada tahapan baru yakni tahapan revisi dan pengembangan. Maka kami ingin dilakukan kajian dalam rangka memberikan masukan dan pengembangan untuk semua strategi dan rilisan kita baik di tingkat pusat maupun di tingkat wilayah. Kita revisi kesalahan-kesalahan kita dan kita kembangkan program jihad kita dengan usulan-usulan dan pendapat-pendapat mereka, terutama mengenai cara berkomunikasi dengan masyarakat baik dari sisi materi maupun tampilan.

Tentunya dengan menjaga agar semua itu tetap dirahasiakan dan tidak dipublikasikan, wallahul muwaffiq.

 

[Rencana Penjelasan Tahap Baru Al-Qaeda Kepada Umat]

Catatan Penting:

Setelah Anda menyampaikan pendapat-pendapat dan usulan-usulan Anda kepadaku, dan setelah kita memusyawarahkannya, maka apa yang telah kita tetapkan hendaknya kita kirim kepada para amir wilayah dan kita meminta mereka untuk membalas apa yang akan kita kirimkan kepada mereka tersebut.

Karena saya berniat untuk mempublikasikan sebuah penjelasan, yang di dalamnya saya akan jelaskan bahwa kita tengah memulai sebuah tahap baru untuk merevisi sebagian kesalahan yang terlanjur kita lakukan.

Dengan penjelasan tersebut, dengan izin Allah, kita dapat meraih kembali kepercayaan sebagian besar umat Islam yang telah hilang kepada mujahidin, dan kita ingin memiliki jalur komunikasi antara mujahidin dengan umat mereka.

Sebelum kita sampaikan hal ini kepada masyarakat dan kita yakinkan mereka, maka semua ikhwah baik di pusat maupun di wilayah haruslah telah memahami, bahkan telah mematuhi dan mempraktekkannya di lapangan. Sehingga apa yang kita katakan tersebut tidak bertentangan dengan beberapa tindakan kita.

Sebagai langkah awal, hendaknya semua ikhwah yang terlibat dalam media Al-Qaeda pusat berkomitmen menjauhi apa saja yang dapat menimbulkan dampak negatif pada pandangan umat terhadap mujahidin, dan bersungguh-sungguh melakukan segala sesuatu yang dapat mendekatkan mujahidin kepada umat mereka.

Dalam masalah ini di antara prinsip-prinsipnya adalah memperhatikan opini umum atau perasaan masyarakat umum sesuai dengan kaedah-kaedah syari’at Islam. Ini adalah perkara yang sangat penting sekali yang dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

«لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَهَدَمْتُ الْكَعْبَةَ، وَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ»

“Kalau bukan karena kaummu baru saja keluar dari masa jahiliyah pasti akan aku hancurkan Ka’bah dan pasti aku buat dia memiliki dua pintu.” (HR. At-Tirmidzi)[6]

Sesungguhnya di antara perkara yang mendominasi opini umum adalah menjauhi kekerasan, cenderung kepada kelembutan dan objektifitas, dan tidak menyukai pengulangan-pengulangan dalam pembicaraan kecuali ketika ada kebutuhan yang mendesak.

Dari sini maka kita harus berusaha memperluas dan menambah wawasan dalam pemahaman realita dan kasus-kasus baru supaya pembicaraan kita menyentuh masyarakat umum dan perhatian mereka, sambil memperbaiki persoalan-persoalan akidah yang penting.

 

Kesimpulannya:

Sesungguhnya komitmen dengan strategi umum yang telah ditetapkan sesuai dengan tuntutan siyasah syar’iyyah dalam operasi-operasi jihad dan rilisan-rilisan media kita, merupakan perkara yang sangat penting, dan dengan izin Allah akan dapat memberikan kemajuan yang sangat besar bagi gerakan jihad.

Di antaranya yang paling penting adalah merekrut masyarakat dan memperbaiki beberapa pandangan keliru yang tertanam di dalam benak mereka tentang mujahidin. Ditambah lagi dengan semakin terkurasnya kekuatan gembong kekafiran, karena strategi umum kita adalah menjadikan konsentrasi utama kita kepadanya.

 

[Dua Hal Penting Bagi Stabilitas dan Kemajuan Jihad]

Di sini saya tambahkan dua perkara lagi yang munurut saya penting untuk memantapkan dan memajukan program jihad. Saya berharap kalian mengkajinya sesama kalian.

Pertama: kita ratakan ketertiban administrasi yang baik, lalu dikirimkan ke seluruh wilayah setelah kita diskusikan di antara kita. Perkara ini mencakup beberapa hal berikut:

  1. Jika terjadi situasi darurat apapun yang mengakibatkan absennya amir dari memimpin mujahidin, secara otomatis wakil amir memikul tanggung jawab untuk menjalankan urusan-urusan mujahidin secara sementara untuk beberapa hari dengan sebutan Amir bin Niyabah.

Hal itu harus disampaikan kepada seluruh mujahidin yang ada di wilayahnya. Dia tidak disebut murni sebagai Amir dan juga tidak diumumkan di media massa kecuali setelah dimusyawarahkan dan disepakati di antara para ikhwah bahwa dia atau ikhwan lainnya yang menjadi Amir.

Musyawarah tersebut dilakukan bersama para ikhwah yang ada di wilayah yang bersangkutan dan bersama “Al-Qaeda Pusat”. Nama ini telah ditetapkan sebagai istilah di media massa untuk membedakan antara Al-Qaeda di Afghanistan dan Pakistan, dengan Al-Qaeda di wilayah-wilayah lainnya. Maka saya berpendapat untuk sementara tidak mengapa istilah tersebut kita gunakan supaya memperjelas maksud.

  1. Masa jabatan Amir yang dipilih oleh Ahlul Halli Wal ‘Aqdi di setiap wilayah adalah dua tahun dan ia bisa dipilih kembali. Jika terjadi kelambatan bermusyawarah dengan Al-Qaeda pusat lantaran sulitnya komunikasi, maka masa jabatan Amir tersebut adalah satu tahun dan bisa diperbaharui dengan tetap mempertimbangkan bahwa imarah (jabatan pemimpin) tersebut adalah mirip dengan imarah gubernur wilayah Islam pada zaman khilafah, dan bukanlah seperti jabatan imamah ‘uzhma (khalifah).
  2. Hendaknya Majelis Syura di setiap wilayah memberikan nasehat kepada Amir dan memberikan laporan tertulis tahunan yang dikirim ke Al-Qaeda Pusat tentang kondisi mereka, termasuk di dalamnya adalah perilaku Amir mereka dalam bekerja dan berinteraksi dengan mujahidin.

Saya juga berpendapat, jika ikhwah di setiap wilayah setuju, untuk mengangkat salah seorang ikhwah menduduki jabatan yang penting, seperti Wakil Pertama Amir atau Wakil Kedua Amir. Hal itu ditetapkan berdasarkan musyawarah dengan Al-Qaeda Pusat.

Jika terjadi kendala dalam komunikasi, maka keadaan mereka saat inilah yang berlaku untuk sementara waktu, sampai dilakukan musyawarah. Hendaknya Anda mengirimkan biografi ikhwah yang dicalonkan untuk jabatan tersebut.

 

Kedua: Memberikan perhatian tentang pengkaderan pemimpin dan membuat langkah-langkah untuk meningkatkan dan mengasah potensi mereka yang datang ke bumi jihad.

Karena umat ini secara umum kekurangan pemimpin yang memiliki kelayakan, sementara tidak samar lagi bagi kalian bahwa medan jihad adalah tempat yang cocok untuk pengkaderan kepemimpinan.

 

Terakhir:

Saya berharap Anda menyampaikan kepada saya usulan-usulan Anda yang dapat membantu peningkatkan kualitas program di semua aspek di semua wilayah. Karena tidak samar lagi bagi Anda betapa pentingnya untuk menjalankan program di setiap wilayah dengan strategi umum yang dikawal dengan syariat untuk mewujudkan kemaslahatan dan menghindari kerusakan.

 

[Kajian Tentang Penegakan Daulah Islam Sebelum Penopang-penopang Kesuksesannya Terpenuhi]

Saya telah mengkaji pendapat-pendapat Anda yang berharga tentang masalah mendirikan negara Islam sebelum penopang-penopang keberhasilannya siap dan tentang masalah meningkatkan pergolakan di Yaman.

Saya sendiri ingin memaparkan pendapat saya secara rinci kepada Anda tentang dua permasalahan tersebut supaya kita dapat melakukan diskusi yang bermanfaat dan membangun, dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun kajian masalah ini sangat rumit dan saya sendiri terpaksa harus memaparkannya panjang lebar karena pembahasan masalah ini sangatlah penting. Kalaupun saya juga belum dapat memberikan haknya secara layak dalam lembaran-lembaran ini, maka semoga saya dapat menyempurnakannya dalam surat yang akan datang.

