Napak Tilas Rihlah Jihad Sofyan Ats-Tsaury (Menanggapi Tuduhan Dusta Habib Riziq Syihab)

 

Muqawamah.net – Sofyan Ats-Tsauri demikianlah namanya, beliau hanyalah seorang manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan dan kelemahan. Beliau juga seorang Muslim yang tidak lepas dari hak-hak beliau yang wajib dipenuhi oleh Muslim yang lain.

Dan sebagai seorang Muslim, beliau terus berusaha untuk menjalankan kewajibannya untuk senantiasa menjalankan perintah Allah semampunya, senantiasa bertaubat kepada-Nya dan senantiasa mencari kebenaran dan menuntut ilmu-ilmu yang mengarahkan kepada kebenaran sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Namun, Sofyan Ats-Tsauri–sekali lagi–hanyalah seorang manusia yang menjalani takdir hidupnya. Masa kecilnya ia menjadi santri di pesantren milik Nahdhatul Ulama di Jawa Timur, dia pun sempat mengikuti halaqah-halaqah taklim sebuah kelompok pengajian di Jakarta dan sebagaimana yang diketahui banyak orang, ia pernah menjadi seorang Polisi.

P..O..L..I..S..I, kata inilah yang membuat alergi hampir seluruh elemen masyarakat di Indonesia. Bukan hanya karena polisi dibenci oleh semua lapisan masyarakat (karena seringkali mempertontonkan arogansinya, mulai dari tingkat polisi lalu lintas, hingga polisi anti teror seperti Densus 88), tetapi polisi juga menjadi sesuatu yang paling dibenci dan membuat alergi semua elemen jihadiyah di Indonesia bahkan hampir di seluruh belahan dunia.

Akan tetapi, apa yang salah dengan MANTAN polisi? Apa yang salah dengan kata mantan? Bukankah mantan polisi masih lebih baik jika dibanding mantan Mujahid? Demikian juga, apa perbedaan antara Sofyan Ats-Tsauri yang mantan polisi dengan Yuli Karsono rahimahullah yang mantan TNI, jika keduanya adalah sama-sama terlibat dalam Jihad Aceh? Apakah karena Yuli Karsono rahimahullah sudah meninggal dan Sofyan Ats-Tsauri masih hidup? Siapa yang telah mematok syarat taubatnya seorang polisi adalah kematian? Apakah ini syarat dari Syariat Islam ataukah syarat yang dibuat oleh sebuah negara yang ingin membunuh orang yang di cap sebagai pengkhianat negara (karena dipecat dengan tidak hormat) dengan meminjam tangan kaum ahlul ghullat (ekstrimis)?

Jika demikian, bagaimana dengan syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani hafidzhahullah (seorang tokoh strategis dan jajaran pimpinan Al-Qaidah Syam / Jabhah Nushrah yang paling diincar oleh Abu Bakar Al-Baghdadi Al-Khariji)? Bukankah beliau adalah mantan polisi? Dan dalam kesaksian syaikh Abu Firas As-Suri, bukankah Abu Bakar Al-Baghdadi al-Khariji telah bersumpah untuk memburu syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani karena beliau adalah mantan polisi?  

Dan yang lebih lucu lagi, mengapa perkataan seseorang yang sangat jelas indikasi ke-Syi'ah-annya semacam Habib Riziq (walau saya membenarkan sikap habib riziq yang mengklasifikasikan tentang syiah, Karena kesesuaiannya dengan pendapat salaf dan Syaikhul islam Ibnu Taymiyah yang tidak mengkafirkan syiah secara keseluruhan dan Ta’yin (perindividunya),  untuk itu dalam banyak perdebatan saya mendukung sikap habib, demikian saya juga membantah orang yang mengkonsekwensikan pendapat ini dengan berarti syiah ( lihat tulisan saya tentang bil ma’al atau lazimul qaul dan lazimul madzhab), justru menjadi bahan bagi para pendukung Daulah Baghdadiyah dan orang-orang "netral" yang mulai terbukti keberpihakannya kepada ahlul ghullat untuk menyesatkan orang-orang baru di jalan jihad yang senantiasa bermunculan, dengan menjual isu-isu murahan bahwa Sofyan Ats-Tsauri adalah seorang agen intelijen?

Berikut ini adalah sebuah tulisan dari seorang Sofyan Ats-Tsauri, bukan sebagai sebuah ajang pembelaan, tetapi hanya sekadar mendudukkan masalah. Benar apa yang dikatakannya, "Musuh Muqawamah Media itu banyak, rezim yang berkuasa, kaum Khawarij, orang-orang Syiah dan Mukmin Pendengki."

Selamat menyimak!

 


 

NAPAK TILAS RIHLAH JIHADKU

Oleh : Sofyan Ats-Tsauri

Setelah keluar dari dinas kepolisian, pada tahun 2008 bulan Agustus, saya mengadakan kontak dengan Akh Yudi dan sekaligus pulang kampung untuk mengunjungi mertua saya di Aceh yang memang asli orang Aceh di  Pidie. Setelah bertemu di Aceh, saat itu saya dan Akh Yudi sepakat untuk mengadakan program Dakwah di Aceh.

Tepatnya pada awal tahun 2009, saya diminta oleh Akh Cepi (Solo) agar bersama ustadz Shibghah (Magetan) kembali ke Aceh untuk menjajaki program Dakwah yang ingin dibangun disana. Saat itu program yang ingin kita kembangkan adalah mencetak kader Ulama dan Umara di Aceh. ‘Ala kulli hal, sesampai di sana ustadz Shibghah menghubungi rekannya melalui email untuk datang ke Aceh, dan rekannya tersebut akhirnya datang tidak lama setelah kami 3 hari berada di Aceh. Di kemudian hari, barulah saya mengetahui bahwa Hamzah tersebut memiliki nama asli Dulmatin, buronan kelas dunia yang dibanderol 10 juta $ (sepuluh juta dolar) atau setara dengan 93 miliar rupiah kurs saat itu.

