STATUS HUKUM TENTARA DAN POLISI (Bagian 2)

 

Pendapat Syaikh ‘Athiyatullah[1] Tentang Status Hukum Para Pembela Thaghut Jaman Sekarang

Syaikh ‘Athiyatullah ditanya tentang status hukum para pembela thaghut — aslinya pertanyaan ini berkenaan dengan status hukum para pembela dan tentara Qadzafi yang telah binasa itu, akan tetapi beliau menjawabnya dengan jawaban yang bersifat umum —. Beliau menjawab:

Mereka yang kita sebut dengan para pembantu atau pembela thaghut ini, perlu untuk kita lihat kondisinya. Dan juga harus kita ketahui bahwa cabang-cabang dalam masalah ini sifatnya adalah ijtihadiyah dan kajian!

Sebutan (para pembela thaghut atau para pembantu thaghut) ini hendaknya tidak mengecohkan bagi penuntut ilmu ketika ia hendak mengupas hukum syar’i, fatwa dan keputusan hukum. Tapi seorang penuntut ilmu haruslah melihat kepada hakekat yang menjadi patokan hukum syar’inya kemudian mendudukkan setiap hakekat itu sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh dalil syar’i, dan jangan terkecoh dengan sekadar nama. Karena nama itu terkadang dibuat berdasarkan standar toleransi dan perluasan, dan terkadang nama tersebut disematkan kepada suatu nilai berdasarkan berbagai macam tinjauan yang banyak sekali sebagaimana yang terjadi pada nama-nama yang disematkan kepada nilai-nilai atau benda-benda tertentu.

Hendaknya diketahui bahwasanya masalah ini seringkali dibahas dalam fiqih jihad kontemporer oleh berbagai jamaah jihad. Namun demikian mereka belum dapat menuntaskan kajian ini, dan masih diperlukan kajian tambahan, sehingga beberapa bentuk dan cabang dari permasalahan ini masih tetap menjadi bahan kajian dan ijtihad. Dan nampaknya, wallahu a’lam, pendapat yang kuat adalah hendaknya kita mengatakan secara umum bahwa para pembela dan pembantu thaghut murtad itu adalah orang-orang kafir dan murtad sebagaimana thaghutnya. Pernyataan secara umum ini tidak ada lagi masalah padanya karena banyak sekali dari Al Qur’an dan Sunnah yang menunjukkan bahwa barangsiapa membela orang-orang kafir (apalagi orang-orang murtad, karena kekafiran pada mereka lebih khusus dan lebih kuat), membantu dan memberikan loyalitas kepada mereka, berada dalam barisan mereka dalam memerangi kaum muslimin secara suka rela, maka dia termasuk dalam golongan mereka, dia kafir dan keluar dari Islam.

Namun ketika kita berbicara mengenai masing-masing individunya, maka kita tidak boleh mengkafirkan orang selain yang telah kita lihat terpenuhinya syarat-syarat vonis kafir dan tidak adanya penghalang pada dirinya, sebagaimana kaidah yang telah ditetapkan dalam masalah ini.

Tentara dan seluruh aparat keamanan Negara murtad dan pemerintah murtad itu adalah bagian darinya. Maka dalam hukum bolehnya membunuh dan memerangi tidak kami ragukan lagi bahwa mereka itu status hukumnya sama dengan status hukum negaranya. Artinya mereka itu adalah tentara murtad. Yang demikian itu karena tidak dapat diragukan lagi bahwa mereka itu memang benar-benar tentaranya, dan karena kita memerangi negara dan pemerintah murtad tersebut karena Allah memang memerintahkan dan mewajibkannya kepada kita. Itu artinya kita harus memerangi tentara dan pasukannya yang pasti akan menyerang kita jika kita tidak menyerangnya. Kita wajib menyikapi mereka berdasarkan yang nampak. Maka barangsiapa berada di dalam barisan musuh yang kafir, kita akan memerangi dan membunuhnya, dan dalam hal ini kita tidak akan menanyakan tentang kondisi dirinya, karena mereka adalah orang-orang yang memiliki pertahanan diri dengan kekuatan untuk tidak menjalankan sekian banyak hukum Islam yang wajib diberlakukan terhadap diri mereka. Hal ini terkandung dalam apa yang kami katakan “melakukan pembangkangan terhadap syariat Islam dan pemberlakuan hukum Islam”. Dengan demikian mereka adalah kelompok yang melakukan pembangkangan terhadap syariat Islam. Dan telah disepakati para ulama’ bahwa kelompok yang melakukan pembangkangan terhadap syariat Islam itu harus diperangi meskipun mereka itu muslim. Yang diperselisihkan di kalangan ulama’ itu hanyalah model perangnya, apakah model perang terhadap orang-orang murtad atau model perang terhadap orang-orang khawarij atau yang lainnya.