 

[Kajian Peningkatan Pergolakan di Yaman]

Saya mulai dengan masalah meningkatkan pergolakan di Yaman. Pertama saya katakan bahwa Yaman adalah negara Arab yang paling siap untuk didirikan sebagai negara Islam. Akan tetapi hal ini bukan berarti penopang-penopang dasar untuk menyukseskan proyek ini telah terpenuhi.

Dari sinilah kita semakin antusias untuk memeliharanya dan tidak menggunakannya untuk sebuah peperangan yang sarana-sarana yang diperlukan belum lagi terpenuhi di semua aspek yang penting. Pendapat yang lebih kuat menurutku adalah kita tidak meningkatkan pergolakan di Yaman karena alasan-alasan berikut:

  1. Bahwa peningkatan ketegangan di Yaman akan banyak menyedot kekuatan mujahidin tanpa menyedot kekuatan gembong kekafiran (Amerika) secara langsung.

Hal itu merupakan bahaya besar bagi mujahidin secara umum dan akan berefek kepada perang secara umum antara Islam dan kafir, karena Yaman merupakan sumber penting dalam menyokong jihad berupa personal. Jika perang berkobar di Yaman tentu akan memotong atau melemahkan sokongan personel kepada front-front jihad lainnya.

Selain menjadi merupakan sumber sokongan yang besar, Yaman juga merupakan kekuatan cadangan mujahidin. Padahal merupakan sebuah perkara yang diakui dalam ilmu militer bahwa jika terjadi peperangan antara dua belah pihak, maka hendaknya masing-masing pihak tidak terjun ke dalam pertempuran dengan seluruh kekuatannya. Tetapi sangat penting bagi setiap pihak untuk menyisakan sebuah kekuatan bersenjata sebagai cadangan.

Dari sini pendapat yang benar menurut saya adalah hendaknya Yaman tetap menjadi kekuatan penyokong dan cadangan bagi mujahidin yang berada di front-front jihad yang telah terbuka, dan tetap menjadi sarana yang efektif untuk menegakkan kembali khilafah pada saat situasinya sudah siap untuk ditegakkan.

Karena kondisi di Yaman pada saat ini belumlah siap untuk membuka front baru yang dapat membuahkan hasil yang diharapkan.

Umat Islam adalah seperti sebuah pasukan yang memiliki beberapa kesatuan. Pada saat musuh maju dengan menggunakan tank, maka diperlukan kesatuan anti tank. Pada saat pesawat-pesawat musuh menyerang, maka harus tampil kesatuan roket dan anti pesawat. Sementara kesatuan-kesatuan lainnya menyamar dan bersembunyi supaya dapat berlindung dari bombardir pesawat sehingga tidak mengalami kerugian.

Inilah gambaran kondisi peperangan kita dengan kekafiran internasional. Kita hanya ingin menguras kekuatannya dengan menggunakan kekuatan yang diperlukan untuk misi ini saja, dengan tetap menjaga pasukan lainnya sebagai kekuatan cadangan yang akan diterjunkan ke dalam medan pertempuran pada waktunya yang tepat.

  1. Munculnya kekuatan mujahidin yang menguasai Yaman adalah perkara yang akan memancing dan menarik musuh-musuh multi nasional dan lokal untuk mengerahkan kekuatannya besar-besaran.

Hal itu sama sekali berbeda dengan munculnya kekuatan mujahidin di negara manapun yang bukan merupakan jantung dunia Islam, meskipun musuh-musuh Islam akan melakukan pengerahan pasukan besar-besaran untuk memberangus kemunculan mujahidin di mana saja.

Bagi musuh, mempertahankan Yaman adalah seperti mempertahankan hidupnya sendiri. Sebab Yaman adalah tempat bertolak ke seluruh negara-negara penghasil minyak, sedangkan menguasai negara-negara minyak tersebut berarti telah menguasai dunia.

Maka musuh akan mati-matian dan mengerahkan segala kemampuan mereka untuk memberangus kekuatan mujahidin di Yaman, pada saat kemampuan ikhwah-ikhwah kita di sana belum siap untuk menerjuni pertempuran semacam ini, baik dari sisi administratif maupun dari sisi materi.

Kemampuan materi mujahidin di sana belum mampu menyediakan kebutuhan pokok hidup [sembako] bagi masyarakat yang akan memikul beban perang, baik secara sukarela maupun karena terpaksa. Apalagi Yaman tengah mengalami krisis pangan dan kesehatan sebelum masuk dalam kondisi-kondisi yang menjadi efek perang.

Sedangkan masalah memenuhi kebutuhan pokok hidup untuk masyarakat adalah perkara yang harus dipertimbangkan sebelum mujahidin menguasai negara atau kota.

Sebuah kekuatan yang berkuasa apabila mendapatkan dukungan mayoritas penduduk di wilayah yang dikuasainya, kemudian ia tidak mampu menyediakan kebutuhan pokok hidup penduduknya, niscaya kekuatan tersebut akan kehilangan dukungan penduduk dan akan berada pada kondisi bahaya yang semakin hari akan semakin sulit. Karena masyarakat tidak akan mampu melihat anak-anak mereka mati sebagai akibat kekurangan pangan atau obat-obatan. Ini belum lagi keharusan menyediakan apa-apa yang diperlukan oleh tenaga-tenaga tempur yang disebut sebagai pasokan logistik.

Selain itu, saat ini kendali pertempuran ada di tangan kita dan kita masih memiliki waktu yang longgar untuk memilih waktu yang tepat untuk memulai jihad di Yaman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kalian mampu dan kuda perang yang ditambatkan, yang dengannya kalian membuat gentar musuh Allah dan musuh kalian, dan juga menggentarkan orang lain selain mereka yang kalian tidak mengetahuinya tapi Allah mengetahuinya. Dan apa saja yang kalian belanjakan di jalan Allah niscaya akan diberikan balasan kepada kalian secara sempurna dan kalian tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Anfal [8]: 60)

Kita masih memiliki kekuatan besar yang masih dapat kita kumpulkan dan kita persiapkan. Seandainya kita perkirakan, misalnya kondisi yang tepat untuk mendirikan dan menjaga keberlangsungan negara Islam di Yaman itu akan terwujud tiga tahun lagi, maka memulai jihad sebelum itu bukanlah keputusan yang bijak karena hal itu akan mencerai-beraikan kekuatan yang kita miliki tersebut dan memperlambat kita untuk menyiapkannya tanpa dapat mewujudkan target utamanya yaitu iqamatuddin (menegakkan Islam).

Sesungguhnya misi kita dan misi para ikhwah di Yaman adalah iqamatuddin dan menegakkan kembali Khilafah yang mencakup seluruh dunia Islam. Lalu setelah itu disusul dengan berbagai pembebasan ke wilayah yang mampu kita jangkau dengan izin Allah.

Hal itu dilakukan dengan melanjutkan jihad di front-front yang telah terbuka dan siap untuk dilaksanakan perang, dan tetap menunggu secara cermat di front-front yang belum siap seperti Yaman, sampai kondisinya siap dan peperangan yang dilakukan dapat membuahkan hasil yang membantu penegakkan kembali Khilafah Rasyidah dengan izin Allah.

Di antara hal yang membuktikan betapa bahayanya kita memulai perang sebelum penopang-penopangnya siap adalah kegagalan kudeta yang dilakukan orang-orang sosialis Yaman.

Kegagalan tersebut disebabkan karena mereka tergesa-gesa untuk memulainya sebelum penopang-penopang yang menjamin keberhasilannya terpenuhi, seperti menuntaskan masalah menarik loyalitas dari kabilah-kabilah yang berada di sekelilingnya, dan penopang-penopang lainnya. Meskipun yang mendorong mereka untuk melakukan kudeta terlalu cepat itu adalah karena semakin banyaknya ‘penculikan’ yang dilancarkan kepada keder-kader mereka, baik ‘penculikan’ itu terjadi karena dibunuh mujahidin ataupun ‘penculikan’ itu karena presiden menggelontorkan harta dan berhasil merekrut kader-kader mereka tersebut.

Selain itu Anda mengetahui bahwa wajibnya jihad itu bukan berarti kita harus melaksanakannya di setiap tempat, termasuk di tempat-tempat yang penopang keberhasilan jihadnya belum terpenuhi.

Sebab jihad adalah sarana untuk iqamatuddin, dan kewajiban jihad terkadang bisa gugur ketika tidak ada kemampuan, tanpa menggugurkan kewajiban i’dad. Hal itu adalah ketika orang-orang yang berpengalaman dalam jihad memperkirakan bahwa penopang-penopang supaya jihad itu dapat membuahkan hasil yang diharapkan belum terpenuhi.

Atas karunia Allah semata, jihad telah berlangsung di beberapa front dan hal ini cukup, atas izin Allah kemudian berkat keteguhan mujahidin di sana, untuk memerankan fungsi menguras kekuatan gembong kekafiran (Amerika) sampai kalah dengan izin Allah. Kemudian setelah itu barulah umat ini bisa dientaskan dari penindasan dan kehinaan yang menimpanya.

