Surat Syaikh Usamah bin Ladin Kepada Amir Al-Qaeda Wilayah Khurasan (Bag.1)

 

Surat Syaikh Usamah bin Ladin

Kepada

Amir Al-Qaeda Wilayah Khurasan

 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du.

Kepada al-akh al-karim Syaikh Mahmud hafizhahullah.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Saya berharap surat saya ini sampai kepada Anda sementara Anda, keluarga Anda, anak-anak Anda dan para ikhwah yang bersama Anda dalam keadaan baik dan sejahtera. Hanya kepada Allah sajalah saya bertakwa dan mendekatkan diri. Wa ba’du.

 

(Belasungkawa Atas Gugurnya Syaikh Musthafa Abul Yazid)

Saya awali surat saya kepada Anda ini dengan menyampaikan bela sungkawa kepada diri saya dan kepada Anda atas syahidnya saudara kita Syaikh Sa’id rahimahullah.[1] Kami berharap kepada Allah Ta’ala semoga memuliakan beliau dengan memberikan apa yang menjadi angan-angan beliau, yakni menerima beliau dalam golongan syuhada’, dan menghitung kesabaran dan keteguhan beliau sebagai timbangan amal kebaikan beliau.

Sungguh beliau telah menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga dasawarsa di dalam medan-medan jihad untuk membela agama Allah. Demikianlah penilaian kami dan hanya Allah saja yang berhak menilai beliau secara benar.

Beliau bersikap teguh laksana gunung yang menjulang dalam perang melawan serangan-serangan musuh di Waziristan dengan penuh keteguhan, kesabaran, kerelaan dan menikmati semua itu, selama semua itu di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada keluhan maupun gerutu meskipun nyawanya dan nyawa-nyawa permata hatinya terancam, demikianlah penilaian kami, dan kami tidak mengklaim suci seorang pun terhadap Allah.

 

(Belasungkawa Atas Gugurnya Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi dan Rekan-rekannya)

Selain itu kami juga menyampaikan bela sungkawa kepada diri saya dan kepada Anda atas syahidnya saudara-saudara kita yang mulia, yakni Abu ‘Umar Al-Baghdadi, Abu Hamzah Al-Muhajir dan para ikhwah yang berjihad bersama mereka, sampai akhirnya mereka menemui akhir hayatnya.

Kami memohon kepada Allah agar memberikan kita pahala atas musibah yang menimpa kita ini, memberikan ganti yang lebih baik kepada kita, menerima mereka dalam golongan syuhada’, dan menempatkan mereka di dalam syurga-Nya yang luas. Sesungguhnya Allah Yang berhak dan Maha Kuasa atas itu semua.

Kami juga memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melindungi mujahidin di Afghanistan, Waziristan, Irak dan di mana saja, dan agar memelihara mereka dalam pemeliharaan-Nya, serta membimbing mereka agar berjalan di atas jalan Sayyidul Anam, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam, serta meneguhkan dan membela mereka dalam melawan orang-orang kafir.

 

(Pengangkatan Syaikh Athiyatullah Sebagai Amir Al-Qaeda Wilayah Khurasan)

Berangkat dari tradisi kesabaran, dan sebagai pelaksanaan terhadap kewajiban-kewajiban agama meskipun banyaknya musibah yang melanda, saya akan segera berbicara kepada Anda tentang program jihad secara umum.

Pertama-tama saya beritahukan kepada Anda bahwa Anda telah dipilih sebagai pengganti Syaikh Sa’id rahimahullah, untuk waktu dua tahun ke depan sejak tanggal sampainya suratku ini kepada Anda.

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membantu Anda dalam melaksanakan tanggung jawab ini dengan sebaik-baiknya, dan agar menambahkan kepada Anda bimbingan dan keeratan dalam berpegang teguh kepada kesabaran, ketakwaan dan akhlaq-akhlaq mulia. Sebab apabila seorang amir itu berpegang teguh dengannya, niscaya kondisi para pengikutnya akan baik.

Di antara perkara yang tidak samar lagi bagi Anda bahwa di antara manusia yang terbaik adalah orang yang paling dapat menyatukan manusia. Di antara perkara paling penting yang dapat menyatukan manusia dan mempertahankan keberadaan mereka bersama amir mereka adalah sifat-sifat amir yang santun, pemaaf, adil, sabar, baik dalam berinteraksi, berbasa-basi dengan mereka dan tidak membebani mereka dengan perkara yang tidak dapat mereka pikul.

Di antara perkara yang semestinya kita ambil pelajaran dan senantiasa kita ingat-ingat adalah bahwa mengatur orang dalam situasi seperti ini membutuhkan sikap bijak, santun, pemaaf, sabar dan ketekunan yang lebih, karena situasi saat ini adalah situasi yang rumit dalam sebagian besar sisinya.

 

(Fase Baru Evaluasi Program Jihad Al-Qaeda)

Kembali kepada pembicaraan awal tentang program jihad, saya katakan: kita saat ini sedang berada dalam situasi tahapan baru untuk mengevaluasi dan mengembangkan program jihad supaya lebih baik daripada pada tahapan sebelumnya. Evaluasi ini tertumpu pada dua aspek, yaitu aspek militer dan aspek publikasi media, di mana program kita pada dua aspek ini hendaknya memiliki cakupan yang luas dan berlaku di pusat maupun di semua wilayah.

Saya akan sampaikan beberapa hal yang tergambar dalam benak saya sesuai dengan kesempatan yang ada, supaya kita dapat memusyawarahkannya dan saya tambahkan dengan sebuah pijakan yang saya lampirkan bersama surat kepada Anda ini dengan judul “Lampiran untuk Syaikh Mahmud”, yang memuat beberapa persoalan yang telah saya kirimkan kepada Syaikh Sa’id rahimahullah khusus mengenai tahapan baru ini.

 

(Evaluasi Operasi Militer Al-Qaeda)

Khusus mengenai aspek militer, saya katakan:

Sesungguhnya situasi pasca serangan New York dan Washington, serta serangan salibis terhadap Afghanistan, telah menciptakan suasana penuh dengan simpati kaum muslimin terhadap putra-putra mereka yang berjihad. Telah menjadi sangat jelas bahwa mujahidinlah para pioner umat Islam dan para pemegang panji mereka dalam perang melawan aliansi Salibis-Zionis yang telah mendatangkan berbagai macam kehinaan dan malapetaka kepada manusia.

Di antara yang membuktikan hal ini adalah semakin tersebarluasnya pemikiran jihad terutama di dunia maya, dan jumlah yang sangat fantastis para pemuda yang mengunjungi situs-situs jihad. Ini adalah sebuah kesuksesan besar yang berhasil diwujudkan atas karunia Allah, untuk kepentingan jihad meskipun banyaknya musuh dan berbagai upaya yang mereka lakukan.

 

  • Kekeliruan Pertama

Namun sebaliknya, setelah meluasnya perang dan tersebarnya mujahidin di berbagai wilayah, sebagian ikhwah ada yang justru asyik berperang melawan musuh lokal. Dan kesalahan pun semakin parah akibat berbagai kesalahan perhitungan yang dilakukan oleh para ikhwah pembuat rencana ‘amaliyat [operasi jihad], atau akibat suatu perkara yang terjadi sebelum pelaksanaan ‘amaliyat.