Dalil-dalil yang menunjukkan hal ini sangatlah jelas dan terkenal, insya Allah.

Dan yang benar dalam masalah ini dan pada jaman kita sekarang ini adalah kita memerangi mereka dengan model perang terhadap orang-orang murtad.

Namun dalam masalah memvonis kafir, kita berhati-hati dan tidak memastikan![2]

Hal itu dikarenakan dominannya kabut kebodohan yang menyelimuti masyarakat, rusaknya ilmu dan pemahaman, meredupnya cahaya ilmu mengenai masalah-masalah seperti ini, banyaknya manipulasi yang dilakukan para ulama pencari dunia, ulama’ pemerintah dan ulama sesat yang dianggap baik oleh manyarakat, serta tercampuraduknya berbagai persoalan dan banyaknya takwilan-takwilan di tengah-tengah masyarakat. Karena orang-orang murtad tersebut tidaklah secara terang-terangan mengumumkan kekafirannya dalam arti mengumumkan bahwa mereka telah kafir dan meninggalkan Islam atau hal lain yang kejelasannya setara dengannya, seperti menganut agama lain secara tegas dan terang-terangan, dan mengingkari hal-hal yang telah qath’i (tegas) dan diketahui secara pasti dari ajaran Islam. Namun kekafiran mereka itu pada hari ini rata-rata karena berhukum dengan selain hukum Allah dan tidak mau melaksanakan syariat Islam .. karena memiliki pemikiran-pemikiran sekuler dan nasionalisme atau pemikiran-pemikiran kafir lain yang semisal dengannya .. karena memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir .. dan lain-lain. Sementara itu di sisi lain mereka mengaku menganut agama Islam dan mereka mengaku malakukan perbaikan dan toleransi, dan menipu masyarakat dengan berbagai sarana yang sangat sistematis dan canggih!! Seperti para ulama’ su’, semoga Allah menghinakan mereka.

Dan juga karena harus benar-benar terbukti bahwa masing-masing mereka (tentara) itu melakukan pembelaan terhadap thaghut yang murtad tersebut, memberikan loyalitas yang bersifat kekafiran, atau loyalitas yang diberikan kepada orang murtad tersebut hanya bersifat kiasan atau merupakan dampak dari perbuatannya semata.

Oleh karenanya kami katakan bahwa kasus semacam ini kejelasannya sangatlah bervariasi sesuai dengan kondisinya masing-masing. Contoh, pada saat kondisi damai, aman, situasi tenang dan masyarakat dengan berbagai urusannya saling berbaur, tidak sama dengan kondisi berkecamuknya perang dan berbenturannya barisan kaum muslimin dengan pasukan murtad!! Pada situasi aman terkadang kita masih mendengar orang yang mengaku bahwa dia tidak loyal dan membela orang kafir, akan tetapi ia masuk tentara negara murtad itu karena alasan lain, dan bahkan ada yang mengaku bahwa dia akan bersama dengan mujahidin jika ada panggilan jihad!!! Ini satu sisi. Dari sisi lain terkadang terdapat kondisi, perkataan dan perbuatan yang mana jati diri orang murtad itu jelas dalam situasi perang, tapi tidak jelas ketika dalam situasi aman. Sedangkan dalam situasi perang alasan-alasan seperti itu tidak terdengar dan tidak akan dihiraukan lagi, tapi kita vonis mereka sebagai orang kafir setiap orang yang bersama orang-orang murtad dan berada dalam barisan mereka.