Sesungguhnya perhatian mujahidin secara umum untuk memahami apa-apa yang dapat memberikan pengaruh dalam menyadarkan umat dan menjadikan umat dapat menerima jihad adalah cukup, atas izin Allah, sebagai usaha untuk menyelamatkan umat dari gelapnya kebodohan dan kesesatan.

Sesungguhnya bencana yang menimpa negeri-negeri kaum muslimin bersumber dari dua sebab:

  • adalah hegemoni Amerika terhadap negeri-negeri tersebut.
  • adalah para penguasa yang meninggalkan syariat Islam dan bersinergi dengan hegemoni Amerika. Para penguasa tersebut merealisasikan kepentingan-kepentingan Amerika dengan imbalan Amerika akan merealisasikan kepentingan para penguasa tersebut.

Jalan yang terbentang di hadapan kita untuk iqamatuddin (menegakkan Islam) dan menyingkirkan bencana yang menimpa kaum muslimin tersebut adalah dengan menyingkirkan hegemoni Amerika yang mencengkeram bangsa dan negara, yang menjadi penghalang bagi eksisnya pemerintahan apapun yang menjalankan hukum Allah.

Jalan untuk menyingkirkan hegemoni Amerika ini adalah dengan melanjutkan program menguras kekuatan Amerika secara langsung sampai Amerika hancur dan lemah, sehingga tidak lagi mampu melakukan intervensi terhadap urusan kaum muslimin.

Setelah tahap ini barulah mujahidin memasuki tahapan menjatuhkan penyebab kedua, yakni para penguasa yang meninggalkan syariat Islam. Dan setelah itu dengan izin Allah, adalah tahapan menegakkan agama Allah dan menjalankan hukum syari’at-Nya.

Maka kita harus fokus kepada pekerjaan-pekerjaan yang mengarah kepada pengurasan kekuatan Amerika. Adapun pekerjaan-pekerjaan yang tidak mengarah kepada pengurasan kekuatan musuh terbesar tersebut, maka kebanyakan pekerjaan tersebut hanya akan mencerai-beraikan kekuatan kita dan menguras tenaga kita.

Tidak samar lagi dampak semua itu terhadap perang secara umum dan terhadap lambannya menyelesaikan tahapan-tahapan menuju tegaknya Khilafah Islamiyah, dengan izin Allah.

Atas dasar itu, maka tidak ada tekanan maupun kebutuhan mendesak untuk menguras dan memforsir front Yaman sebelum penopang-penopang kesuksesannya sempurna, serta melibatkan kekuatan cadangan dan sokongan mujahidin ke dalam bencana besar dengan alasan apa yang telah disebutkan di atas yakni bahwa besarnya pertempuran ini akan melampaui kesiapan mujahidin, ditinjau dari berbagai sisi.

Menurut pendapat saya bahwa menghentikan tingkat pergolakan di Yaman itu merupakan kepentingan umum bagi seluruh mujahidin. Tindakan ini memiliki sisi-sisi kesamaan dengan apa yang terjadi pada perang Mu’tah. Pada saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memuji apa yang dilakukan Khalid bin walid radhiyallahu ‘anhu dengan menyebutnya sebagai kemenangan, tatkala Khalid menarik pasukannya.

Maka yang disebut kemenangan pada kondisi peperangan seperti itu adalah penyelamatan Khalid terhadap para sahabat radhiyallahu ‘anhu dari kehancuran pasukan dalam sebuah peperangan yang tidak seimbang sama sekali antara jumlah pasukan mereka dengan jumlah pasukan Romawi, sementara tidak ada penopang-penopang kemenangan yang dapat dicapai.

Di sisi lain mereka bukan pada kondisi mempertahankan wilayah kaum muslimin. Akan tetapi mereka masih memiliki kelompok induk [di Madinah] yang mereka dapat kembali kepadanya untuk mempersiapkan kembali peperangan semacam ini. Sebuah kelompok yang di dalamnya terdapat manusia terbaik, penutup para Nabi dan Rasul, yang telah memberikan pujian kepada mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah kurrar (penyerang) bukan furrar (orang-orang yang melarikan diri).[7]

 

  • Kajian Penegakan Daulah Islam Sebelum penopang-penopangnya Tersedia]

Adapun mengenai mendirikan negara sebelum penopang-penopang kesuksesannya siap, saya katakan:

  1. Menurut pendapat saya bahwa dengan merenungkan masalah ini baik-baik, kita akan memahami bahwa mendirikan negara sebelum terpenuhi penopang-penopang keberhasilannya seringkali hanya akan mengaborsi proyek di mana saja negara itu akan didirikan.

Karena didirikannya sebuah negara, lalu dijatuhkannya kembali oleh musuh, akan menjadi beban tersendiri yang tidak dapat dipikul oleh masyarakat. Padahal membebani masyarakat melebihi kemampuannya itu memiliki sisi-sisi yang sangat negatif.

Di antaranya adalah hal itu akan mengakibatkan trauma terhadap jihad bagi penduduk daerah yang menjadi ladang pemberangusan terhadap gerakan jihad. Terkadang efek pemberangusan itu juga mengenai masyarakat, sama saja apakah gerakan tersebut diberangus setelah mendirikan negara maupun saat tengah berusaha mendirikannya sebagaimana yang terjadi di Suriah.

Tatkala Ikhwanul Muslimin [di Suriah] berusaha untuk memulai jihad dan mendirikan negara Islam, sementara mereka belum mempersiapkan sarana-sarananya dan penopang-penopangnya belum lengkap, maka terjadilah trauma di kalangan kaum muslimin Suriah terhadap jihad, tertanamlah pada kebanyakan orang bahwa tetap tinggal di bawah naungan negara yang adaitu lebih kecil bahayanya bagi mereka daripada ketika mereka berjihad.

Sebagai akibat dari trauma tersebut, dunia jihad telah kehilangan satu generasi muda yang sebelumnya mereka bersemangat untuk membela Islam dan bahkan di antara mereka ada telah mengorbankan nyawa mereka di jalan Allah. Kemudian angin jihad pun mereda di Suriah selama kurang lebih 20 tahun, sampai muncul satu generasi baru yang tidak ikut menyaksikan tragedi tersebut.

Oleh karena itu mayoritas [orang Suriah] yang berangkat jihad ke Aghanistan dan Irak adalah orang-orang yang tidak ikut menyaksikan peristiwa pemberangusan di provinsi Hamah.

  1. Sesungguhnya jihad untuk menggulingkan negara dan menguasainya hendaknya tidak dimulai hanya berdasarkan harapan nanti masyarakat akan ikut berperang untuk memperkuat negara yang baru berdiri.

Akan tetapi harus dikaji, diteliti dan dipastikan bahwa penopang-penopang kesuksesannya telah terpenuhi, serta mencari waktu [momentum] yang tepat; sehingga kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berharga, namun kita juga tidak boleh memulainya sebelum ada waktu yang tepat.

Mungkin akan ada orang yang akan menyamakan efek dari pendirian sebuah negara yang kemudian ditumbangkan lagi oleh musuh dengan efek yang terjadi akibat tumbangnya Imarah Islam Thaliban di Afghanistan, kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengembalikannya dengan penuh kejayaan dan kekuasaan.

Penyamaan semacam ini adalah penyamaan dua perkara yang memiliki perbedaan besar karena beberapa faktor:

Faktor pertama: bahwa dunia Islam itu terdiri dari dua bangsa yaitu bangsa Arab dan ‘ajam (non Arab).

Musuh telah memiliki pemahaman dan pengalaman yang banyak terhadap bangsa Arab dan sejarahnya, maka musuh pun memiliki kesadaran bahwa bangsa Arab itu memiliki beberapa sifat berbahaya yang menjadikannya siap untuk menyambut seruan jihad dengan cepat. Cukuplah Al-Qur’an dan Sunnah yang bahasanya sama dengan bahasa mereka, sehingga mereka dapat secara cepat untuk memahami teks-teksnya tanpa harus diterjemahkan, cukuplah hal ini untuk menjadikan mereka seperti itu.

Oleh karena musuh menyadari hal ini, maka mereka dalam melancarkan agresi mereka ke dunia Islam memberikan konsentrasi yang sangat besar kepada bangsa Arab, apalagi dalam hal serangan media merusak yang bertujuan mempengaruhi wawasan dan watak bangsa Arab supaya mendukung kepentingan Barat.

Cukuplah sebagai bukti tentang hal itu bahwa bahasa pertama yang digunakan siaran radio BBC setelah bahasa Inggris adalah bahasa Arab, padahal jumlah penduduk Arab itu hanya 2,5 % dari jumlah keseluruhan penduduk bumi.

Sementara bangsa-bangsa lain seperti China semata jumlah penduduknya mencapai seperlima (20%) dari jumlah keseluruhan penduduk bumi. Demikian pula penduduk anak benua Asia, India, mencapai seperlima (20%) dari jumlah keseluruhan penduduk bumi. Selain itu jumlah kaum muslimin India lebih banyak daripada jumlah kaum muslimin Arab.