  • Kekeliruan Kedua

Ditambah lagi ada sebagian ikhwah yang terlalu longgar dalam masalah tatarrus[2] sehingga mengakibatkan jatuhnya korban dari kaum muslimin — kami memohon kepada Allah agar mengampuni dan merahmati mereka serta memberikan ganti yang lebih baik buat keluarga mereka —.

Saya kira masalah tatarrus ini telah dikaji sejak beberapa abad yang lalu pada kondisi yang berbeda dengan kondisi kita hari ini. Oleh karena itu masalah tatarrus ini perlu dikaji kembali sesuai dengan situasi hari ini, dan perlu dibuat batasan-batasan yang jelas yang dapat dipahami semua ikhwah supaya tidak ada lagi kaum muslimin yang menjadi korban kecuali dalam situasi yang sangat terpaksa sekali.

  • Kekeliruan Ketiga

Di antara kesalahan lainnya adalah membunuh orang yang tidak dipahami oleh umumnya kaum muslimin bahwa orang tersebut boleh dibunuh. Anda sendiri mengetahui bahwa di antara yang telah ditetapkan dalam kaedah syar’iat adalah mengusahakan hal-hal yang mendatangkan manfaat dan menghindari hal-hal yang mendatangkan kerusakan. Ini pulalah yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam terhadap gembong kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul.

 

(Dampak Kekeliruan Operasi Mujahidin Terhadap Simpati Kaum Muslimin)

Kasus-kasus semacam ini dan juga kasus yang lainnya mengakibatkan kerugian terhadap mujahidin dalam ukuran yang tidak bisa dianggap enteng, dari sisi simpati kaum muslimin kepada mereka.

Dan di antara hal yang semakin memperparah kerugian mujahidin adalah karena kesalahan-kesalahan tersebut dimanfaatkan oleh musuh untuk memperburuk citra mujahidin di mata masyarakat dan memisahkan mujahidin dari basis massanya. 

Hal semacam ini tidak samar lagi bagi Anda merupakan bahaya yang sangat besar. Karena hilangnya simpati masyarakat merupakan faktor yang melumpuhkan semua gerakan jihad.

Di sini ada perkara penting yang harus diperhatikan, yaitu pelaksanaan kita terhadap beberapa ‘amaliyat yang tidak hati-hati sehingga berefek kepada berkurangnya simpati masyarakat terhadap mujahidin akan menggiring kita kepada kemenangan dalam beberapa pertempuran namun pada akhirnya kita akan kalah perang.

 

(Perhitungan Cermat Sebelum Operasi Jihad)

Hal ini menuntut kita untuk mengadakan kajian secara cermat terhadap efek dari setiap ‘amaliyat sebelum dilaksanakan, baik dari sisi untung maupun dari sisi ruginya, sehingga dapat diketahui mana yang lebih dominan dari kedua sisi tersebut.

Selain itu hendaknya dikumpulkan semua hal yang dapat dikumpulkan sebelum ‘amaliyat, terutama amaliyat fida-iyah inghimasiyah [serangan berani mati ke dalam kerumunan musuh atau ke dalam markas musuh] yang terkadang dilakukan oleh mujahidin Islam dan terkadang juga oleh kelompok lainnya seperti PLO misalnya, lalu dilakukan kajian terhadap sisi-sisi positif dan sisi-sisi negatifnya. Kajian ini dilakukan pada aspek:

Aspek pertama adalah aspek prosedur ‘amaliyat yang diperlukan untuk menyukseskan ‘amaliyat atau celah-celah yang mengakibatkan kegagalannya, dan juga efek yang ditimbulkannya terhadap musuh.

Aspek kedua adalah dampaknya terhadap opini dan simpati publik kepada putra-putranya yang berjihad.

Di antara ‘amaliyat yang memiliki dampak sangat negatif terhadap para pendukung jihad adalah ‘amaliyat yang menargetkan orang-orang murtad di dalam masjid atau di dekat masjid. Seperti usaha pembunuhan terhadap [jendral komunis, Abdu Raseed] Dustum di lapangan shalat ‘Id dan usaha pembunuhan terhadap jenderal Muhammad Yusuf di sebuah masjid di Pakistan.

Dan sungguh sangat menyedihkan sekali ketika seseorang itu melakukan kesalahan lebih dari satu kali.

 

(Gagasan Operasi Jihad di Amerika dan Negara-negara Non-Muslim)

Selain itu saya juga ingin bermusyawarah dengan Anda mengenai sebuah ide, yaitu bagaimana kalau kelebihan kekuatan yang kita miliki, atau kekuatan yang tidak lagi memungkinkan dimanfaatkan untuk ‘amaliyat di dalam negara Amerika maupun ‘amaliyat di front-front jihad yang telah terbuka; bagaimana kalau kekuatan tersebut diarahkan kepada ‘amalliyat yang menargetkan kepentingan-kepentingan Amerika yang berada di luar negeri-negeri kaum muslimin sebagai prioritas utamanya, seperti Korea Selatan, dan hendaknya kita hindari pelaksanaan ‘amaliyat di negeri-negeri kaum muslimin selain negeri-negeri yang mengalami agresi dan penjajahan secara langsung.

 

(Alasan Menghindari Operasi Jihad di Negeri Kaum Muslimin)

Ada dua alasan mendasar kenapa kita harus menghindari pelaksanaan ‘amaliyat-‘amaliyat di negeri-negeri kaum muslimin.

Pertama, serangan yang dilakukan di negeri-negeri muslim akan semakin membuka peluang jatuhnya korban dari kaum muslimin.

Meskipun para ikhwah telah diingatkan agar tidak terlalu longgar dalam menimbang masalah tatarrus, namun mereka masih saja belum paham batasan-batasannya, sehingga dalam realitanya masih saja terjadi sikap yang terlalu longgar dalam masalah tatarrus ini.

Hal ini menjadikan kita memikul tanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu satu persoalan, kemudian kita juga harus memikul kerugian dalam proyek lapangan dan gangguan dalam mendakwahkan jihad.

Kedua, kerugian yang sangat besar sekali yang dialami oleh para ikhwah yang berada di daerah tempat mulai dilaksanakannya program ‘amaliyat, sebagai efek dari pemberangusan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para pemuda yang terlibat dalam program jihad, atau bahkan sampai terhadap para pemuda yang hanya terlibat dalam program dakwah.

Lalu ditangkaplah puluhan ribu di antara mereka sebagaimana yang terjadi di Mesir, dan ribuan orang sebagaimana yang terjadi di negeri dua tanah suci (Arab Saudi).

Padahal masalahnya adalah masalah pilihan waktu saja, sementara persoalannya masih bisa ditangani dengan melanjutkan program menguras kekuatan gembong kekafiran dan aliran kehidupan yang menjadi penyokong pemerintah murtad di front-front jihad yang telah terbuka, tanpa menjadikan jihad harus membebankan kerugian tambahan akibat amukan penguasa terhadap para pemuda dan keluarga muslim dalam jumlah yang sangat besar seperti ini.