Kami berkenalan dengannya, orangnya ramah, berwibawa dan familiar dengan kami, setelah datangnya rekan kami ini dari Jakarta, kami bertiga langsung membuat program daurah Syar'iyyah  selama 1 minggu dengan pemateri saya sendiri, ustadz Shibghah dan Akh Hamzah (Dulmatin ) dengan materi sebagai berikut :

1. Ukhuwah bainal Muhajirin wal Anshar. (Pemateri saya sendiri)

2. Fadhilatul Jihad. (Ust Hamzah).

3. Aqidah (Ust. Shibghah)

Setelah selesai Daurah, kami menunjuk Akhi Yudi Zulfahri sebagai Mas'ul (penanggung jawab) ikhwah di Aceh, dengan tugas mengadakan program Dakwah wal Jihad dan mengkoordinir para ikhwah di Aceh, pada saat itu, kegiatan kami berjalan dengan lancar tanpa ada halangan yang berarti.

Munasharah Palestina, FPI Aceh dan Munculnya Tengku Yusuf Qardhawi

Ketika kami tengah sibuk dengan program-program yang kami jalankan di Aceh, terjadilah peristiwa penyerangan Israel kepada Palestina yang menyebabkan keprihatinan di seluruh dunia Islam. Dan khususnya di Aceh, salah satu ormas Islam yang dikenal dengan nama FPI cabang Aceh mengadakan kegiatan "Munasharah Palestina", sebuah kegiatan penggalangan dana sekaligus melakukan perekrutan relawan untuk diberangkatkan ke Palestina dalam rangka Jihad fi Sabilillah, mereka banyak mendirikan pos-pos bantuan dana di kota-kota Aceh dan berhasil menggalang dana dalam jumlah besar yang siap disalurkan ke Palestina. Ketika dana sudah terkumpul ratusan juta mereka mulai mengadakan pelatihan sebagai persiapan ke Palestina yang dilaksanakan di Dayah (pesantren) Darul Mujahidin Lhokseumawe Aceh Utara.

Pada saat itu, Seorang ikhwan Aceh bernama Akh Ahmad menghubungi akhi Yudi dan mengatakan bahwa Ketua FPI Aceh, Tengku Yusuf Qardhawi, meminta kepadanya untuk mencarikan seorang pelatih militer untuk relawan FPI yang akan mengikuti kegiatan pelatihan milliter di Dayah (Pesantren) Darul Mujahidin Aceh Utara. Saat itu juga Akh Yudi langsung mengadakan musyawarah bersama kami. Pada awalnya yang kami usulkan untuk menjadi Pelatih adalah Akh Hamzah (Dulmatin) mengingat beliau adalah seorang alumni Afghanistan dan Moro, namun beliau buru-buru menolak dan mengatakan beliau tidak bisa hadir di acara-acara terbuka seperti itu. Beliau pun menyarankan agar saya yang mengambil posisi tersebut mengingat saya adalah seorang mantan Polisi dan sudah pernah terlibat dalam operasi di Aceh melawan GAM. Atas takdir Allah, saat itu saya menyanggupi dan resmi ditunjuk untuk menjadi pelatih bagi para relawan FPI.

 

Saya ketika memberikan pelatihan militer kepada para relawan FPI Aceh

Pertengahan Januari saya mulai melatih para relawan FPI Aceh selama sekitar 1 pekan lamanya. Peserta pelatihan waktu itu berjumlah sebanyak 100 orang dengan materi dasar kemiliteran seperti Drill Contact, PJD (Pertempuran Jarak Dekat), bela diri, baris-bernaris, Dangran / Penghadangan Kendaraan. Alhamdulillah  dari 100 orang yang mengikuti pelatihan hanya terpilih lebih kurang 17 orang yang diberangkatkan ke Jakarta oleh Ketua FPI, Tengku Yusuf Qardhawi.

Akan tetapi, setibanya mereka di Jakarta ternyata tidak didapati adanya pemberangkatan ke Palestina! Jelas ini adalah penipuan, karena FPI di Aceh yang dipimpin oleh Tengku Yusuf Qardhawi inilah yang banyak berkoar-koar, berkampanye dan menggalang dana dengan berkedok akan mengirimkan pejuangnya di bumi Quds Palestina.

Pada waktu itu, tepatnya jam 21.00 WIB akhir bulan Januari atau Februari saya di telepon oleh Tengku Mukhtar untuk ke Markas FPI di Petamburan guna melaporkan perihal penipuan ini, dan disampaikan kepada saya bahwa 17 orang anak Aceh peserta persiapan militer ke Palestina yang merasa tertipu oleh FPI ini hendak memukuli Tengku Yusuf Qardhawi. Kemarahan mereka ini bisa dipahami, bagaimana tidak? Mereka sangat yakin akan janji-janji FPI untuk diberangkatkan ke bumi jihad Palestina, akan tetapi ternyata FPI pusat tidak ada yang tahu jika ada keberangkatan ke Palestina. Pada saat itu, saya menenangkan teman-teman FPI Aceh peserta pelatihan ini untuk bersabar dan agar jangan terjadi pengeroyokan kepada ketua FPI Aceh ini.

 

Tgk. Yusuf Qardawi (kedua dari kanan) dan Tgk. Muslim Ath-Thahiri (kedua dari kiri) saat mengadakan pelatihan relawan FPI Aceh untuk Palestina yang ternyata hanya sebuah program penipuan

Setelah situasi kembali tenang, saya menawarkan kepada teman-teman dari Aceh ini untuk berkunjung ke rumah saya di Depok. Untuk mengobati kekecewaan mereka dan mengisi waktu kosong mereka selama di Jakarta saat itu saya berinisiatif mengajarkan kepada mereka beberapa materi agama selama 1 bulan dengan makan, minum dan tempat tinggal gratis. Di sela-sela kegiatan ini saya pun mencoba menghubungi seorang kenalan saya yang ada di Mako Brimob, yaitu Ahmad Sutrisno, seorang sipil rekanan Polri yang memiliki akses yang luas di Mako Brimob Kelapa Dua, untuk membantu saya mengadakan Pelatihan menembak di Mako Brimob untuk para relawan FPI yang sedang bersama saya. Saat itu alasan yang saya kemukakan mereka ini adalah para Satpam yang sedang mengikuti pelatihan. Ahmad Sutrisno pun menyanggupi permintaan saya karena dia pikir saya masih aktif sebagai anggota Polres Depok.