Maka sebenarnya imperium Inggris mampu memperdengarkan suaranya kepada 40% penduduk bumi hanya dengan dua radio saja [BBC bahasa China dan India, pent] akan tetapi karena misi utama mereka adalah menghancurkan Arab melalui media [maka siaran BBC berbahasa Arab menjadi prioritas Inggris, meskipun bangsa Arab hanya berjumlah 2,5 % penduduk bumi, pent].

Faktor kedua: adalah berlangsungnya penjajahan Amerika secara nyata di atas tanah dengan kekuatan militer.

Ini adalah faktor yang sangat penting sekali dalam membangkitkan dan menghasung masyarakat untuk melanjutkan perang.

Lain halnya dengan negara-negara yang musuh dari luar menumbangkan negara Islam yang didirikan di sana tanpa melakukan agresi militer secara nyata di atas tanah dan musuh dari luar mencukupkan diri dengan memberian dukungan kepada musuh lokal dan regional, terutama pada negara yang tidak terjadi kekacauan lantaran adanya persengketaan besar di dalamnya sebagaimana yang terjadi di Irak.

Faktor ketiga: penduduk Afghanistan secara alami memiliki komitmen baik dengan syariat Islam, hidup sederhana dan jauh dari kemewahan, sangat sensitif dengan keberadaan orang asing di negaranya.

Di negara mereka terdapat desa-desa yang sangat terpencil di atas pegunungan dan pedalaman yang terpisah dari perkotaan. Hal ini menjadikan para penduduknya merasa merdeka, kuat dan jauh dari kekuasaan aparat keamanan. Di sisi lain kekuasaan aparat keamanan di perkotaan pun juga lemah.

Semua faktor tersebut sangatlah penting untuk melengkapi penopang-penopang suksesnya pendirian negara Islam. Namun demikian faktor-faktor tersebut tidak terwujud di seluruh negara kawasan [Timur Tengah]. Masyarakat yang berada di kebanyakan negara [Timur Tengah] tersebut tidak siap untuk terjun dalam perang melawan pemerintah dan menjatuhkannya.

Hal itu karena kebanyakan mereka tidak memahami bahwa pemerintah negara mereka telah murtad. Sedangkan mereka yang telah memahaminya, atau mereka yang ingin melepaskan diri dari pemerintahnya karena faktor lainnya, seperti faktor kemiskinan dan kerusakan tata kelola pemerintah, mereka tidak yakin bahwa solusinya adalah perang dan menggulingkan pemerintah.

Alasannya adalah karena Amerika mendominasi kawasan tersebut dan Amerika dapat menumbangkan negara apapun yang akan didirikan setelah digulingkannya agen-agen Amerika.

Terkecualikan dari negara-negara kawasan tersebut adalah Afghanistan, Irak dan Somalia pada periode ini.

 

 [Faktor Jelas dan Samarnya Kekafiran Musuh yang Diperangi]

Di sini ada perkara penting, yaitu bahwa di antara faktor terpenting yang dapat membantu, setelah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, untuk menyukseskan dan melanggengkan program jihad adalah mendakwahi kaum muslimin untuk memerangi musuh yang mereka ketahui permusuhannya kepada mereka dan mereka tidak ragu-ragu lagi tentang kebolehan memeranginya. Hal seperti ini terwujud pada diri musuh bernama Amerika.

Adapun musuh lokal, seperti ketika penduduk Yaman terlibat perang panjang dengan aparat keamanan, maka ini adalah perkara yang memberatkan masyarakat. Setelah berjalannya waktu, masyarakat akan merasa bahwa mereka telah membunuh bangsa mereka sendiri dan mereka akan cenderung untuk menghentikan perang. Hal itu akan mempopulerkan ide pemerintah sekuler yang mengangkat slogan menampung keinginan semua elemen masyarakat.

Sementara misi kita bukanlah mengerahkan kekuatan kita di Yaman, yang merupakan kekuatan terbesar sebagai kekuatan penyokong dan kekuatan cadangan, bukan pula mengurasnya untuk menggulingkan pemerintah murtad lalu setelah itu berdiri pemerintah murtad lainnya yang akan menggantikannya.

Inipun jika kita asumsikan bahwa masyarakat Yaman akan ikut bangkit bersama kita untuk menumbangkan pemerintah.

Akan tetapi di antara tabiat masyarakat kabilah-kabilah adalah berani berperang sesama mereka namun mereka takut dan menghindari peperangan melawan kelompok yang lebih besar, kecuali setelah dipastikan bahwa kekuatan dan waktunya menunjukkan akan berhasilnya revolusi dengan perkiraan yang sangat meyakinkan.

Di sisi lain bahwa di antara penopang terkuat untuk suksesnya berdiri dan langgengnya negara Islam di Yaman adalah terwujudnya dukungan yang besar dari kabilah-kabilah di sana dan meraih kepercayaan dari mereka untuk ikut serta dalam pertempuran dan berpartisipasi untuk menegakkan negara Islam dan menjaga kelestariannya di sana.

Hal yang harus diperhatikan juga adalah bahwa pihak yang akan dihadapi kabilah-kabilah tersebut ketika mereka telah berperang bersama kita, bukan terbatas hanya pemerintah Yaman, akan tetapi adalah kekafiran internasional dan regional.

 

 


[1]. Para relawan kemanusian internasional dari berbagai negara berkumpul di Turki dan kemudian berlayar dengan kapal kecil (flotilla) Mavi Marmara berbendera Turki. Tujuan pelayaran tersebut adalah menembus blokade laut penjajah zionis Yahudi dan mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada penduduk Jalur Gaza. Misi kemanusian itu dinamakan “Flotilla to Gaza”.

Angkatan Laut penjajah zionis Yahudi menghadang kapal Mavy Marmara di Laut Mediterania pada Senin dini hari, 31 Mei 2010 M, lalu helikopter-helikopter tempur zionis Yahudi menurunkan pasukannya ke atas kapal Mavy Marmara. Tentara zionis Yahudi kemudian menembaki para relawan kemanusiaan di dalam kapal Mavy Marmara, sehingga banyak relawan kemanusiaan yang gugur dan cedera berat.

Dua orang warga Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusian kapal Mavi Marmara ikut cedera dan dilarikan ke rumah sakit penjajah Yahudi. Keduanya adalah Octavianto Emil Baharudin dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA) dan Surya Fachrizal dari Sahabat Al-Aqsha yang juga jurnalis di Hidayatullah. (sumber: antara news)   

[2]. Syaikh Abu Sufyan Al-Uzdi atau Sa’id As-Syihri berasal dari Arab Saudi. Beliau adalah komandan senior sekaligus Wakil Amir Al-Qaeda Semenanjung Arabia (AQAP). Beliau gugur oleh serangan drone AS di Yaman Selatan pada 2013. Yayasan Media Al-Malahim, bidang media AQAP, pada Ramadhan 1434 H/Juli 2013 M merilis video belasungkawa atas gugurnya Syaikh Sa’id As-Syihri. Belasungkawa disampaikan secara resmi oleh Syaikh Ibrahim bin Sulaiman Ar-Rubaisy, penanggung jawab bidang syariat AQAP.

 

 

[3] Oemar Al-Farouk bin Abdul Muthalib adalah pemuda 23 tahun berkewarga negaraan Nigeria. Ia mencoba melakukan peledakan terhadap Pesawat Airbus nomor penerbangan 253 milik Northwest Airlines pada hari Natal, 25 Desember 2009. Pesawat itu lepas landas dari Amsterdam, Belanda dan mendarat di Detroit, Amerika Serikat. Oemar Al-Farouk meletakkan bahan peledak di celana dalamnya. Namun usaha itu gagal dan Oemar Al-Farouk tertangkap. Media massa AS melaporkan Oemar Al-Farouk mengaku mendapatkan pelatihan merakit bom dari instruktur Al-Qaeda Semenanjung Arab (AQAP) di Yaman Selatan. Ia dituding sebagai murid dari ulama AQAP, Syaikh Anwar Al-Awlaqi rahimahullah.

 

 

[4]. Dr. Humam bin Muhammad Khalil Al-Balawi atau lebih dikenal dengan nama panggilan Abu Dujanah Al-Khurasani adalah warga negara Yordania, dari marga Bala yang terkenal keislaman dan kegigihannya membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sejak perjanjian Aqabah. Ia dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama. Karena prestasi akademiknya di SMA, ia menempuh kuliah kedokteran di Turki atas beasiswa pemerintah Yordania. Ia lulus sebagai dokter dan menikah dengan seorang wartawati Turki yang taat beragama.

 

 

Perannya dalam jihad dimulai saat AS dan sekutu-sekutu salibisnya menginvasi Irak pada Maret 2003 M. Ia mulai menghimpun dana untuk jihad dan aktif di dunia maya untuk memotivasi jihad kaum muslimin. Tulisan-tulisannya di situs mujahidin, Al-Hisbah, mendapat sambutan hangat mujahidin dan kaum muslimin. Ia menggunakan nama pena “Abu Dujanah Al-Khurasani”. Sejak pertengahan 2006, ia merupakan salah satu admin situs Al-Hisbah.