Pada saat kekafiran internasional ini telah sampai pada kondisi terkuras energinya sehingga menjadikan ia tumbang, pada saat itulah kita baru memasuki babak pertarungan dengan para penguasa lokal setelah kondisi mereka lemah sebagai efek dari lemahnya kekafiran internasional tadi, sementara para ikhwah yang berada di negeri tersebut sudah dalam kondisi yang maksimal kekuatan dan kemampuannya.

 

(Sisi-sisi Negatif Lainnya dari Operasi Jihad yang Belum Terpenuhi Penopang-penopangnya)

Sisi negatif lainnya dari pelaksanaan ‘amaliyat terhadap Amerika di negeri-negeri kaum muslimin yang penopang-penopang untuk suksesnya jihad dan menumbangkan pemerintah belum siap, adalah bahwasanya pemerintah lokal demi menghidari tuduhan dari Amerika bahwa mereka tidak serius (memerangi “teroris”), maka pemerintah akan melakukan reaksi besar-besaran terhadap mujahidin.

Hal itu mendorong mujahidin untuk melakukan pembelaan diri dan pembalasan terhadap pemerintah, yang kemudian akan menyeret para ikhwan masuk ke dalam peperangan melawan pemerintah pada saat kita memutuskan untuk belum memulai peperangan dengan pemerintah, dikarenakan kekuatan yang dimiliki para ikhwah belum siap untuk menghadapinya. Dengan begitu maka hasilnya sudah dapat dipastikan.

Di antara sisi negatif lainnya adalah bahwa menceburkan diri dalam (perang melawan pemerintah lokal) seperti disebutkan di atas akan merubah strategi umum kita untuk tidak memecah kekuatan kita untuk berurusan dengan pemerintah pada tahap ini.

Selain itu kita akan menderita kerugian dari sisi simpati kaum muslimin kepada kita ketika kita kehilangan opini kaum muslimin yang memandang bahwa kita adalah orang-orang yang membela kaum muslimin dan memerangi musuh terbesar mereka, yakni aliansi Salibis-Zionis, dan bukan sebagai orang yang membunuh orang-orang Islam dalam pandangan orang awam.

Karena jika kita memerangi pemerintah dalam kondisi defensive seperti ini, dan kita tidak menyerang pemerintah kecuali pada saat mereka secara langsung menyerang kita, dan terjadinya peristiwa semacam ini berulang-ulang, maka akan nampaklah bahwa kita adalah pihak yang terzalimi dan pemerintahlah pihak yang menzalimi.

Hal ini akan semakin menambah kebencian masyarakat kepada pemerintah dan akan menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa para pengguasa tidak membela saudara-saudara kita di Palestina, Irak dan Afghanistan. Tidak hanya cukup sampai di situ, bahkan mereka telah memerangi para mujahidin yang membela penduduk kita di negeri-negeri tersebut.

Sementara kalau kita terlibat dalam peperangan dengan pemerintah di luar kondisi membela diri terhadap serangan langsung, maka berarti kita telah menghilangkan ancaman bagi pemerintah yang timbul akibat mereka memerangi kita, dikarenakan mereka memiliki kesempatan untuk memutar balikkan fakta.

Media massa pun akan menunjukkan kepada masyarakat bahwa kitalah yang memerangi pemerintah dan membunuh kaum muslimin. Sementara keributan pembunuhan dan peperangan itu akan menjadikan masyarakat lupa akan siapa yang memulai penyerangan kepada pihak yang lain. Dengan begitu kita kehilangan simpati masyarakat dan memperkuat posisi pemerintah, bukan menghentikan kezalimannya kepada kita.

 

(Kelompok Jihad Dengan Tugas Khusus)

Di antara hal yang membantu kita untuk meraih kesuksesan dalam peperangan kita terhadap Amerika di negeri-negeri non muslim dan meminimalisir beban-bebannya adalah hendaknya dibentuk beberapa kelompok dalam jumlah terbatas yang menjauhkan diri dari masyarakat Islam yang memiliki komitmen agama baik. Lalu kelompok-kelompok tersebut berangkat dari negara-negara yang di sana terdapat mujahidinnya, tanpa mengumumkan dari mana mereka berasal sehingga reaksi dari penyerangan tersebut tidak diarahkan kepada mujahidin yang ada di sana.

Namun oleh karena perkara seperti ini akan membuka kemungkinan musuh mengetahuinya, maka sebaiknya latihan dan pemberangkatan [kelompok tersebut] dilakukan di front-front jihad yang telah terbuka. Karena dengan begitu tentu musuh harus mengerahkan kekuatan yang maksimal terhadap front-front jihad tersebut.

 

(Menangkap Peluang Untuk Operasi Jihad)

Di antara peluang yang harus dimanfaatkan dalam penyerangan terhadap Amerika adalah kondisi pengamanan yang longgar di negara-negara yang kita belum pernah melakukan serangan apapun di sana.

Oleh karena efek serangan yang dilakukan di dalam negara Amerika dengan serangan yang dilakukan di luar negara Amerika itu perbedaannya besar, maka para ikhwah harus ditekankan agar setiap potensi yang memungkinkan untuk diarahkan kepada proyek serangan di Amerika hendaknya tidak diarahkan untuk proyek serangan di luar Amerika.

Sementara kelebihan kekuatan yang tidak dapat digunakan di negara-negara non muslim di luar negara Amerika, maka bisa diarahkan untuk menyerang kepentingan-kepentingan Amerika yang ada di negeri-negeri kaum muslimin yang di sana kita tidak memiliki pendukung dan juga tidak terdapat jamaah-jamaah Islamis jihadis yang bisa saja mereka akan mendapatkan bahaya.

Akan tetapi tidak masalah jika di negeri-negeri tersebut terdapat jamaah-jamaah Islam [non jihadis] yang dapat secara cepat mengungkapkan sikap berseberangannya dengan kita dan berlepas diri dari kita, sehingga hal itu menjadikan pemerintah tidak mengganggu jamaah-jamaah tersebut setelah terjadinya ‘amaliyat. Itupun dengan syarat ‘amaliyat tersebut dilakukan dengan sangat waspada dan hati-hati agar jangan sampai ada orang Islam yang menjadi korban.

 

(Evaluasi Bidang Media Al-Qaeda)

Adapun mengenai aspek rilisan media, saya katakan:

Di antara persoalan penting adalah hendaknya sebagian dari perhatian Anda difokuskan kepada rilisan-rilisan mujahidin. Anda harus memberikan mereka nasehat dan arahan supaya menghindari beberapa kesalahan, yang terkadang dapat menjatuhkan nama baik mujahidin dan dukungan mayoritas kaum muslimin kepada mujahidin; dan terkadang berdampak buruk kepada pemikiran dan akhlak generasi muda yang sebagian besar cara berfikir mereka mengikuti rilisan mujahidin dan para pendukungnya.

Tidak samar lagi bagi Anda bahwa hal itu dapat menimbulkan bahaya besar, dan dapat menghilangkan kesempatan yang besar untuk memberikan pendidikan yang benar dan arahan yang lurus kepada jutaan pemuda yang mau mendengarkan apa yang dikatakan mujahidin dalam ceramah-ceramah, film-film, dan buku-buku mereka.