Awal Timbulnya Fitnah

Ada kejadian menarik yang nantinya menjadi cikal bakal fitnah, yaitu istri saya lupa meletakkan surat PTDH (surat Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) dari Polres Depok tentang perihal pemecatan saya dari anggota POLRI. Semua ini adalah semata-mata karena takdir Allah, dan ini semua waAllahi bukanlah rekayasa atau di buat-buat dan saya bersaksi di hadapan Allah tentang masalah ini. Surat PTDH beserta lampiran-lampirannya tersebut atas takdir Allah belum sempat disingkirkan dari ruang tamu yang akhirnya di baca oleh anak-anak Aceh yang menjadi korban penipuan FPI tersebut.

Kejadian tersebut telah menimbulkan tanda tanya dan keheranan, lalu mereka mengatakan, "Apa betul ustadz dulu seorang polisi?". "Mengapa ustadz bisa di pecat?". Lalu saya jawab, "Iya benar, saya di PTDH karena alasan prinsip." Dalam penjelasan yang saya berikan kepada mereka, saya juga mengatakan kepada mereka untuk tidak usah ragu dengan saya.  Namun jika mereka ragu silahkan pulang meninggalkan saya. Akan tetapi ternyata para ikhwah relawan FPI ini telah percaya (tsiqah)  dan muthma'in  (tenang dan nyaman) dengan saya.

Terkait dengan Tengku Yusuf Qardhawi, saya teringat bahwa suatu hari ketika makan malam disebuah warung mie Aceh dia mengatakan kepada saya bahwa dia punya kenalan seorang kolonel di Aceh yang menaruh perhatian terhadap keberadaan LSM/NGO asing yang mempunyai kepentingan di kawasan Aceh, dalam percakapan tersebut dengan sendirinya Tengku Yusuf Qardhawi ini malah memperlihatkan kedoknya sebagai agen intelijen, hal itu terjadi karena saat itu Yusuf Qardhawi ini  menyangka bahwa saya juga merupakan komunitas intelijen.

Dalam pembicaraan di warung mie Aceh tersebut, Tengku Yusuf Qardhawi yang notabene merupakan Ketua Umum FPI wilayah Aceh ini mengajak saya (Sofyan) untuk berkerja sama menyerang NGO asing yang saat itu ada di aceh, dengan alasan Kristenisasi dan bermain mata dengan GAM. Dari irisan inilah FPI Aceh yang saya yakin telah disusupi ini, mengajak kerja sama dengan kelompok saya di Aceh. Saya mencurigai dia (Yusuf) sebagai agen yang menggalang orang FPI guna kepentingan operasi mereka.

Hal lain yang mendukung keyakinan saya bahwa ia anggota dari komunitas intelijen adalah dalam peristiwa diketahuinya surat PTDH (Pemberhentian Tidak Dengan Hormat) yang saya sebutkan di atas, ia terlihat sangat gelisah. Masalah tentang Tengku Yusuf Qardhawi ini sempat saya diskusikan dengan akh Yudi Zulfahri. Saya (Sofyan) bertiga dengan Ustadz Dulmatin dan akh Yudi yakin bahwa Yusuf Qardhawi ini adalah agen yang suatu saat nanti akan kita buat perhitungan. Dari sini saya mulai berhati-hati dengan makhluk satu ini, termasuk hubungan dengan anak-anak FPI Aceh di Aceh.

Agenda Dakwah Di Aceh

Kembali kepada kegiatan kami sendiri bersama ustadz Dulmatin, ustadz Sibghah dan akhi Yudi…

Setelah selesainya Daurah Islamiyah di Aceh dan pelatihan tadrib asykari untuk para relawan FPI, kami dan ikhwah-ikhwah Aceh melihat Aceh sebagai tempat yang sangat potensial untuk merekrut kader jihad dan kami benar-benar takjub dengan kesungguhan masyarakat Aceh untuk berjihad menegakan syariat Islam. Maka kami yakin Aceh adalah titik tolak perjuangan Islam di bumi Nusantara, ada berbagai macam faktor mengapa kami langsung jatuh cinta dengan Aceh sampai sekarang dan saya akan menyebutkan beberapa di bawah ini.

  1. Letak Geografis yang mendukung karena di Aceh banyak terdapat hutan yang luas dan memungkinkan untuk diadakannya perang Gerilya.
  2. Wilayah Aceh berbatasan langsung dengan perairan internasional yang memudahkan kami untuk escape (mundur) jika terdesak.
  3. Masyarakat Aceh masih anti dengan Indonesia.
  4. Aceh masih cinta dengan Islam.
  5. Kami mudah mencari senjata.

Demikian alasan kami untuk menggarap Aceh secara lebih serius untuk menjadikan sebagai mahjar atau Qoidah Aminah basis Al-Qaeda di Asia Tenggara.

Survei Pertama

Setelah merasa cocok kami pun berencana mengadakan I'dad Tadrib Asykari (Pelatihan Militer) untuk anak-anak Aceh, akan tetapi ternyata Akh Dulmatin akan mempromosikan masalah Tadrib Asykari ini kepada para ikhwah di Jawa. Akhirnya pada bulan Maret, ustadz Dulmatin, ustadz Ubaid dan ustadz Abu Thalut berkunjung ke Aceh untuk melakukan survei tahap pertama.

 

Ustadz Abu Tholut

Saya secara pribadi sebetulnya mempunyai rencana agar rencana Pelatihan Militer di Aceh ini dilakukan oleh para ikhwah Aceh saja dulu. Jika program bersama ikhwah Aceh berhasil, barulah kami melibatkan ikhwah-ikhwah dari tanah Jawa. Akan tetapi saya harus tunduk dengan keputusan para ikhwah mayoritas untuk segera melibatkan ikhwan-ikhwan dari Jawa.