Pada akhir 2008 M, penjajah Yahudi menginvasi Jalur Gaza. Namun Abu Dujanah gagal memasuki Gaza. Maka melalui beberapa jaringan mujahidin, ia menjalin kontak dengan Syaikh Athiyatullah Al-Libi agar bisa berangkat ke Afghanistan.

Dinas Intelijen Yordania menangkapnya dan membongkar keterlibatannya dalam situs Al-Hisbah dan kontaknya dengan Syaikh Athiyatullah Al-Libi. Dengan pertolongan Allah semata, kemudian dengan kecerdikannya, ia berhasil meyakinkan untuk menjadi agen Dinas Intelijen Yordania. Dinas Intelijen Yordania akhirnya mengirimnya ke Afghanistan dengan tujuan utama menangkap Syaikh Athiyatullah, dengan imbalan hadiah 1 juta dolar.

Dua bulan setelah “bekerja” dengan Dinas Intelijen Yordania, Abu Dujanah akhirnya sampai di bumi jihad. Ia datang sebagai seorang dokter PBB untuk urusan pengungsi Palestina dan dengan fasilitas dari Dinas Intelijen Yordania, ia berhasil tiba di Peshawar, Pakistan untuk menghadiri sebuah seminar. Abu Dujanah akhirnya bergabung dengan Syaikh Athiyatullah dan mujahidin Al-Qaeda.

Empat bulan pertama bersama mujahidin, Abu Dujanah memutus kontak dengan Dinas Intelijen Yordania sebagai sebuah taktik. Setelah itu ia menjalin kontak kembali dan mengirim informasi-informasi palsu. Ia mendapat kepercayaan penuh Dinas Intelijen Yordania atas informasi-informasi tersebut.

Ia menginformasikan bahwa Syaikh Aiman Az-Zhawahiri mengundangnya untuk mengobati penyakit Syaikh Aiman. Informasi itu menjadi alasan dirinya dibawa oleh Dinas Intelijen Yordania bertemu dengan Dinas Intelijen Amerika [CIA] di Khost, Afghanistan.

Dengan dana dari Dinas Intelijen Yordania, ia membeli bom C 4 dan meletakkannya dalam rompi tebal. Ia beralasan perlu mengenakan rompi anti peluru guna mengantisipasi terbongkarnya penyamarannya oleh mujahidin. Ditemani Kepala Anti Teror Dinas Intelijen Yordania, Abu Zaid, ia akhirnya bertemu dengan para perwira tinggi CIA di Pangkalan Militer AS di Khost, Afghanistan. Ia meledakkan dirinya di tengah mereka. Serangan syahid pada Kamis malam, 14 Muharram 1431 H/31 Desember 2009 itu menewaskan perwira tinggi intelijen Yordania Abu Zaid dan tujuh perwira tinggi terbaik CIA serta mencederai beberapa perwira CIA lainnya. Operasi bom syahid ini diatur dan dikendalikan langsung oleh Syaikh Athiyatullah Al-Libi rahimahumallah. Semoga Allah menerimanya dalam golongan syuhada’ dan meninggikan kedudukannya di surge Firdaus.

Biografi Abu Dujanah Al-Khurasani dimuat dalam majalah resmi Al-Qaeda Pusat, Thalai’ Khurasan, edisi XVI dan buku “Adu Dujanah Al-Khurasani: Al-Qishah Al-Kamilah li-Amaliyah Khost” karya rekan beliau Syaikh Abu Hazan Al-Waili, diterbitkan oleh Al-Fajr Media Center pada Muharram 1433 H.

[5]. Syaikh Baitullah Mahsud adalah pendiri dan pemimpin kelompok Mujahidin Thaliban Pakistan. Ia berasal dari kabilah Mahsud, kabilah terbesar di wilayah Waziristan, Pakistan. Ia dilahirkan pada 1974. Ia ikut berjihad di Afghanistan melawan komunis Uni Soviet. Pada tahun 2007 ia menjadi Amir Thaliban Pakistan setelah gugurnya saudaranya, Abdullah Mahsud. Ia berjihad melawan pemerintah sekuler Pakistan yang menjadi agen Amerika dan Barat dalam memerangi mujahidin Thaliban Afghanistan dan Al-Qaeda. Ia fasih berbahasa Arab. Ia gugur oleh serangan drone AS di wilayah Waziristan Selatan pada 5 Agustus 2009 M. Semoga Allah menerimanya dalam golongan syuhada’. Kedudukannya sebagai Amir Thaliban Pakistan digantikan oleh Hakimullah Mahsud, yang juga gugur oleh serangan drone AS pada November 2013. (sumber: ar.wikipedia.org)

 

 

[6]. Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 875, An-Nasai no. 2902, Ahmad no. 24709, dan Ibnu Hibban no. 3817. Dinyatakan shahih oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Albani, dan Al-Arnauth. Dalam riwayat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha:

 

 

«يَا عَائِشَةُ، لَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُ عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَأَمَرْتُ بِالْبَيْتِ، فَهُدِمَ، فَأَدْخَلْتُ فِيهِ مَا أُخْرِجَ مِنْهُ، وَأَلْزَقْتُهُ بِالأَرْضِ، وَجَعَلْتُ لَهُ بَابَيْنِ، بَابًا شَرْقِيًّا، وَبَابًا غَرْبِيًّا، فَبَلَغْتُ بِهِ أَسَاسَ إِبْرَاهِيمَ»

“Wahai Aisyah, seandainya kaummu tidak baru saja meninggalkan masa jahiliyah, niscaya aku akan memerintahkan agar Ka’bah diruntuhkan, lalu aku memasukkan ke dalamnya apa yang sebelumnya dikeluarkan darinya dan aku akan menempelkannya dengan tanah, lalu aku membuat dua pintu untuknya yaitu satu pintu di timur dan satu pintu di barat. Dengan begitu aku mengembalikan fondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.”(HR. Bukhari no. 1586, An-Nasai no. 2903, Ahmad no. 26029, Ibnu Khuzaimah no. 3021, Al-Hakim no. 1764 dan Al-Baihaqi no. 9317)

[7] Situs-situs jihad internasional pada tanggal 21 Ramadhan 1433 H memuat artikel berjudul “Mengadili Ansharu Syari’ah”, tulisan pakar strategi Syaikh Abdullah bin Muhammad [terkenal lewat karyanya Mudzakkirah Istiratijiyah, diterbitkan oleh penerbit Jazeera, Solo pada Juni 2013 dengan judul “Strategi Dua Lengan”]. 

 

 

Dalam artikel tersebut, Syaikh Abdullah menganalisa alasan Mujahidin Ansharu Syari’ah Yaman [AQAP] menarik mundur seluruh pasukannya dari provinsi Abyan dan Shabwah yang telah dikuasainya selama pertengahan 2011- pertengahan 2012 M.

Di awal artikel tersebut, beliau menulis:

“Bersamaan dengan menyingsingnya fajar hari Selasa, 22 Rajab 1433 dan berlalunya malam secara berangsur di front Al-Harur dan Zinjabar, provinsi Abyan, regu-regu pengintai pasukan Yaman mulai memastikan untuk para komandan lapangannya dalam beberapa nota laporan yang berturut-turut akan kosongnya medan pertempuran dari semua tanda-tanda keberadaan pasukan Ansharu Syari’ah. Tidak ada posko-posko di depan, tidak ada pergerakan peralatan tempur, dan tidak ada titik-titik pengintaian. Yang ada hanyalah keheningan yang aneh dan ketenangan yang sempurna. Keheningan yang tidak terusik kecuali oleh teriakan-teriakan Duta Besar Amerika di hadapan para pemimpin Shan’a: “Bagaimana ini bisa terjadi?!  Ini apa artinya?! Kemana mereka pergi, ke langit?!”

Sebenarnya saya tidak menyalahkan Mr. Gerald M. Feierstein atas teriakan-teriakannya itu, yang pasti akan mendapat dampratan yang tidak kalah hebatnya dari Gedung Putih, karena penarikan pasukan secara mengejutkan yang dilakukan oleh Ansharu Syari’ah dari kota-kota [dalam provinsi] Abyan dan Syabwah telah membuat tercengang semua elemen yang terlibat dalam perang dan juga elemen lainnya, baik kelompok pendukung, kelompok netral, pengamat, analis maupun orang awam. Semuanya bertanya kenapa Mujahidin menarik mundur pasukan? Kalau hanya mau menarik mundur pasukan, kenapa Mujahidin mau capek-capek merebut kekuasaan? Apa kiranya yang akan terjadi?”