Atas dasar itu, saya berharap Anda menyiapkan sebuah buku panduan yang memuat pedoman umum yang hendaknya dijadikan pijakan rilisan-rilisan mujahidin. Terutama harus ditekankan masalah kaedah-kaedah dan adab-adab syar’i, seperti haramnya darah dan kehormatan kaum muslimin, serta pentingnya berkomitmen dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam:

«لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللِّعَانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ»

“Orang beriman itu bukanlah orang yang suka mencaci, melaknat, berbuat keji dan berkata kotor.” (HR. Al-Bukhari)[3]

Setelah panduan itu dibuat baru kita memusyawarahkan isinya kembali, lalu panduan tersebut dikirimkan ke seluruh wilayah bersamaan dengan pengiriman strategi umum untuk program militer.

Juga diberitahukan kepada mereka yang berada di seluruh wilayah tentang panitia yang tengah kita bentuk — saya telah mengirimkan susunan panitia tersebut kepada Syaikh Sa’id rahimahullah — yang memiliki wewenang untuk mengkaji dan mengurungkan rilisan apapun yang dipandang keluar dari strategi umum yang telah kita usahakan secara sungguh-sungguh agar sesuai dengan rambu-rambu syariat, yang dengan izin Allah akan dapat mewujudkan kemaslahatan bagi Islam dan kaum muslimin.[4]

 

(Evaluasi dan Tanggung Jawab Atas Operasi yang Teledor dan Keliru)

Kemudian diminta kepada seluruh amir wilayah agar berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengendalikan program militer secara cermat dan tidak terlalu longgar dalam masalah tatarrus.

Karena beberapa amaliyat yang dilakukan mujahidin dan dalam amaliyat tersebut ada kaum muslimin yang menjadi korban, amaliyat tersebut masih memungkinkan untuk dicapai target serangannya tanpa harus mengenai kaum muslimin. Hal itu dapat dilakukan dengan menambah sedikit kerja keras dan kehati-hatian.

Demikian juga ada sebagian amaliyat yang seharusnya dibatalkan lantaran adanya kemungkinan jatuhnya masyarakat sipil menjadi korban tanpa ada kepentingan yang mendesak.

Misalnya adalah amaliyat-amaliyat yang menargetkan beberapa pemimpin kafir pada saat mereka melakukan kunjungan di tempat-tempat umum yang di sana terdapat kaum muslimin awam, padahal masih memungkinkan untuk menyerang para pemimpin kafir tersebut di tempat yang jauh dari kaum muslimin.

Terjadinya kesalahan-kesalahan semacam ini adalah masalah besar karena tidak samar lagi bagi Anda betapa diharamkannya darah orang Islam, belum lagi kerugian yang berdampak kepada jihad lantaran menjauhnya masyarakat umum dari mujahidin akibat semua kesalahan itu.

Oleh karena itu semua ikhwah di seluruh wilayah wajib menyampaikan permintaan maaf dan bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Lalu harus ditanyai orang yang melakukan kesalahan lantaran beberapa keteledoran yang menyebabkan kesalahan itu terjadi dan apa saja prosedur yang ditempuh agar kesalahan-kesalahan tersebut tidak terulang lagi.[5]

Khusus mengenai kesalahan yang bersifat manusiawi, yang terjadi di luar kehendak manusia sebagaimana yang sering terjadi dalam perang, maka harus disampaikan permintaan maaf dan pernyataan bertanggung jawab, serta penjelasan mengenai sisi-sisi kesalahannya.

Terkadang pihak yang menjadi korban secara tidak sengaja itu adalah orang-orang fasik. Dalam kondisi seperti ini hendaknya jangan disinggung tentang kefasikan mereka, karena pada saat itu keluarga mereka sedang berduka, sementara musuh sangat antusias dalam menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang tidak peduli dengan nasib para korban tersebut.

Jika terjadi keteledoran yang dilakukan oleh para para ikhwah di wilayah dalam persoalan ini, maka kita harus bertanggung jawab dan menyampaikan permintaan maaf atas apa yang terjadi.

Selain itu harus ditekankan kepada semua ikhwah mujahidin atas pentingnya sikap yang jelas, jujur, menepati perjanjian dan menjauhi pengkhianatan.

 

Bersambung….

 

 


[1] Beliau adalah Mushthafa Ahmad ‘Utsman Abul Yazid dan terkenal dengan nama panggilan Syaikh Sa’id sang sekretaris. Beliau meraih gelar sarjana ekonomi di Universitas Zaqaziq tahun 1979 M. Dahulu beliau adalah anggota jama’ah Jihad yang dipimpin oleh Dr. Aiman Az-Zhawahiri. Pada tahun 1986 pasca pembunuhan terhadap Anwar Sadat, beliau melarikan diri dari Mesir menuju Afghanistan, dengan rute melalui Hijaz [Makkah] sebagai jamaah haji dan umrah. Kemudian beliau tinggal di Hijaz sambil menunggu persiapan perjalanan. Kemudian beliau terbang menuju Banglades bersama Jama’ah Tabligh dalam sebuah kisah unik yang selalu beliau kisahkan sampai akhir hayat beliau. Dari sana beliau berangkat ke Pakistan, lalu ke Afghanistan pada era penjajahan Uni Soviet.

Pada tahun 1988 beliau menjadi anggota Majlis Syura Al-Qaeda bersama dengan dua kawan seperjuangan beliau yaitu seorang Syaikh sekaligus mujahid dan komandan yang telah syahid ‘Ali Amin Ar-Rasyidi, yang dikenal dengan nama panggilan Abu Ubaidah Al-Pansyiri, dan seorang komandan mujahid yang telah syahid Shubhi ‘Abdul Aziz Abu Sanah yang dikenal dengan nama Muhammad ‘Athif dan lebih terkenal lagi dengan nama Abu Hafsh Al-Mishri, semoga Allah merahmati mereka semua.

Beliau berlatih di kamp-kamp pertama milik Jamaah Al-Jihad Mesir dan kamp-kamp yang didirikan oleh Syaikh Usamah bin Ladin pada masa itu. Beliau juga mengikuti perang Joji, Jalalabad, Khost, Ma’sadatul Anshar dan lain-lain. Kemudian prestasi beliau semakin nampak dan menjadi orang kepercayaan Syaikh Usamah bin Ladin sehingga beliau diangkat menjadi akuntan satu untuk semua kamp tersebut. Tatkala Syaikh Usamah pindah ke Sudan, beliau diangkat menjadi bendahara perusahan Wadi Al-‘Aqiq.

Setelah pemerintah Sudan memaksa Syaikh Usamah dan para qaadah [pimpinan] mujahidin beserta keluarga mereka, termasuk Syaikh Musthafa Abul Yazid, untuk meninggalkan Sudan, mereka semua kembali lagi ke bumi jihad Afghanistan. Di sana mereka disambut oleh Syaikh Yunus Khalis, Syaikh Jalaluddin Haqqani dan para qaadah mujahidin yang tetap teguh dengan pendirian dan tidak berubah. Saat itu adalah awal kemunculan Imarah Islam Afghanistan (Thaliban) dan mereka pun menerima dan melindungi Syaikh Usamah dan para qaadah mujahidin yang bersama beliau.