Sebelum membuat program Aceh sebetulnya kami telah memperhatikan beberapa hal yang penting untuk dijawab oleh para ikhwah, diantaranya:

  1. Miftahus Sira' / pemantik konflik, alasan apa yang menjadikan kita mengangkat senjata?
  2. Isu yang akan dijadikan momentum jihad?
  3. Penopang jihad dan target yang ingin dicapai dari semua operasi jihad

Ini semua belum bisa dijawab oleh kebanyakan ikhwah, dan yang terpenting adalah jihad harus terus berlanjut. Singkat cerita kegiatan tadrib asykari akhirnya di matangkan. Untuk itu, pada bulan Mei saya, akhi Mukhtar Khairi, akhi Sonata dan akhi Maulana datang ke Aceh untuk mengadakan survei mencari tempat yang cocok untuk mengadakan pelatihan. Tempat pertama yang kami kunjungi adalah daerah hutan Paya Bakong di Aceh Utara. Akan tetapi tempat ini belum cocok karena masih berdekatan dengan masyarakat dan ternyata di sana berdekatan dengan pos tentara yang berada di pinggir sungai. Akhirnya survei dilanjutkan ke pegunungan Jalin Jantho, dan kami menyepakati tempat tersebut sebagai tempat diadakannya Pelatihan Militer.

Setelah survei di pegunungan Jalin Jantho selesai, selanjutnya pada bulan Juli kami pun mengirimkan Akh Mukhtar Khairi dan Akh Maulana untuk memulai program Pelatihan Militer di pegunungan Jalin Jantho. Rencananya, peserta gelombang pertama pelatihan militer ini adalah ikhwan-ikhwan dari Aceh saja. Akan tetapi hal ini kemudian gagal dilaksanakan karena terjadi ledakan pada tanggal 17 Juli 2009 di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot Jakarta. Demi kehati-hatian, program ini kami batalkan dan kami memutuskan untuk menarik semua ikhwah yang sudah ada di pegunungan Jalin Jantho untuk turun gunung, sementara waktu itu sudah ada sekitar 20 ikhwah yang berada di atas gunung.

Setelah pelatihan militer ini gagal dilaksanakan, pada bulan Oktober 2009 saya bersama asy-Syahid Yuli Karsono (mantan TNI) rahimahullah kembali ke Aceh untuk menjemput Akh Taufik Marzuki, seorang ikhwan bekas relawan FPI Aceh di daerah Padang Tijie kabupaten Pidie, untuk kami ajak ke Jakarta. Namun sesampainya kami di sana, kami dikejutkan oleh adanya amaliyah penembakan orang asing yang dilakukan oleh Akh Ahmad bersama Panglima Laskar FPI Aceh, Tengku Mukhtar. Mereka melakukan amaliyah ini dengan menggunakan senjata yang kita titipkan kepada mereka. Namun demikian ini adalah sebuah operasi yang saya tidak mengetahuinya, tidak pernah memerintahkannya, bahkan tidak merestuinya. Tengku Mukhtar ini selain berposisi sebagai panglima FPI Aceh, dia juga merupakan orang kepercayaan Tengku Muslim Ath-Thahiri, pimpinan Dayah (Pesantren) Darul Mujahidin Lhokseumawe Aceh Utara sekaligus Sekjen FPI Aceh.

Amaliyah ini adalah murni inisiatif dari Tengku Ahmad dan Tengku Mukhtar (FPI) dengan disokong fatwa dan dana dari Tengku Muslim Ath-Thahiri, Sekjen FPI Aceh. Di dalam persidangan kasus ini pada tahun 2010 yang lalu, terungkap dengan jelas bahwa saya sama sekali tidak terlibat dalam amaliyah tersebut. Adapun Sekjen FPI Aceh, Tengku Muslim Ath-Thahiri, lolos dari jeratan hukum karena ditutupi keterlibatannya oleh Tengku Mukhtar.

 

Tgk. Muslim Ath-Thahiri, Sekjen FPI Aceh, penyokong kasus penembakan warga asing di Aceh yang lolos dari jeratan hukum

Karena adanya kejadian penembakan warga asing tersebut, maka saya, Akh Yuli Karsono dan Akh Taufik memutuskan untuk segera meninggalkan Aceh. Keputusan ini kami ambil karena kami khawatir akan terbawa-bawa dalam kasus ini. Ditambah lagi pada saat itu kegiatan kami masih dalam rangka mengumpulkan persenjataan untuk persiapan lanjutan pelaksanaan Pelatihan Militer di Aceh yang tertunda.

Membeli persenjataan untuk Tadrib Aceh

Ustadz Hasan alias Khaidir alias Untung asal Surabaya, beliau merupakan alumni Afghanistan angkatan ke 5 yang syahid (insya Allah) terbunuh oleh Densus 88 di tahun 2011.  Suatu hari, beliau menghubungi saya agar saya menyiapkan amnunisi cal 11mm, 9 mm, cal 5,56 dan cal 7,62 mm, dan mulai memesan senjata laras panjang seperti M16 dan AK 47. Saya menyanggupi permintaan beliau ini karena saya memiliki link untuk mendapatkan barang-barang pesanan tersebut dari Ahmad Sutrisno yang sering mendapatkan akses ke gudang senjata di Cipinang Jakarta Timur.

Ahmad Sutrisno (vonis 10 tahun) adalah nama asli penyuplai utama senjata kegiatan I'dad Pelatihan Militer di Aceh. Dia bukan dari pergerakan apapun, atau dari kelompok pengajian manapun. Dia murni sipil, murni cari makan, dia seorang yang ditakdirkan oleh Allah mendapatkan proyek dari Mabes Polri untuk pengerjaan perawatan senjata, karena biasanya proyek di atas 100 juta haruslah melalui tender. Perusahaan tempat Ahmad Sutrisno berkerja adalah salah satu pemenangnya, dari sana ia mengenal beberapa penjaga gudang senjata logistik Mabes Polri seperti Briptu Tatang Mulyadi (vonis 10 tahun) dan Briptu Abdi Tunggal (vonis 10 tahun).

kiri-kanan : Ahmad Sutrisno, Tatang Mulyadi, dan Abdi Tunggal

Sejatinya, Ahmad Sutrisno, Tatang Mulyadi dan Abdi Tunggal sama sekali tidak mengetahui‎ rencana saya membeli senjata ini. Mereka bersedia menjual senjata kepada saya karena mereka pikir saya masih anggota aktif Polres Depok. Mereka bukan agen intelijen, bukan orang pesanan siapa-siapa, dan saya berani bersumpah dihadapan Allah ta'ala untuk menjamin bahwa mereka bukan bagian permainan skenario intelijen sebagaimana tuduhan jahat rekan-rekan FPI yang menuduh mereka sebagai bagian konspirasi intelijen. Mereka hanya orang-orang yang lemah iman, terdesak oleh kebutuhan ekonomi, dan sekadar mencari tambahan untuk uang belanja. Untuk itulah mereka menjual senjata guna bisa memperoleh tambahan gaji mereka yang pas-pasan.