Syaikh Abdullah bin Muhammad kemudian menjelaskan panjang lebar tentang tabiat penarikan mundur pasukan dalam ilmu militer, lengkap dengan kajian sejarahnya. Beliau kemudian menulis:

“Sekarang, setelah pemaparan pendahuluan tentang tabiat penarikan mundur pasukan dan hasil-hasil berharga yang dalam pandangan ilmu militer dalam mempengaruhi jalannya peperangan ini, barulah kita dapat memberikan penilaian terhadap operasi taktis penarikan mundur pasukan yang dilakukan oleh Ansharu Syari’ah dari provinsi Abyan dan Syabwah pada saat terjadi serangan militer gabungan tentara pemerintah Yaman, Amerika, Inggris, Prancis, dan Arab Saudi serta ditambah lagi dengan milisi-milisi bayaran Lijan Sya’biyah [Komite Rakyat]. Kita juga baru bisa memberikan penilaian yang sangat jelas terhadap penarikan mundur pasukan ini, bahkan kita juga dapat memprediksikan peristiwa pada masa mendatang berdasar semua hal ini.

Pertama saya akan menceritakan situasi dan kronologi penarikan mundur pasukan tersebut semenjak munculnya ide, perencanaan sampai pembuatan kode rahasia khusus untuk pelaksanaannya pada hari Selasa, 22 Rajab 1433 H, dan peristiwa yang terjadi setelah itu.

Saya katakan dengan memohon bimbingan dari Allah, bahwa ide [mujahidin untuk] menguasai provinsi Abyan dibangun di atas pertimbangan mengambil manfaat dan merespon situasi yang terjadi di Yaman setelah terjadi pergolakan revolusi dan setelah beberapa provinsi bagian Yaman utara jatuh ke tangan kelompok Hautsi (Syi’ah), sementara beberapa provinsi lainnya jatuh ke tangan kabilah-kabilah dan partai-partai. Kemudian juga merebaknya kekacauan, penjarahan dan perampokan di beberapa wilayah Yaman lainnya, yang memaksa mujahidin dan saudara-saudara mereka dari penduduk Waqar, Zinjabar, Syaqrah dan lainnya untuk melakukan kerja sama dalam mengendalikan keamanan dan menghentikan tindakan-tindakan zalim yang mengatas namakan pemerintah.

Faktor yang lebih penting lagi dari itu semua adalah terbukanya peluang di hadapan rakyat untuk hidup di bawah naungan syari’at Islam dan mendapatkan apa yang pada saat pemerintah berkuasa tidak mereka dapatkan, yaitu keadilan, kasih sayang dan kesetaraan.

Inilah sebenarnya alasan utama kenapa Amerika mau terjun langsung dengan sepenuh tenaga untuk menghalangi suksesnya proyek mujahidin tersebut. Bersamaan dengan dimulainya pemerintahan Islam oleh Ansharu Syari’ah di wilayah-wilayah kekuasaannya, dimulai pulalah kunjungan ketat yang dilakukan oleh Panglima Pusat tentara Amerika dan penasehat Presiden Amerika untuk urusan terorisme. Ditambah lagi dengan pergerakan di dalam negeri yang dilakukan oleh Duta Besar Amerika untuk misi mengendalikan situasi dan mengerahkan segala kemampuan agar pemerintah Yaman tidak tumbang oleh gerakan revolusi dan dampak-dampak yang ditimbulkannya, yang akhirnya melahirkan dukungan atas kesepakatan “Inisiatif Negara-negara Teluk”.

Selama masa transisi kekuasaan di Yaman [dari Ali Abdullah Shalih kepada penggantinya, Abdu Rabbih Manshur Hadi], Amerika mencukupkan diri dengan memanfaatkan tentara Yaman baik dari kubu pendukung revolusi maupun penentang revolusi, untuk membendung perluasan wilayah oleh mujahidin Ansharu Syari’ah. Sementara Amerika sendiri, dengan menggunakan pesawat-pesawat tanpa awak, didukung oleh pesawat-pesawat tempur Yaman dan Arab Saudi bertugas membombardir pusat-pusat vital mujahidin di Waqar, Zinjabar dan wilayah lainnya, sebagai upaya yang terus-menerus untuk menggagalkan upaya apapun yang dilakukan oleh Ansharu Syari’ah untuk mengatur wilayah.

Nah, pada saat Amerika telah berhasil menipu rakyat Yaman dengan mengesankan mendukung revolusi rakyat dan memindahkan kekuasaan kepada wakil presiden [Abdu Rabbih Manshur Hadi]; Mujahidin Ansharu Syari’ah mulai menyadari marabahaya yang mengancamnya. Khususnya setelah diangkatnya presiden baru, Abdu Rabbihi Manshur, yang di awal pidato pelantikannya ia mengatakan akan memerangi organisasi Al-Qaeda tanpa tanggung-tanggung.

Pada saat inilah misi militer berubah dari hanya sekedar menahan serangan dan mempertahankan wilayah, yang telah berjalan selama satu tahun terakhir, dalam perang melawan sebuah aliansi yang jauh lebih unggul dari sisi jumlah personil maupun peralatan perang; kepada misi lainnya yaitu melindungi personal mujahidin, yang mana peperangan tidak akan mungkin dapat berlanjut tanpanya.

Para pimpinan Ansharu Syari’ah memahami kondisi baru ini dengan sangat jelas. Dalam waktu yang relatif cepat, tepatnya pada bulan Februari 2012, mereka telah memutuskan untuk menarik mundur pasukan mujahidin dari wilayah-wilayah yang telah dikuasai.

Maka pada waktu yang bersamaan dengan dilantiknya Abdu Rabbih Manshur Hadi sebagai presiden di Shan’a, komandan militer mujahidin Qasim Ar-Reimi juga menerima perintah untuk melaksanakan tugas penarikan mundur pasukan dan memantau persiapan yang diperlukan untuk misi tersebut. Pada saat itulah dimulai kegiatan yang dibuat berdasarkan perencanaan yang komprehensif untuk mengkondisikan dan menyiapkan apa-apa yang diperlukan untuk program penarikan mundur pasukan yang akan dilakukan.

Di satu sisi, jajaran pimpinan Ansharu Syari’ah memerintahkan untuk meningkatkan operasi-operasi militer di semua tempat di provinsi Hadhramaut, Baidha’, Aden dan lainnya, untuk menyibukkan dan mengecoh musuh, serta memecah perhatian mereka terhadap apa yang terjadi di belakangnya [persiapan penarikan mundur mujahidin].

Sementara di sisi lain tengah berlangsung berbagai kegiatan untuk mempersiapkan segala apa yang diperlukan oleh Ansharu Syari’ah untuk memuluskan dan mengamankan operasi penarikan mundur pasukan. Di antara kegiatan terpenting yang dilakukan untuk tujuan ini adalah menarik simpati para pemimpin dan tokoh kabilah yang, pada masa mendatang, dukungan mereka diperlukan oleh Ansharu Syari’ah. Di antara hal yang paling dikhawatirkan oleh jajaran pimpinan Ansharu Syari’ah adalah mereka akan terisolir di provinsi Abyan. Oleh karena itu, mengambil hati para pemimpin kabilah merupakan perkara yang penting untuk memuluskan jalur masuk-keluar yang melintasi wilayah kabilah-kabilah tersebut dengan perlindungan dari mereka.

Di antara hal yang dilakukan Ansharu Syari’ah untuk misi ini adalah mujahidin meluluskan permohonan para sesepuh kabilah Abyan pada kasus pembebasan para tentara Yaman yang tertawan dalam operasi “Qath’udz Dzanab”, di mana dalam operasi tersebut mujahidin menawan lebih dari 70 orang tentara Yaman. Para tentara Yaman itu dibebaskan sebagai bentuk penghormatan kepada para sesepuh kabilah tersebut.

Sungguh kebijakan ini dan juga kebijakan-kebijakan lainnya yang semacam ini memiliki dampak yang sangat baik dalam mengawali hubungan mujahidin dengan kabilah-kabilah Abyan, khususnya kabilah Ahwar Ali Ba-Kazim dan Al-Maraqisyah — yaitu kabilah-kabilahnya Syaikh Hamzah Az-Zanjabari Jalal Al-Marqasyi, selaku Amir Ansharu Syari’ah wilayah Abyan —. Ini dari sisi pengamanan teritorial.

Adapun dari sisi pengamanan jalan dan jalur, program yang telah dilakukan adalah melakukan observasi semua jalur yang memungkinkan untuk digunakan ketika terjadi blokade yang ketat.

Rahasia di Balik Pertempuran Lauder

Pada saat berlangsungnya persiapan operasi penarikan mundur pasukan mujahidin, diperoleh informasi intelejen secara dini yang mengungkap tentang langkah-langkah umum serangan militer yang tengah dipersiapkan oleh musuh semenjak dilantiknya presiden baru. Langkah yang ditempuh musuh adalah melakukan operasi serangan besar-besaran terhadap Waqar dan Syaqrah dari beberapa penjuru, yang terpenting di antaranya adalah dari arah Lauder.