Setelah Syaikh Abdul Hadi Al-‘Iraqi tertangkap pada tahun 2007 di Turki, diekstradisi dari Turki dan diserahkan kepada pasukan Amerika yang menjajah Irak, kemudian dari sana diterbangkan ke penjara Guantanamo; Syaikh Mushthafa Abul Yazid pun diangkat sebagai pimpinan Al-Qaeda untuk wilayah Afghanistan.

Putri beliau yang tertua adalah Syaima’. Salah satu putri beliau yang bernama Jihad merupakan istri dari Al-Akh Muhammad, putra Syaikh Dr. Umar bin Abdur Rahman fakkallahu asrah. Al-Akh Muhammad tertangkap di Afghanistan pada tahun 2003 lalu ia diterbangkan ke Guantanamo. Beberapa tahun kemudian ia diserahkan oleh pemerintah Amerika kepada pemerintah Mesir dan ditahan di penjara Thurah.

Syaikh Musthafa Abul Yazid gugur bersama istri, tiga putri dan beberapa anggota keluarga besar beliau oleh serangan drone AS di wilayah Waziristan. Mengenai kesyahidan beliau, pada bulan Jumadal Akhirah 1431 H Dewan Pimpinan Pusat Al-Qaeda mengeluarkan pernyataan bela sungkawa, yang diantaranya berbunyi: “Dalam sebuah rombongan keluarga yang sangat unik, Syaikh rahimahullah mengucapkan selamat tinggal kepada dunia untuk bergabung dengan kafilah syuhada’ yang terus berlalu, bersama dengan istrinya, tiga orang putrinya, seorang cucu perempuannya dan beberapa orang laki-laki, perempuan dan anak-anak yang menjadi tetangga dan orang-orang yang dicintainya.” Biografi Syaikh Musthafa Abu Yazid dimuat oleh majalah resmi Al-Qaeda Pusat, Thalai’ Khurasan, edisi XVIII dan buku Al-Majmu’ li-Kalimat Asy-Syaikh Al-Mujahid Musthafa Abil Yazid, cet. 1, diterbitkan oleh Nukhbat Al-I’lam Al-Jihadi pada Jumadil Akhirah 1431 H/Juni 2010 M.

[2]  Tattarus secara bahasa berarti menjadikan sesuatu sebagai perisai. Tattarus secara istilah adalah orang-orang kafir menjadikan kaum muslimin yang tertawan atau orang-orang dzimmi sebagai turs, yaitu perisai hidup dari serangan pasukan kaum muslimin.

Syaikh Abu Yahya Al-Libi rahimahullah menulis: “Orang-orang kafir terkadang menggunakan kaum muslimin yang mereka tawan dan orang-orang dzimmi sebagai turs (perisai), untuk menolak serangan pasukan kaum muslimin terhadap mereka dan sebagai perlindungan dari serangan pasukan kaum muslimin.

Caranya, orang-orang kafir menempatkan para tawanan muslim atau dzimmi tersebut di tempat-tempat yang pasukan kaum muslimin tidak mungkin dapat mencapai tempat mereka dan menyerang mereka, kecuali dengan cara membunuh atau melukai tawanan-tawanan yang ada di tangan mereka. Sehingga hal itu menghalangi pasukan Islam untuk maju, menyerang dan memanah, karena dalam hati setiap muslim tertanam keengganan dan keraguan untuk membunuh saudaranya. Bahkan perasaan semacam ini dimiliki oleh setiap orang terhadap sesama bangsanya — sebagaimana yang kita saksikan — . Perasaan serupa [enggan dan ragu untuk membunuh] juga terjadi terhadap orang-orang yang menjadi dzimmah (tanggungan)nya.

Kondisi semacam ini tidak diragukan lagi mungkin terjadi dan biasanya suatu permasalahan itu tidaklah diangkat oleh para ahli fikih kecuali karena ia terjadi atau kemungkinan besar akan terjadi. Oleh kerana itu hampir tidak ada satu kitab fikih pun kecuali mencantumkan masalah tattarus ini dan memasukkannya dalam hukum-hukum jihad.

Namun bentuk-bentuk tertentu yang digambarkan oleh para ahli fikih itu tidak saya dapatkan dalam hadits-hadits maupun sejarah peperangan para sahabat. Hal ini menguatkan bahwa masalah ini termasuk kasus yang muncul belakangan setelah meluasnya Daulah Islam.

Namun bagaimanapun, jika diteliti berbagai bentuk tatarrus yang disebutkan oleh para ahli fikih, maka akan nampak dua kondisi:

Kondisi pertama adalah kondisi darurat di mana kaum muslimin yang tertawan atau orang-orang kafir yang tidak diperbolehkan [kafir dzimmi dan sejenisnya, pent] untuk dibunuh, dijadikan sebagai turs (tameng).

Para tawanan tersebut dipaksa untuk menjadi tameng dan mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengambil pilihan tetap tinggal di tengah-tengah orang-orang kafir, dan mereka tidak memiliki daya untuk melindungi diri dari bidikan saudara-saudara mereka kaum muslimin. Karena orang-orang yang menawan mereka meletakkan mereka di suatu tempat tertentu dengan tujuan untuk membendung serangan kaum muslimin dari diri mereka dengan cara menjadikan tawanan mereka sebagai alat perlindungan.

Kondisi kedua adalah adanya sejumlah orang Islam yang berdagang atau yang baru masuk Islam dan belum sempat berhijrah atau yang lainnya dalam benteng orang-orang kafir.

Ini adalah suatu kondisi di mana keberadaan mereka di tempat tersebut adalah atas pilihan mereka sendiri. Artinya orang-orang kafir tidak bermaksud untuk menjadikan kaum muslimin yang berada di tengah-tengah mereka sebagai perisai untuk berlindung dari serangan pasukan kaum muslimin. Tetapi keberadaan para pedagang Islam dan orang-orang semacam mereka di tengah-tengah orang-orang kafir itu terjadi secara kebetulan. Namun demikian serangan yang diarahkan kepada orang-orang kafir secara umum itu secara pasti atau kemungkinan besar akan mengenai atau menewaskan kaum muslimin yang berada di tengah-tengah mereka.

Kasus yang semacam ini sering terjadi pada jihadu ath-thalab (jihad ofensif).

Dengan demikian, kondisi yang pertama itu lebih kuat keterkaitannya dengan namanya at-turs (perisai) daripada kondisi yang kedua. Karena peralatan perang yang bernama perisai itu hanyalah alat yang berada di tangan orang yang menjadikannya sebagai alat perlindungan, yang dia gerakkan ke arah mana saja yang dia pandang sebagai arah datangnya bahaya yang mengancamnya, supaya dengan begitu dia dapat menepis serangan tersebut dari dirinya.

Adapun pada kondisi kedua, alasan ia dinamakan sebagai at-turs adalah karena ketika mujahidin mengetahui keberadaan orang-orang Islam di dalam benteng dan markas orang-orang kafir, maka hal itu biasanya akan mendorong mujahidin untuk menghentikan tembakan yang bersifat umum yang bisa mengenai orang-orang kafir dan orang lainnya. Dengan alasan ini maka seolah-olah kaum muslimin yang tinggal di tengah-tengah orang-orang kafir tersebut telah melindungi orang-orang kafir tersebut dari serangan dan tembakan mujahidin, meskipun mereka tidak bermaksud demikian.