Disinilah peran saya membujuk Sutrisno untuk bisa membeli dari gudang senjata Cipinang melalui Briptu Tatang dan Briptu Abdi Tunggal. Di   dalam persidangan di akhir tahun 2010 terbukti bahwa saya tidak pernah mengenal  kedua penjaga gudang logistik senjata ini kecuali melalui Ahmad Sutrisno.

Melalui Ahmad Sutrisno inilah sebanyak 28 pucuk senjata dan ratusan magazen serta puluhan ribu peluru kami dapatkan. Memang tidak mudah untuk bisa mendapatkan barang-barang berbahaya tersebut, harus  melalui kesabaran, waktu yang cukup lama dan kepiawaian merayu mereka. Dan proses ini berjalan selama rentang waktu 2 tahun untuk bisa memperoleh semua persenjataan dan amunisi tersebut.

Pemesanan Senjata dan Amunisi

Selama bulan Oktober 2009 sampai dengan Februari 2010 adalah waktu pembelian senjata sebanyak 28 pucuk dengan cara dicicil, yang mana hampir setiap 1 minggu keluar 1 pucuk senjata, dan ini semua sudah tertuang dalam BAP saya. Semua persenjataan saya serahkan kepada Ustadz Dulmatin melalui beberapa anggotanya seperti Yudi Zulfahri (mantan STPDN vonis 9 tahun dan telah bebas), Marko (DPO), Ali (DPO) dan Pak Khidir Untung alias Pak Hasan (mendapatkan syahid pada tahun 2011 ) dan melalui anggota saya seperti Zain (vonis 6 tahun) juga Akh Maulana (tertembak di Cawang).

Sejatinya saya belum mengetahui bahwa pelatihan i'dad Aceh ini akan dimulai lagi, akan tetapi intensitas pembelian senjata yang sering ini, semakin membuat saya yakin bahwa pelatihan akan terjadi dalam waktu dekat, apalagi ketika penyerahan uang 100 juta rupiah di salah satu cafe di Depok oleh Ust. Dulmatin kepada saya. Pada saat itu  beliau menunjuk saya sebagai penangung jawab militer terhadap program I'dad Aceh, entah apa maksud beliau pada saat itu dan penanggung jawab dalam bidang apa saya juga tidak tahu, yang jelas berkonsentrasi sebagai penyuplai senjata adalah tugas baru saya  saat itu.

Ada beberapa faktor yang membuat ustadz Dulmatin memesan senjata kepada saya, hal itu berangkat dari kegagalan beliau ketika melakukan pembelian senjata di Jawa Tengah, beliau bahkan sempat tertipu hingga ratusan juta. Selain itu, beliau juga harus menanggung cost/ biaya tinggi jika harus mendatangkan dari Philipina. Hal inilah yang membuat beliau kemudian membeli dari jalur saya yang saya miliki yaitu melalui Ahmad Sutrisno. Entah mengapa saat itu saya menikmati peran saya di sini, ada semacam kepuasan hati jika bisa membeli barang-barang unik tersebut, hingga saya sama sekali tidak memikirkan dampak  dari barang-barang tersebut di kemudian harinya.

Sekitar akhir Februari 2010 saya, Akh Ayyub dan Akh Taufik berangkat menuju Aceh untuk melihat kesiapan i’dad pelatihan militer. Saat itu saya juga bertanggung jawab terhadap beberapa anak buah saya yang saya sertakan yaitu ikhwah-ikhwah yang pernah saya latih sebelumnya dalam kegiatan Munasharah Palestina. Namun saat itu ada perbedaan pandangan antara saya dan akhi Yudi mengenai kebijakan untuk melibatkan mereka. Hal ini karena standardisasi aqidah mereka yang belum sampai kriteria mujahid pada waktu itu, akan tetapi saya mempunyai pendapat sendiri bahwa mau tidak mau kita akan membutuhkan personel dari Aceh untuk program ini.

Singkat cerita perbedaan tersebut membawa kekecewaan bagi saya atas program pelatihan militer Aceh ini. Perbedaan pendapat saya dengan beberapa ikhwan seperti ustadz Dulmatin dan Akh Yudi Zulfahri dikarenakan adanya keterlibatan kelompok Aman Abdurahman yang dirasakan akan membahayakan program di Aceh, karena menurut saya kita akan terinfiltrasi oleh pemahaman takfiri. Saya kecewa atas sikap keras akhi Yudi yang tidak mau melibatkan anak-anak bekas relaewan FPI dengan alasan standarisasi aqidah mereka belum sebagaimana standar Al-Qaeda. Saya menganggap bahwa hal ini tidak masalah karena kita butuh orang-orang asli Aceh untuk menjalankan program ini. Menurut saya sangat mustahil kita memakai wilayah Aceh sebagai titik tolak untuk bergerak kita, akan tetapi tidak melibatkan orang-orang asli Aceh, ini sangat mustahil.

Akibatnya saya berinisiatif sendiri untuk mengumpulkan sekitar 20 mantan relawan FPI Aceh untuk membuka camp sendiri di daerah Samalanga, Bireun, untuk menunggu komando dan arahan dari ustadz Dulmatin. Persenjataan yang kami miliki di camp tersebut waktu itu 2 pucuk AK 56 lipat, 1 pucuk M16 dan 4 pucuk revolver. Saya yang memimpin sendiri camp militer  yang baru ini.