Oleh karena itu jauh sebelum serangan itu dilaksanakan, Ansharu Syari’ah melakukan serangan preemptive ke markas-markas musuh di Lauder dengan tujuan memancangkan front pertempuran di sana, untuk mencegah musuh menjadikan Lauder sebagai titik tolak. Bahkan di kemudian hari musuh berkesimpulan bahwa usaha mereka sia-sia akibat berbagai serangan sangat sengit yang berlangsung selama dua bulan dan mengakibatkan mereka menderita kerugian yang sangat parah.

Sungguh serangan terhadap Lauder ini, atas karunia Allah semata, membuahkan berbagai manfaat lainnya seperti menguasai pos-pos dua batalyon tentara pemerintah, termasuk semua peralatan dan persenjataannya. Juga sebagai pelajaran bagi milisi-milisi bayaran Komite Rakyat di sana. Mereka telah mendapatkan pelajaran yang sangat pahit, sampai-sampai masyarakat mengatakan: “Kami tidak akan membentuk Komite-komiter Rakyat lagi supaya mereka [mujahidin] tidak lagi datang pada malam hari yang gelap, sebagaimana yang dialami oleh penduduk Lauder.”

Intinya, serangan terhadap Lauder ini bukan bertujuan untuk menguasai wilayah, melainkan tidak lebih dari menyibukkan dan mencegah musuh untuk menyerang dari arah sana. Oleh karena itu Ansharu Syari’ah hanya mencukupkan diri dengan serangan-serangan kecil menggunakan mortir untuk mengukuhkan front di sana, kemudian mundur dari berbagai penjuru Lauder di daerah Al-‘Ain ke belakang hanya sejauh kira-kira 15 km sampai daerah Al-‘Arqub, yang merupakan daerah yang sangat terlindungi. Mujahidin mempergunakan wilayah itu untuk menarik mundur pasukan ke sana dengan semua peralatan perang dan persenjataan mereka, tanpa meninggalkan walau sebatang paku pun.

Oleh karena itu musuh tidak berani bergerak ke sana kecuali setelah waktu yang lama, lantaran mereka sangat ketakutan akan terulangnya kenangan buruk mereka di berbagai pertempuran Lauder.

Permulaan Serangan Militer

Pada periode ini peperangan telah berkecamuk di sekitar Waqar dan Zinjabar. Tentara Yaman telah mengkonsentrasikan lebih dari 25 ribu personal pasukannya di sekitar wilayah peperangan, dengan didukung sejumlah milisi bayaran Komiter Rakyat dan serangan pesawat tempur Arab Saudi; juga dengan sokongan rudal-rudal dari kapal-kapal induk Amerika, Prancis dan Inggris yang ditempatkan di Teluk Aden, serta dengan pantauan yang ketat dari pesawat-pesawat tanpa awak milik Amerika, yang mana untuk itu telah disiapkan dua pangkalan di negara-negara tetangga untuk mengendalikan pemantauan dari sana.

Serangan ini memiliki keistimewaan dari sisi pengerahan tenaga ahli kemiliteran di Yaman seperti Mayor Jendral Salim Qathan. Juga memiliki keistimewaan dengan keikutsertaan langsung tentara dan tenaga ahli dari Amerika dalam pengarahan operasi rudal dan dalam perencanaan operasi militer secara umum. Belum lagi serangan media massa yang memekakkan telinga, yang bekerja untuk mencerai-beraikan kekompakan mujahidin Ansharu Syari’ah dengan cara menebarkan berita-berita bohong tentang jumlah orang yang terbunuh, jatuhnya beberapa kota dan daerah. Juga serangan-serangan lainnya yang bertujuan untuk menjatuhkan mental Ansharu yari’ah seperti membombardir secara terus-menerus masyarakat sipil setiap hari.

Namun demikian mujahidin Ansharu Syari’ah tetap dapat mempertahankan markas-markas mereka dan tidak bergeser sedikit pun dari markas-markas tersebut. Dengan begitu mereka telah menunjukkan keteguhan hati mereka dan ketangkasan mereka yang sangat tinggi dalam menangkis serangan-serangan militer terhadap front-front mereka, yang kemudian mereka usir dengan keras.

Adapun jalan Lauder – Al-Wadhi’ – Ahwar, oleh mujahidin dibiarkan terbuka dengan bekerjasama dengan kabilah-kabilah Al-Marqasy, sambil menyiapkan titik-titik penyergapan mematikan di sejumlah tempat. Sementara itu musuh terlalu pengecut untuk masuk melalui jalan tersebut. Oleh karena itu Menteri Pertahanan Yaman berusaha menggerakkan sejumlah tentaranya yang berasal dari kabilah Ali Al Marim daerah Al-Wadhi’ — yang merupakan kabilah Presiden Abdu Rabbihi Manshur —  dengan cara memaksa mereka untuk bergerak dan diancam untuk dipecat jika mereka menolak. Mereka pun bergerak sehingga mereka terjebak dalam perangkap penyergapan dan akhirnya mereka pun melarikan diri.

Peristiwa ini mengakibatkan renggangnya hubungan antara kabilah Al-Marqasy dengan kabilah Ali Al-Marim, karena kabilah Al-Marqasy mengecam kabilah Ali Al-Marim yang telah berani memasuki wilayah mereka. Sikap ini merupakan salah satu sikap baik yang dilakukan oleh kabilah Al-Marqasy. Dan hal ini membuktikan akan pentingnya menarik simpati masyarakat kabilah dan pentingnya dukungan mereka.

Sementara itu front utama dalam peperangan ini adalah arah menuju distrik Waqar, tepatnya adalah di front Al-Harur yang merupakan wilayah terbuka dan sulit untuk dibuat garis pertahanan di sana. Lain halnya dengan Zinjabar, di sana garis pertahanan sangatlah kokoh sesuai dengan kondisi wilayahnya yang memungkinkan pembangunan beberapa pos, halang-rintang, perlindungan dan lain-lain di beberapa celah lainnya. Saya bisa katakan bahwa susunan halang rintang tersebut, atas izin Allah, telah memperkokoh garis pertahanan Zinjabar dan membendung pergerakan kendaraan tempur dan tank secara maksimal.

Adapun Al-Harur adalah daerah terbuka dan berpasir rata yang tidak memiliki kawasan terjal. Sementara itu musuh di sana menggunakan taktik pencerai-beraian. Mereka membentuk satu unit tempur yang terdiri dari tank, mortar, kendaraan lapis baja dan sejumlah pasukan tempur. Oleh karena itu mujahidin terpaksa membentuk formasi tempur serupa untuk menghadapi mereka agar dapat memperkokoh garis pertahanan. Kemudian musuh pada tiap jarak 200 meter menempatkan satu unit pasukan yang berkomposisi sama yaitu tank, mortar dan kendaraan lapis baja. Mujahidin Ansharu Syari’ah pun mengulang taktik yang sama sehingga sangat menguras kekuatan personal mujahidin, padahal qiyadah mujahidin tidak menghendaki pengerahan personal dalam jumlah yang besar untuk memperkokoh garis pertahanan supaya pasukan tidak terjepit pada saat pasukan bergerak mundur. Tidak diragukan lagi bahwa kondisi semacam ini penuh dengan marabahaya, tidak sebagaimana halnya dengan front Zinjabar yang susunan halang rintangnya dapat menutup semua celah pada garis pertahanan di sana.

Secara umum panjang garis pertempuran dari Zinjabar sampai Al-Harur kira-kira tidak lebih dari 25 KM. Maka zona perang di Waqar dan Zinjabar adalah sempit sehingga hal ini memperkecil peluang dan jalur untuk bergerak maju bagi musuh.

Pada saat yang sama, media Ansharu Syari’ah [sesuai dengan yang telah direncanakan] memfokuskan usahanya agar musuh memiliki kesan bahwa Ansharu Syari’ah akan mati-matian dalam peperangan kali ini. Mungkin semua pihak dapat menyaksikan hal ini di hari-hari terakhir menjelang penarikan mundur, seperti cuplikan-cuplikan yang dipublikasikan melalui “kantor berita Al-Madad” [kantor berita Ansharu Syari’ah] yang menampilkan berbagai ghanimah [harta rampasan perang] dan beberapa kalimat penyemangat. Demikian pula wawancara Hamzah Az-Zinjabari — amir mujahidin provinsi Abyan — dengan wartawan Abdur Razzaq Al-Jamal di gedung gubernur Zinjabar, yang dilakukan untuk membantah media resmi yang mengklaim telah menguasai Zinjabar.

Semua pesan media ini merupakan bagian dari strategi untuk mengelabuhi musuh yang telah dicanangkan secara cermat untuk memuluskan rencana penarikan mundur pasukan dalam kondisi yang sangat sulit seperti ini.

Dengan demikian nampaklah bagi kita kemiripan yang sangat besar antara tak tik ini dengan apa yang dilakukan oleh Khalid bin Al Walid sebelum melakukan penarikan mundur pasukan pada perang Mu’tah.