Oleh karena itulah mereka hukumnya disamakan dengan at-turs (perisai) bagi orang-orang kafir, ditinjau bahwa tujuan dijadikannya mereka sebagai perisai adalah untuk perlindungan dari tebasan, tusukan dan tembakan, sedangkan keberadaan mereka di tengah-tengah orang-orang kafir itu dapat mengakibatkan hal yang sama. (Kitab At-Tatarrus Fil Jihadil Mu’ashir karya Syaikh Abu Yahya Al-Libi)

[3]. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 11/18, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 332, At-Tirmidzi no. 1977, Ahmad no. 3839, Abu Ya’la no. 5369, Al-Hakim no. 29, Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam Hilyatul Awliya’, 4/235 dan 5/58, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra no. 20794, Al-Khathib Al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 5/339 dan Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 3555. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berkata: Hadits ini shahih.

[4] Kepada para aktifis media, secara umum Syaikh ‘Athiyatullah Al-Libi rahimahullah memberikan nasehat:  “Selain nasehat untuk bertakwa kepada Allah SWT, bersabar dan memperkuat kesabaran, teguh pendirian, ikhlas beramal untuk Allah dan selalu merasa dalam pengawasan Allah baik ketika ada orang ramai maupun ketika sendirian, dan hendaknya mereka menyadari bahwa mereka tengah dalam jihad yang sebenarnya, sehingga mereka harus mengingat selalu kewajiban untuk ikhlas dan terikat dengan syariat Allah dalam setiap usaha mereka.”

“Selain itu semua, saya nasehatkan selalu tentang sesuatu yang saya pandang penting kepada orang yang posisinya seperti mereka, yaitu agar berpegang teguh dengan prinsip sebaik-baik amalan adalah yang paling kontinyu meskipun sedikit. Karena amalan yang mengandung berkah — lantaran keseriusan, keikhlasan dan kebaikan pelakunya — yang dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan adalah lebih baik daripada sikap tamak untuk memperluas dan memperbanyak program dan kegiatan. Hal demikian itu mungkin akan membuahkan sebuah lompatan sehingga kita menjadi senang. Bahkan terkadang menghasilkan sebuah gengsi sesaat. Namun kemudian akan terputus dan kita diberangus, gagal dan runtuh semuanya. Semoga Allah tidak mentakdirkannya.

Inilah yang selalu saya nasehatkan kepada para ikhwah.

Ini berarti hendaknya mereka tidak memperluas bidang garapan melebihi kemampuan dan jangkauannya. Janganlah mereka meremehkan masalah kepercayaan dan rekomendasi bagi siapa saja yang hendak mereka jalin kerjasama dengannya dan yang hendak bergabung dalam barisan mereka. Hendaknya yang menjadi titik berat dalam program mereka selalu adalah kualitas dan mutu, bukan kuantitas, besar dan luasnya program.

Kemudian saya juga nasehatkan kepada mereka supaya mereka memiliki piagam program yang tertulis dan selaras dengan syariat, yang memiliki spesifikasi sebagai berikut: (1) Menanamkan loyalitas kepada Allah Ta’ala dan agama-Nya, (2) membuang sikap fanatik kelompok yang tercela yaitu fanatisme kepada individu dan nama-nama — selain nama-nama yang diperintahkan Allah untuk berkumpul di dalamnya seperti Islam, iman dan takwa —, (3) Menanamkan prinsip-prinsip keadilan, kasih sayang, kebaikan, rendah diri, akhlak-akhlak mulia dan menjunjung tinggi perbuatan-perbuatan yang baik.

Intinya adalah hendaknya piagam tersebut berfungsi sebagai kaidah umum yang harus dipatuhi dan sebagai adab yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang bergabung dalam program tersebut. Terutama karena para ikhwah tersebut bekerja pada apa yang dikenal sebagai dunia maya, di mana mereka berhubungan dari jarak jauh yang kebanyakan — kemungkinan — tidak saling kenal.

Selain itu generasi yang datang setelah generasi ini hendaknya berjalan di atas ketentuan-ketentian ini, melengkapinya dan meningkatkan kebijakan dan pengalamannya serta menutup celah-celah yang nampak, sehingga program itu senantiasa mengalami perbaikan dan penuh dengan kelebihan.

Tentunya semua itu dijalankan dalam bingkai syariat, dalam artian jangan sampai keluar satu jari pun dari syariat.

Namun dalam waktu yang sama jangan sampai mempersempit hal-hal yang memang longgar. Wallahul muwaffiq.

Di antara poin-poin penting yang hendaknya ditonjolkan dalam piagam media dan dalam karakternya adalah:

  • Adab-adab yang tinggi, rendah diri dan menjauhi dari perasaan ujub (membanggakan diri) dan ghurur (tertipu dengan kehebatan diri sendiri) …
  • Seiring dengan itu, kuat dalam menyampaikan kebenaran dan jelas dalam manhaj.
  • Jujur dalam segala artinya kecuali yang memang harus dikecualikan, sementara pengecualian itu harus dibatasi sesuai dengan batasannya. Yang saya maksud di sini adalah berbohong dalam peperangan. Akan tetapi hendaknya secara umum dan yang paling mendominasi adalah kejujuran. Saya katakan kejujuran dalam segala artinya, karena kejujuran itu memiliki dua arti. Pertama, kejujuran yang berarti menyampaikan berita sesuai dengan faktanya, ini adalah arti yang dikenal secara syar’i, dan kebalikannya adalah dusta. Kedua adalah arti secara balaghah yang menjadi ciri kalimat-kalimat dalam sya’ir dan prosa. Kajian masalah ini panjang, yang intinya adalah komitmen dengan ketentuan-ketentuan balaghah yang mengatakan setiap ucapan itu ada tempatnya. Di sini fungsinya adalah menjauhi sikap melebih-lebihkan dan membesar-besarkan, yang apabila sikap ini sering dilakukan akan melemahkan kepercayaan dan akan memberikan kesan tidak detil, kecuali pada kondisi khusus yang menuntut. Seperti ketika menjauhkan atau menakut-nakuti dan mengancam orang yang memang harus dibegitukan, bukan memang sikap tersebut — melebih-lebihkan dan membesar-besarkan — merupakan prosedur baku untuk membuktikan kebenaran.
  • Yang berkaitan dengan hal ini adalah seimbang dalam berbicara, antara berbicara dengan akal yang berdasarkan alasan dan bukti-bukti syar’i dan logika, dan antara berbicara dengan hati (perasaan) dengan perkataan yang lembut, sastra yang berkesan, memahami kapan suatu perkara itu lebih didahulukan dan dijadikan konsentrasi pembicaraan, dan kapan perkara yang lain lebih didahulukan dan lebih difokuskan.
  • Menanamkan prinsip bekerja untuk Islam dan kaum muslimin, bukan untuk jamaah semata, akan tetapi semua jamaah, nama dan lembaga yang bekerja di dalamnya dan beramal dalam bingkai struktur organisasinya, semua itu hanyalah merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang diperintahkan oleh syariat.
  • Menanamkan pola pikir yang lebih mengedepankan substansi daripada istilah. Ini merupakan titik mendasar dalam misi yang diemban oleh media tarbiyah dan dakwah. Karena media pada hakekatnya bagi kita adalah identik dengan dakwah. Wallaul muwaffiq. (Sumber: Al-Ajwibah Asy-Syamilah Li As-ilati A’dha’ Syabakah Al-Hisbah Al-Islamiyah lisy-Syaikh Al-Mujahid Athiyatullah Al-Libi, hal. 225-227)

[5] Yayasan Media As-Sahab, bidang media Al-Qaeda Pusat, pada bulan Rabi’u Tsani 1432 H / Maret 2011 M merilis video pesan Syaikh Athiyatullah Al-Libi rahimahullah yang berjudul “Penegasan Atas Haramnya Darah Kaum Muslimin”. Berikut ini terjemahannya.