Awal Mula Terciumnya Kegiatan Kami di Gunung Jalin Jantho

 

Pelatihan Militer di pegunungan Jalin Jantho, Aceh Besar

Ada beberapa hipotesa mengapa kegiatan pelatihan militer di pegunungan Jalin Jantho begitu cepat tercium oleh aparat keamanan, yaitu:

Pertama: Tidak disiplinnya para peserta pelatihan dalam menembak dan membunyikan senjata di atas gunung, yang akhirnya hal tersebut terdengar oleh masyarakat yang kebetulan melewati tempat pelatihan tersebut. Hal ini kami ketahui setelah di dalam persidangan ketika para saksi dihadirkan, kami menemukan bahwa para saksi tersebut ada yang termasuk warga yang melaporkan kegiatan kami di atas gunung.

Kedua:  Akibat laporan agen intelijen bernama Tengku Yusuf Qardhawi kepada aparat keamanan. Pada waktu itu segera setelah saya bertanggung jawab atas kamp militer di Samalanga Bireun, saya menerima ancaman dari Yusuf Qardhawi yang akan melaporkan kegiatan saya ini kepada aparat keamanan. Sebabnya adalah karena saya tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada ulama-ulama Aceh. Logika saya berpikir bahwa Yusuf Qardhawi ini bermasalah. Bagaimana tidak? Jelas tidak mungkin gerakan jihad seperti ini akan minta ijin dulu kepada orang yang tidak akan setuju dengan program ini. Namun dia bersikukuh mengancam akan melaporkan kegiatan ini.

Menjadi semakin jelaslah di mana posisi Tengku Yusuf Qardhawi sebenarnya dan semakin jelas pula jejak berdarah FPI dibalik hancurnya program jihad Aceh. Dari sini saya segera memberi tahu kepada akh Yudi untuk segera melaporkan hal ini kepada ustadz Dulmatin rahimahullah.

Sebagaimana  yang telah disebutkan sebelumnya, Tengku Yusuf Qardhawi ini telah mengancam kegiatan kami sejak bulan April 2009, ancaman surat kaleng dan ancaman SMS ke saya di bulan Februari 2010 dan atas ancaman ini saya sempat ingin mengurungkan program jihad ini, karena bocor kepada orang-orang yang tidak jelas.

Ketiga:  ‎Berubahnya program dan berubahnya peserta kegiatan ini dari kesepakatan awal untuk tidak melibatkan para takfiri (kelompok Aman) dan klasifikasi peserta yang hanya dikhususkan kepada para Mathlubin (DPO), alumni Afghan dan Moro Filipina, karena dengan itu kita tidak membutuhkan pelatihan militer lagi. Akan tetapi, strategi ini berubah, sehingga kita banyak melibatkan orang-orang yang sebetulnya belum saatnya dilibatkan seperti Sunakim alias Afif dan anak-anak baru lainnya.

Keempat: Kesalahan memilih tempat yang tidak aman, jalur yang kita gunakan masih banyak terdapat masyarakat yang berlalu lalang, sehingga warga melaporkan kegiatan kita. Kendala bahasa, karakter masyarakat Aceh yang belum banyak dipahami para ikhwah dari Jawa juga telah membuat banyak kesalahpahaman, sehingga sulit menyatukan visi kecuali mereka diikat dengan commont enemy (adanya musuh bersama).

Uraian di atas adalah penyebab terbongkarnya kegiatan di Aceh menjadi titik tolak pergeseran target jihad di Indonesia yang bermula dari target asing lalu berpindah ke aparat kepolisian dan TNI. Jujur kegiatan kami di Aceh belum sampai menargetkan TNI dan Polri, hal ini terbukti ketika para peserta pelatihan militer melepaskan beberapa orang aparat polisi yang tertangkap oleh para ikhwah di atas gunung Jalin Jantho Aceh Besar.

Catatan Penting

Pertama : Antara Al-Ustadz Abu Bakar Baasyir dan Ketua FPI Habib Riziq Syihab mempunyai perbedaan pemahaman  tentang i'dad. Jika Habib Riziq, sebagaimana pengakuannya mengenai prinsip I'dad menyatakan bahwa I'dadnya adalah dalam rangka  bela negara NKRI, maka ini jelas merupakan perbuatan mukaffirat, karena telah memberikan wala’ (kesetiaan dan pembelaan) kepada negara yang tidak menegakan hukum Islam, hal ini berbeda dengan manhaj dan aqidah yang diyakini oleh ustadz Abu Bakar Baasyir. Al-Ustadz Abu Bakar Baasyir memiliki metode perjuangan yang jelas yakni untuk menegakkan Syariat Islam di bumi Nusantara ini.

Kedua : Ustadz Abu Bakar Baasyir belakangan dipengaruhi oleh para pengikut Aman Abdurrahman. Hal ini terlihat dari buku Tadzkirah beliau yang didalamnya didominasi oleh pemikiran Aman Abdurahman. Bahkan beliau sekarang ini dijadikan Ikon dan terkesan ada manipulasi kepada beliau agar ikut berbaiat kepada ISIS. Informasi utuh mengenai ISIS tidak sampai kepada Al-Ustadz Abu Bakar Baasyir. Terbukti bahwa beliau tidak mengenal siapa itu Al-Adnani (si tokoh pemfitnah yang tidak dikenal oleh para Mujahidin senior), Abu Ali Al Anbari dan Hajji Bakar yang merupakan jendral-jendral Sosialis Ba'ats yang menunggangi "Daulah" hari ini.

Ketiga : I'dad Aceh adalah aliansi besar, yang banyak melibatkan banyak faksi jihad. Sedangkan saya (Sofyan) hanyalah faksi kecil yang diberikan tugas untuk mengurusi masalah persenjataan. Adapun masalah ustadz Dulmatin dan kebijaksanaan beliau untuk Ustadz Abu Bakar Baasyir dan beberapa ikhwah di Jawa maka itu adalah pekerjaan beliau tanpa keterlibatan saya.