Pelaksanaan Penarikan Mundur Pasukan

Pada hari Selasa, 22 Rajab 1434 H, qiyadah Ansharu Syari’ah mengeluarkan perintah kepada seluruh unit tempur mujahidin di Zinjabar dan Waqar untuk bergerak mundur secara total. Waktu pelaksanaan perintah ini adalah tepat pada jam 03.00 dini hari. Sandi penarikan mundur pasukan yang hanya diketahui oleh sebagian kecil jajaran qiyadah itu berbunyi “Abdul Hafizh Sa’id” [secara harfiah: hamba Allah Yang Maha Menjaga hidup bahagia]. Sandi tersebut mengandung unsur sugesti yang baik.

Dengan perlindungan Allah dan bimbingan-Nya semata, perintah itu pun dapat dilaksanakan dengan sukses tanpa terjadi sedikit pun kesalahan maupun keterlambatan dari waktu penarikan mundur semua unit tempur dan semua unit pemerintahan di dalam kota.

Semua kesatuan tersebut berhasil ditarik dari pusat-pusat pertempuran di Waqar, Al- Harur dan Zinjabar tanpa ada seorang pun yang hilang dan tanpa disadari sedikit pun oleh musuh mengenai apa yang tengah terjadi. Pada hari itu tidaklah matahari terbit kecuali seluruh mujahidin Ansharu Syari’ah telah mundur dan sampai di wilayah Syaqrah.

Juga seluruh persenjataan berat selain tank, atas karunia Allah, telah berhasil ditarik. Mujahidin Ansharu Syari’ah meninggalkan tank dan tidak meledakkannya supaya hal itu tidak menarik perhatian musuh kepada Zinjabar. Ketika itu mujahidin bisa saja memasang bom-bom waktu dalam tank-tank tersebut dan meledakkannya setelah selesainya penarikan mundur pasukan. Namun Mujahidin Ansharu Syari’ah khawatir ledakan itu akan mengenai masyarakat, sehingga hal itu tidak dilakukan mujahidin.

Setelah penarikan mundur pasukan, segera dilakukan pembagian mujahidin dalam ratusan regu perang yang jumlahnya terbatas dan disebar di seluruh daerah dan provinsi Yaman. Hal itu dilakukan hanya beberapa hari saja setelah penarikan mundur pasukan. Dalam hal ini qiyadah mujahidin berusaha keras agar tidak terjadi konsentrasi pasukan di satu titik tertentu, supaya tidak menjadi sasaran empuk bagi pesawat-pesawat musuh.

Akan tetapi reaksi tentara musuh yang sangat besar untuk menekan front Al-‘Arqub di Syaqrah dan Hisan dari arah Zinjabar mengakibatkan jatuhnya sejumlah korban tewas. Hal itu memaksa Mujahidin Ansharu Syari’ah untuk mundur ke Mahfad.

Akibat kondisi darurat ini terjadilah konsentrasi mujahidin dalam jumlah yang sangat besar di salah satu lembah, lalu datang pesawat Amerika dan menggunakan kesempatan ini untuk mengintai dan kemudian menghamburkan seluruh rudal dan roketnya. Pesawat Amerika membombardir setiap sepuluh menit. Akan tetapi atas karunia Allah Yang Maha Melindungi, tidak seorang mujahid pun yang terbunuh, dan dengan demikian berakhirlah semua episode penarikan pasukan dengan sukses. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.

Namun beberapa hari setelah penarikan mundur pasukan dari Waqar, sebagai langkah preventif dan atas karunia Allah semata, telah berhasil dilakukan pembunuhan terhadap kepala brigade militer Salim Qathan. Banyak orang yang tidak tahu siapa sebenarnya orang ini. Mereka menyangka bahwa dia ini hanyalah seorang komandan militer di wilayah Yaman selatan. Padahal orang ini bahaya dan perannya jauh lebih besar dari hanya sekedar seorang komandan militer wilayah Yaman selatan.

Salim Qathan adalah jajaran orang militer kualitas satu. Dia termasuk kelompok yang membelot dari kelompok sosialis dan bergabung dengan Presiden Ali Abdullah Shalih. Dia memiliki pengaruh yang luas di kalangan pemerintahan maupun persukuan. Jabatannya sebagai komandan militer wilayah Yaman selatan itu tidaklah ada apa-apanya bagi dia jika dibandingkan dengan pengaruhnya yang sangat mengakar di masyarakat Yaman. Dia adalah orang yang cerdas, pemberani dan memiliki kepribadian kuat. Pendidikan akademinya ia tempuh di Rusia dan dia juga memiliki pengalaman lapangan yang cukup baik.

Pihak yang sangat terpukul oleh terbunuhnya Salim Qathan ini adalah Presiden Abdu Rabbih Manshur yang mempromosikannya kepada Amerika sebagai calon pengganti Ahmad Ali untuk memimpin Garda Republik dalam struktur organisasi Tentara Nasional Yaman.

Berhubung Salim Qathan berasal dari kabilah Yaman selatan dan persukuan, dan ia berasal dari kabilah Al-‘Awaliq yang merupakan kabilah terbesar di provinsi Syabwah, dan oleh karena ia memiliki sifat-sifat licik nan keji, maka ia memiliki pengaruh yang besar di masyarakat persukuan Al-‘Awaliq. Dengan demikian kematiannya dapat membendung kejahatan orang-orang jahat di suku-suku Syabwah secara umum dan suku-suku Abyan. Segala puji bagi Allah Yang telah memuluskan operasi pembunuhan tersebut. Karena kalau tidak, tentu ia akan menjadi duri yang menyangkut di tenggorokan mujahidin di provinsi Syabwah dan Abyan.

Peristiwa tewasnya Qathan ini bersamaan dengan sebuah penyergapan yang dilakukan oleh mujahidin terhadap sebuah pasukan penyerang yang tengah bergerak dari ‘Itiq menuju ‘Azan berkekuatan sekitar 12 tank, 25 panser dan sejumlah truk pengangkut personal tentara dan peralatan perang. Akibat penyergapan tersebut, iring-iringan tersebut terpaksa lari terbirit-birit dan kembali ke tempat asalnya. Berdasarkan pemberitaan media massa, penyergapan tersebut telah menewaskan seorang kepala kepolisian pusat ‘Itiq, ibu kota provinsi Syabwah dan juga menewaskan sejumlah tentara.

Waktu yang bersamaan antara penyergapan di Syabwah dan pembunuhan terhadap Qathan di ‘Aden ini telah memberikan kekuatan dan kewibawaan bagi mujahidin di Syabwah, sekalipun mujahidin telah menarik mundur pasukan dari markasnya di ‘Azan. Sampai-sampai kabilah ‘Awaliq yang merupakan kabilah terbesar di Syabwah harus meminta izin kepada Amir Ansharu Syari’ah di Syabwah, yang juga berasal dari kabilah yang sama, untuk mengubur Salim Qathan di lembah Sha’id yang merupakan tanah kelahirannya.

Operasi yang terakhir ini, yakni pembunuhan terhadap Salim Qathan dan penyergapan terhadap pasukan penyerang yang hendak melakukan campur tangan di daerah-daerah pedalaman, telah menjadikan mujahidin menuntaskan prosedur-prosedur pengamanan paska penarikan mundur pasukan.”

Selanjutnya pada penutupan artikel tersebut, Syaikh Abdullah bin Muhammad menulis:

“Satu setengah tahun yang lalu, kami hanyalah kumpulan beberapa ratus mujahid yang menjadi buronan dan tidak memiliki program strategis ataupun identitas yang dapat dikenal oleh masyarakat selain apa yang diberitakan di media massa yang dikendalikan oleh Ali Abdullah Shalih.”

“Namun kini jumlah kami lebih banyak dan kekuatan kami lebih besar. Hal yang penting adalah kami telah mendapatkan dukungan masyarakat yang tidak dapat dibeli dengan riyal maupun dirham.”

“Hal yang lebih penting lagi adalah kami telah menjelma menjadi sebuah gerakan masyarakat yang telah melihat dan merasakan sendiri secara langsung sebuah proyek Islami yang utuh dalam sebuah administrasi pemerintahan. Pada saat ini ia bisa membandingkannnya dengan kondisi menyedihkan yang dialaminya kembali. Ia akan senantiasa menantikan kembalinya suasana tersebut, di mana mereka dapat hidup kembali sesuai dengan apa yang mereka angankan. Hal itu sebagaimana penduduk Syam menantikan kembalinya generasi sahabat kepada mereka.”

‘Kemenangan’ yang dirasakan oleh hati, dan kepuasan baru terhadap pengalaman yang unik tersebut adalah termasuk nilai kemenangan yang terselubung dalam kepulan debu kuda kaum muslimin pada perang Mu’tah yang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam sendiri disebut sebagai sebuah ‘kemenangan’. Juga nilai kemenangan yang terselubung dalam peristiwa perjanjian damai Hudaibiyah, yang oleh Allah sendiri disebut dalam kitah-Nya sebagai fathan mubina, kemenangan yang nyata.” (Sumber: Abdullah bin Muhammad, Muhakamah Anshar Syari’ah, 21 Ramadhan 1433 H)

 

 

Tinggalkan Balasan