Penegasan Atas Haramnya Darah Kaum Muslimin

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Dan kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan jiwa kami dan dari keburukan amalan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya maka tidak akan ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah, Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau, keluarga beliau dan sahabat beliau, juga kepada siapa saja yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat. Amma ba’du.

Para ikhwah kaum muslimin … para akhwat kaum muslimat … para ikhwan mujahidin putra-putra umat Islam yang mulia dan senantiasa mendapat pertolongan …

As-salamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Hal yang mendorong kami untuk menyampaikan pernyataan singkat ini kepada kalian adalah berita yang sering kali kami dengar dan juga sering didengar oleh masyarakat, yang disebar luaskan oleh pihak musuh dan media-media massa yang mengekor kepada musuh, yakni berbagai tuduhan miring yang dialamatkan kepada gerakan jihad bahwa gerakan jihad telah melakukan pembunuhan terhadap kaum muslimin. Mereka juga membangun opini bahwa mujahidin adalah kumpulan para pembunuh yang tidak memiliki misi selain menumpahkan darah dan menjarah harta; mujahidin tidak memiliki misi mulia, program strategis dan lain-lain. Dan media-media massa tersebut telah berdusta.

Dalam hal ini mereka didukung oleh makar Salibis yang tengah bersiap hengkang dari Afghanistan dalam keadaan terusir dan hina. Mereka pun menjalankan kebiasaan mereka dalam melakukan perusakan, menjalankan strategi bumi hangus dan memusnahkan ladang dan anak-anak ketika mereka keluar. Mereka tidak lagi menghiraukan kemanusiaan, tidak lagi berfikir akibat dan masa depan hubungan antar bangsa. Mereka juga didukung oleh situasi panas akibat ulah musuh yang tengah berusaha melarikan diri dan berbagai operasi palsu yang dilakukan di pasar-pasar kaum muslimin, bahkan terkadang di masjid-masjid dan lain-lain.

Sebagai usaha pencegahan, penerangan, alasan di hadapan Allah, dan sebagai andil tambahan dalam mengendalikan gerakan jihad kita yang penuh berkah ini, maka kami menyampaikan sikap tegas kami dalam berlepas diri dari semua operasi serangan yang menargetkan kaum muslimin, baik itu di masjid-masjid, pasar-pasar, jalan-jalan maupun di tempat-tempat perkumpulan mereka.

Sesungguhnya organisasi Al-Qaeda yang direpresentasikan oleh jajaran pimpinannya, melalui penjelasan-penjelasannya dan melalui para juru bicaranya telah menegaskan permasalahan ini berulang kali. Kami telah jelaskan mengenai persoalan ini, dalam manhaj kami, metode yang kami tempuh dan ajaran dakwah kami. Kami telah jelaskan bahwa kami memandang bangsa-bangsa kami umat Islam sebagai umat yang tengah dikuasai [oleh musuh], sehingga kami tidak akan memperkenankan umat kami maupun diri kami sendiri untuk mengurangi hak umat kami. Karena suatu hal itu disematkan kepada sesuatu sesuai dengan ciri yang paling menonjol padanya, yang menjadi pangkal pada suatu kasus tertentu.

Kami telah berulangkali menjelaskan bahwa sesungguhnya bangsa-bangsa kita umat Islam yang dikuasai oleh para penguasa tiran yang murtad dan para penguasa sekuler pengkhianat yang menjadi agen musuh dan loyalis Barat, adalah bangsa-bangsa muslim. Wajib bagi kita, sebagaimana wajib juga bagi setiap anggota masyarakat yang memiliki kemampuan, berusaha untuk menyelamatkan bangsa-bangsa kita, memerdekakannya, membimbingnya dan mengangkatnya ke tangga-tangga keshalehan, keperkasaan dan kemuliaan. Bukan justru dibunuh, dirampas kekayaannya dan semakin ditambah penderitaan dan kesengsaraannya.

Kami juga telah jelaskan bahwa kami terikat dengan syariat Rabb kami yang telah mengharamkan untuk tidak membunuh orang kecuali dengan alasan yang benar sebesar apapun kezhaliman dan kepongahan musuh, sebesar apapun dendam dan kedengkian yang tertimbun dalam peperangan. Karena agama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sesuatu yang paling mulia dan paling tinggi nilainya, dan bahwa keberhasilan dalam meraih ridha dan kemuliaan dari Allah adalah tujuan yang paling tinggi dan paling mulia daripada semua tujuan lainnya.

Oleh karena itu kami berlepas diri dari semua operasi semacam ini [yang menargetkan kaum muslimin], siapapun pelakunya dan di manapun tempatnya. Baik itu dilakukan oleh geng-geng penjahat yang berafiliasi kepada musuh, ataupun perusahaan-perusahaan jasa keamanan kafir — semoga Allah menghinakannya —, maupun orang-orang yang mengaku sebagai bagian dari kaum muslimin dan mujahidin, namun bertindak sembrono dan meremehkan.

Dengan sangat tegas kami menganggap semua operasi tersebut sebagai tindakan perusakan di muka bumi yang kita dilarang melakukannya, [Allah Ta’ala berfirman]:

 وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الفَسَادَ

Dan Allah tidak mencintai kerusakan. (QS. Al-Baqarah [2]: 205)

[Dan Allah juga berfirman]:

وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan Allah tidak mencintai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. AlMaidah [5]: 64)

Sesungguhnya proyek jihad kita yang penuh berkah ini memiliki tujuan yang tinggi dan misi yang mulia. Semuanya mengandung unsur keadilan, rahmat, kebaikan, kemuliaan, keperkasaan, keberuntungan dan kesuksesan. Semua itu terhimpun dalam keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hidup bersama-Nya dan dalam barisan Allah sebagai pembela-Nya. Kita meninggikan kalimat-Nya, membela dan melindungi agama-Nya, menegakkan kebenaran, mengusir kezaliman dan permusuhan, memerdekakan bangsa dan negara, serta menyayangi dan memberi manfaat kepada makhluk.

Kami mengingatkan saudara-saudara kami dari kalangan mujahidin di setiap tempat [semoga Allah membimbing mereka] akan pentingnya menyebarkan ilmu tentang besarnya kesucian darah orang Islam, wajibnya berhati-hati dengannya, menjaga dan melindunginya, dan harus ada kekhawatiran terhadapnya tertumpahnya darah tersebut tanpa ada alasan yang benar; harus ada usaha untuk menutup semua celah yang mengarah kepada tindakan meremehkan darah, harta dan kehormatan orang Islam.