Keempat : Terdapat tuduhan keji yang menganggap saya sebagai agen intelijen, berdasarkan apa yang saya lakukan selama menjalankan bisnis jual beli Air Softgun dan ketika mengelola klub Perbakin sebelum saya tertangkap, yakni seputar acara latihan menembak di Mako Brimob. Padahal kegiatan ini adalah latihan per triwulan yang sering di adakan club Perbakin yang sering saya kelola. Ketika anak-anak Aceh para relawan FPI Aceh berada di Jakarta, dari sekitar 10 orang, hanya ada 3 orang saja dari mereka saja yang saya ajak ke acara rutin per triwulan ini. Acara ini sejatinya adalah kegiatan rutin club menembak dari airsoftgun yang saya kelola, pesertanya dari berbagai kalangan di antaranya Satpam Bank Mandiri waktu itu, dan pelatihan itu di ikuti oleh 10 orang Satpam. Saya menitipkan 3 orang ikhwan Aceh ini untuk bisa mencoba dan mencicipi menembak dengan senjata api, karena biaya sewa senpi laras pendek 100 ribu dan senjata laras panjang 300 ribu, dan harga sebuah peluru 5000 per butir.

Bagi saya kegiatan seperti ini sudah rutin diadakan karena terbukti bukan hanya saya dan konsumen saya yang main di sana, akan tetapi ada cukup banyak pengusaha dan club-club menembak yang ikut latihan menembak ini. Dan hal seperti sudah biasa dilakukan oleh banyak pemilik club menembak, maka tidak ada salahnya saya mengajak 3 orang dari 10 anak-anak Aceh ini. Mereka saya ajak olahraga yang mempunyai nilai sunnah nabi shalallahu alaihi wassalam ini bukan dalam rangka tadrib, tapi dalam rangka olahraga murni.

Adapun pihak Brimob sendiri sudah biasa menggunakan acara-acara tersebut guna mendekatkan diri kepada masyarakat dan sekaligus sebagai tempat lembaga pendidikan dan pelatihan bagi para Satpam di bank-bank yang berada di Jakarta.

Ketika kami menggunakan tempat itu, maka itu adalah murni untuk bisnis semata, dan tidak ada maksud apa-apa ketika mengajak rekan-rekan dari Aceh ini yang bernama :

  1. Akhi Azwar alias Abu Mus'ab.
  2. Akhi Mukhlish dan;
  3. Akhi Ibrahim, dan saya tidak mengajak siapa-siapa selain mereka.

Untuk mendukung kegiatan ini saya pun membelikan mereka sepatu, baju satpam dan topi satpam bank pada saat itu. Maka sangat lucu jika menjadikan event olahraga ini sebagai latihan tadrib Askari di Mako Brimob Kelapa Dua. Secara logika kita bisa memahami, Bagaimana mungkin saya mengadakan latihan militer di sarang polisi? Ini jelas tidak mungkin dan saya yakin hal-hal semacam ini tidak mungkin diadakan di lapangan Mako Brimob, kecuali memang acara resmi untuk club menembak seperti yang saya kelola ini.

 

Galeri foto kegiatan latihan menembak oleh masyarakat sipil di Mako Brimob, bukti nyata kebodohan tuduhan dusta Habib Riziq Syihab

Sebetulnya acara ini tidak terekspos jika saja salah satu peserta menembak, yakni akhi Azwar atau Abu Mush'ab ini tidak bernyanyi kepada polisi. Dengan kata lain justru latihan ini yang membongkar adalah dari kepolisian penyidik Densus. Jadi logikanya mana mungkin dia akan mengungkap ini jika pelatihan merupakan bagian dari konspirasi polisi, dan tidak mungkin.

Bagi mereka yang menuduh bahwa latihan di lapangan Brimob ini adalah pelatihan militer, maka saya katakan mereka telah berdusta, dan mereka tidak pernah tabayyun ke saya langsung. Jika memang hal-hal seperti ini kurang jelas, silahkan bertanya kepada akhi Sutowijoyo dari DDII dan akhi Eko Ibrahim staff bank Mandiri di Jakarta selatan. Tuduhan ini adalah tuduhan dusta, khianat dan tajassus kepada kehormatan seorang Muslim. Ini adalah sebuah fitnah besar, mereka telah menuduh berdasarkan asumsi dan qola wa qila/ desas desus murahan, semoga Allah ta'ala membalas tuduhan keji yang dilemparkan kepada saya ini, dan fitnahan ini dengan kehinaan penuduhnya, maka takutlah wahai kaum atas fitnahan kepada suatu kaum, Anda akan ditanya atas tuduhan keji ini, apa yang kalian lakukan akan dimintai pertanggung jawabkan dihadapan Allah.

Kelima : Tuduhan bahwa saya (Sofyan ) sebagai agen intelijen sudah diklarifikasi oleh para Mujahidin yang tertawan di dalam penjara dan semua ini adalah fitnah yang telah terbukti kedustaannya. Dan sudah ada rekonsiliasi terhadapnya.

Keenam : Saya selama ini belum menarik tantangan mubahalah saya kepada Habib Riziq jika dia merasa yakin bahwa saya terlibat  konspirasi dalam jihad Aceh. Padahal selama ini saya selalu bersabar atas tuduhan-tuduhan ini, dan Habib Riziq pura-pura lupa bahwa FPI juga didirikan oleh para Jendral seperti Letjen Nugroho Djayusman dan Mayjen Syafrei Syamsudin. Dan semua pihak tentunya tidak akan lupa bahwa gerakan FPI didirikan untuk respon kegagalan Pamswakarsa di tahun 1999 dan menjadi kelompok penyeimbang bagi gerakan-gerakan kiri yang terindikasi Komunis seperti Forkot dan Jarkot.

Mereka lupa bahwa sebetulnya di FPI juga banyak infiltrasi seperti Tengku Yusuf Qardhawi yang pengkhianatannya telah mengakibatkan syahidnya para komandan kami, untuk itu kami berdoa kepada Allah agar membinasakan manusia pengkhianat ini.

Adapun saya atas tuduhan ini merasa terganggu dan berfikir untuk menggugat balik atas tuduhan saya dengan cara-cara khianat dan keji. Tuduhan tersebut telah menggiring opini saya sebagai seorang pengkhianat, tajassus yang berkonsekwensi jatuhnya martabat saya sebagai da'i, pengajar dan berkonsekwensi halalnya darah dan harta saya oleh orang-orang yang tersesat akibat opini Habib Riziq yang keji lagi jahat ini.

Untuk itu saya menasehati Habib Riziq untuk bertaubat kepada Allah ta'ala, karena tuduhan keji dan dusta adalah dosa besar yang tidak terampuni kecuali dengan meminta maaf kepada korban yang difitnah, takutlah kepada terabaikannya hak-hak anak Adam.

Habib Riziq Syihab, saat menjadi saksi di sidang PK Ust. Abu Bakar Baasyir dan memberikan tuduhan dusta terhadap saya

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain”. (Qs. Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus. Tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau keburukan atau aib orang lain, yang biasanya merupakan kesan dari prasangka yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, kerana prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari keburukan orang lain, saling inti-mengintip, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (Riwayat  Al-Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563 )

Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata : “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik”.

Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surah Al-Hujurat.

Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu”.  (Tahdzib At-Tahdzib)

Disebutkan bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut”.  [kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) ]

Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan keburukan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi?” Aku menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind , Hind (India) atau Turki?” Aku juga menjawab, “Tidak”. Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selamat dari keburukanmu sementara saudaramu yang Muslim tidak selamat dari keburukanmu?” Setelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu” (Bidayah wa Nihayah, Ibnu Kathir (XIII/121))

Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata: “Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan keburukan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan keburukan dirinya sendiri dan melupakan keburukan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa gelisah. Setiap kali dia melihat keburukan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat keburukan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan keburukan orang lain dan melupakan keburukannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan keburukan dirinya”.[Raudhah Al-‘Uqala (hal.131)]

Beliau juga berkata : “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita”.[Raudhah Al-‘Uqala (hal.133)

Takutlah kepada Allah Ta’ala wahai Habib Riziq Syihab… Bagaimana antum bisa menuduh berdasarkan asumsi sementara proses tabayyun kepada saya juga belum? Mana akhlak Islam yang mengajarkan tabbayun, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,  maka periksalah (kebenarannya) dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujurat: 6)

Ayat ini –seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir- termasuk ayat yang agung karena mengandung sebuah pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan atau berita yang menebar fitnah.

Apalagi perintah Allah ini berada di dalam surah Al-Hujurat, surah yang sarat dengan pesan etika, moralitas dan prinsip-prinsip mu’amalah sehingga Sayyid Quthb mengkategorikannya sebagai surah yang sangat agung lagi padat (Surat Jalilah Dhakhmah). Karena memang komitmen seorang Muslim dengan adab dan etika agama dalam kehidupannya menunjukkan kualitas akalnya (Adabul Abdi Unwanu Aqlihi).

Apakah antum pernah mencoba menanyakan masalah ini ke saya langsung di Polda Metro Jaya, atau ke LP Cipinang selama ini selama 6 tahun saya tinggal didalam penjara?

Bagaimana Allah Ta’ala akan meridhoi perjuangan suci kita jikalau selalu di awali kedustaan? Bukankah kaidah masyhur yang berbunyi :

الْوَسَائِلُ لَهَا أَحْكَامُ الْمَقَاصِدِ

‘’Sarana memiliki hukum sama dengan tujuan(nya)’’

Wahai Habib Riziq Syihab… Islam mengharuskan manusia memperhatikan sarana (cara) sebagaimana memperhatikan maqashid (tujuan). Siapa saja yang hanya memperhatikan tujuan, tanpa mempedulikan sarana (cara pencapaiannya), berarti orang ini telah mengambil sebagian agama, sekaligus mengesampingkan sebagian aturan syar'i yang lain. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنْكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

‘’Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allâh tidak lengah dari apa yang kamu perbuat".[al-Baqarah/2 : 85]

Antum telah menyelisihi agama dalam pemilihan sarana (cara) seperti halnya menyelisihi agama dalam penentuan tujuan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

’Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih [an-Nûr/24:63]

Kata (أَمْرِهِ) dalam ayat di atas adalah sebuah kalimat nakirah (umum) yang diidhofahkan (sandarkan), maka menunjukkan makna yang umum, mencakup seluruh perkara yang berkaitan dengan sarana (cara) dan tujuan.

Tidak diragukan lagi bahwa kaedah ini adalah faktor utama kerusakan kehidupan dunia, merajalelanya bermacam bentuk kezhaliman, kerusuhan dan kekacauan, dan kebinasaan manusia. Berikut perkataan sebagian ulama Islam yang menjelaskan kebatilan kaedah batil ini, yaitu menghalalkan segala cara demi tujuan yaitu kaidah yang sering digunakan oleh orang-orang anti Tuhan, orang-orang Komunis semacam pengikut PKI:

Imam al 'Iz Ibnu 'Abdus Salâm rahimahullah berkata: "Tidak boleh mendekatkan diri kepada Allâh kecuali dengan bermacam maslahat dan kebaikan, dan tidak boleh mendekatkan diri kepada-Nya dengan suatu kerusakan dan kejahatan. Berbeda dengan para raja (penguasa) yang zhalim yang (manusia) mendekatkan diri kepada mereka dengan kejahatan, seperti merampas harta, pembunuhan, menganiaya manusia, menebarkan kerusakan, menampakkan pembangkangan dan merusak negeri, dan tidak boleh mendekatkan diri kepada Rab (Allah) kecuali dengan kebenaran dan kebaikan”. (Qawâidul Ahkâm 1/112 ).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: "Tidak setiap sebab (cara) yang (dengannya) manusia mendapatkan (pemenuhan) kebutuhannya disyariatkan dan diperbolehkan. Hanya diperbolehkan apabila maslahatnya lebih dominan dari mafsadah (kerusakan, bahaya)-nya dari hal-hal yang diizinkan oleh syariat". (Mukhtashar al-Fatâwa al-Mishriyyah (hlm. 169 )

Dengan alasan strategi engkau menjatuhkan martabat kehormatan seorang muslim? Dengan itu kalian menuduh saya jasus (intel) yang berkonsekwensi pembunuhan dan halalnya darah saya karena berkonsekwensi riddah (murtad)? Wahai Habib Riziq… Di mana akalmu? Mana kehormatan baju ulama yang engkau sandang?

 

Ditulis oleh seorang Muslim lemah
Yang baru saja keluar dari pengapnya penjara:
 
Sofyan Ats-Tsaury

Tinggalkan Balasan