Jangan sampai kobaran, situasi, dan dendam peperangan ini mengendurkan keteguhan kita dalam berpegang dengan syariat Rabb kita dalam perkara ini dan dalam semua perkara lainnya. Dan jangan pula mengendurkan totalitas ibadah kita kepada-Nya. Karena kita adalah hamba dan tentara Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga kita harus berjalan di atas jalan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam dengan berkomitmen secara sempurna, sabar dan yakin.

Penjelasan ini disampaikan untuk tujuan peringatan, penegasan dan penjelasan tentang sikap yang jelas, dan bukan untuk tujuan pengkajian yang panjang dan lebar. Karena teks-teks syariat yang suci mengenai masalah ini tidaklah samar lagi bagi seluruh kaum muslimin. Cukuplah sebagai penjelasan akan besar dan agungnya nilai nyawa orang beriman dan haramnya darah seorang muslim, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam:

«لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ»

“Sungguh musnahnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. At-Tirmidzi no. 1395 dan An-Nasai no. 3987)

Biarkan dunia ini musnah, kita sendiri musnah, semua organisasi, jamaah dan program kita musnah, asal jangan ada darah seorang muslim pun yang tertumpah oleh tangan kita dengan tanpa alasan yang benar. Ini adalah benar-benar masalah yang final dan sangat-sangat jelas.

Kemudian saya serukan kepada saudara-saudara saya para mujahidin di mana saja mereka berada [semoga Allah meluruskan langkah mereka dan membela mereka] beberapa poin praktis yang penting berikut ini:

Pertama: Saya mengajak mereka untuk mengeluarkan larangan kepada seluruh peleton dan kompi pasukan di lapangan dari melakukan peledakan dan penggunaan senjata pembunuh massal di masjid-masjid kaum muslimin dan tempat-tempat umum lainnya, seperti pasar, pusat mainan, dan lain-lain untuk target apapun. Ini sebagai usaha untuk mengendalikan serangan dan kehati-hatian agar tidak terjerumus dalam kesalahan dan kerugian.

Kedua: Harus dilakukan pengetatan dalam mengontrol serangan-serangan yang dikenal dengan tatarrus, dan harus disadari pentingnya kehati-hatian agar tidak terlalu longgar dalam perkara ini. Karena tatarrus itu diperbolehkan untuk kasus –kasus yang keluar dari hukum asal [haramnya membunuh seorang muslim] sehingga ia hanya bisa digunakan untuk situasi yang memaksa dan hanya diperbolehkan sesuai dengan kadar keterpaksaannya.

Oleh karena itu semua komandan serangan harus sangat memperketat dalam menetapkan telah terpenuhinya syarat-syarat tatarrus dan tiadanya penghalang-penghalang tatarrus. Yakni hendaknya kerugian yang akan ditimbulkan operasi serangan tersebut terhadap musuh sangat besar dan real, kesempatannya sangat sempit jika dilakukan dengan cara yang lainnya, yang mana biasanya tidak memungkinkan penyerangan terhadap target yang besar tersebut dengan cara lain, sehingga mengharuskan penggunaan operasi tersebut sebagai cara untuk mencapai target. Juga dikhawatirkan jika operasi serangan tersebut tidak dilakukan, niscaya akan menimbulkan ancaman terhadap jihad secara jelas, dan akan membuka peluang bagi musuh untuk maju dan bertebaran secara leluasa dalam berperang dan dalam gerakan militer. Poin ini disempurnakan lagi dengan poin berikutnya, yaitu poin ketiga.

Ketiga: Hendaknya dibentuk panitia khusus yang terpercaya dari kalangan para penuntut ilmu [ulama] dan dari kalangan para ahli militer yang amanah untuk mengawasi semua operasi peledakan. Panitia ini bertugas mengkaji semua permasalahannya secara rinci, kemudian merekalah yang berhak memutuskan apakah serangan tersebut diperbolehkan atau tidak, sebagaimana yang telah kami lakukan dalam organisasi Al-Qaeda. Al-hamdulillah.

Keempat: Wajib bagi seluruh pimpinan mujahidin di setiap tempat untuk memperhatikan usaha memperdalam pemahaman para ikhwah mujahidin secara umum dan fida-iyyin istisyhadiyyin [para pelaku serangan syahid] secara khusus, memberikan nasehat secara sempurna kepada mereka dan memahamkan kepada mereka sampai dapat dipastikan mereka telah memahami segala apa yang wajib dipahami oleh mujahid yang hendak melakukan operasi semacam ini; seperti wajibnya beramal secara ikhlas untuk Allah Ta’ala semata dan ketaatan mutlak kepada Allah Ta’ala dengan mengerahkan nyawanya untuk meninggikan kalimatullah dan memuliakan panji agama, dengan mengusir musuh yang kafir yang merusak agama dan dunia.

Sehingga janganlah dia melakukan serangan terhadap target yang masih samar atau masih diragukan, atau masih diperselisihkan atau akan memancing perdebatan. Janganlah dia melakukan serangan kecuali kepada target yang seratus persen yakin merupakan target yang disyariatkan dan bahwa serangan yang dia lakukan itu akan mendatangkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setiap komandan mujahidin wajib memberikan nasehat kepada para pelaku operasi istisyhad mengenai perkara ini, dan agar benar-benar waspada agar tidak menipu mereka dan mengirimkan mereka kepada target-target yang samar dan meragukan, karena semua itu sama sekali tidak masuk dalam kategori nasehat [ketulusan].

Demikian pula bagi fida-i [seorang pelaku serangan syahid] itu sendiri, apabila dia hendak melakukan serangan dengan tanpa pengecekan dan tanpa memahaminya, maka sebenarnya dia telah berbuat teledor yang tercela sehingga alih-alih mendapatkan mati syahid, justru kelak Allah akan memperhitungkan dan menghukumnya.

Siapakah di antara kita yang mau seperti itu? Betapa banyak orang yang terbunuh antara dua pasukan sementara hanya Allah Yang mengetahui niatnya. Dan betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan, namun ia tidak mendapatkannya.

Sesungguhnya mujahidin yang telah rela mengorbankan harta, jiwa dan nyawa mereka di jalan Allah untuk mencari ridha Allah tidak akan pernah menerima hal ini selamanya. Karena agama kita ini adalah agama ilmu, amal dan niat. Maka kita harus mempelajari ilmu yang bermanfaat, kita harus menjadi orang yang memiliki pemahaman, dan kita harus memperbaiki amalan serta memperbaiki niat. Wabillahit taufiq.

Ya Allah perbaikilah agama (iman) kami yang merupakan bentang bagi urusan kami. Perbaikilah dunia kami yang merupakan tempat kehidupan kami. Dan perbaikilah akherat kami yang merupakan tempat kembali kami.

Dan akhir doa kami adalah segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Was-salamu‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Tinggalkan Balasan

Muqawamah Media adalah fasilitator antara umat dengan para Pemimpin dan Ulama mereka. Muqawamah Media akan berusaha menghubungkan pesan, arahan, dan nasehat-nasehat dari para Ulama dan Pemimpin umat tersebut kepada umatnya.

Email: [email protected]

Newsletter

Bagi kaum muslimin yang hendak menyalurkan donasi, dapat transfer ke rekening berikut :