 

Catatan:

Ketika kami mengucapkan kata-kata yang bersifat umum, seperti kami mengatakan: tentara itu adalah tangan penguasa thaghut murtad dan negara murtad yang digunakan untuk memukul, mereka adalah para pembela dan pembantunya, mereka adalah tentara dan algojonya, dan kata-kata yang semacam itu.

Ungkapan-ungkapan tersebut adalah benar ditinjau dari satu sisi.

Dalam artian bahwa kenyataannya memang begitu baik mereka sadar atau tidak sadar, baik itu terjadi secara sengaja atau secara kiasan dan secara efek.

Dan juga untuk tujuan mengingatkan orang agar menjauhi posisi dan perbuatan yang keji, tercela, membinasakan dan sangat terlarang ini.

Adapun memvonis kafir, maka ini adalah persoalan yang lain lagi …[3]

Hendaknya ini diperhatikan betul.

Untuk persoalan ini haruslah diperinci sesuai dengan kondisinya:

  • Sesuai dengan kuat dan jelasnya kafir dan murtadnya pemerintah serta pahamnya masyarakat tehadapnya, ataukah persoalan tersebut masih samar dan rancu bagi masyarakat. Permasalahan yang seperti ini pertimbangannya dikembalikan kepada mufti yang faqih. Jika mufti yang faqih tersebut melihat bahwa kafirnya penguasa dan pemerintah itu sampai pada tingkat yang jelas dan gamblang di mana hampir tidak samar lagi bagi setiap muslim, maka ia boleh memvonis kafir siapa saja yang loyal kepadanya dan siapa saja yang menjadi tentaranya, dan yang demikian ini selama tidak adanya penghalang lainnya seperti ketika dia mengetahui bahwa ada sebagian orang yang masuk tentara murtad dengan tujuan membuat serangan dan berjihad melawan mereka misalnya .. bahkan lebih dari itu ia juga diperbolehkan memvonis kafir siapa saja yang tidak mengkafirkan thaghut yang murtad tersebut atau meragukan kekafirannya atau menganggapnya sebagai orang Islam. Demikian sebaliknya ketika kondisinya itu masih samar dan rancu.
  • Sesuai dengan situasinya apakah aman atau dalam kondisi perang berkecamuk yang memisahkan barisan dan masyarakat antara yang berada dalam barisan dan tentara thaghut dengan yang berada dalam barisan orang-orang beriman yang berjihad .. dalam kondisi aman masyarakat menyederhanakan masalah masuk tentara dalam negara murtad, dengan alasan bahwa masing-masing mereka itu adalah tentara bagi negaranya (Negara Islam) bukan tentara bagi pemerintah. Mereka juga mengaku bahwa mereka itu tetap komitmen akan menjalankan syariat Islam pada diri mereka sendiri dan tidak akan mentaati makhluq (manusia) dalam bermaksiat kepada khaliq (Allah). Dan takwilan-takwilan (alasan-alasan) lainnya yang memang nyata ada di tengah-tengah masyarakat. Yang seperti ini sudah masyhur. Belum lagi alasan mereka karena ikrah (terpaksa) — meskipun dalam banyak kondisi kita tidak sepakat bahwa ikrahnya sampai pada tingkatan ikrah mulji’ (paksaan yang tidak menyisakan pilihan) —, dan bahwa mereka itu diwajibkan yang mana jika mereka tidak mendaftarkan diri menjadi tentara (seperti wajib militer misalnya) mereka akan mendapatkan tekanan atau kesulitan berupa penjara atau tidak diberikan haknya dan lain-lain.!! Sementara dalam kondisi perang dan terpisahnya barisan, kebanyakan atau semua takwilan (alasan) tersebut tidak memiliki dasar sama sekali untuk diterima, yang mana orang yang beralasan dengan perkara-perkara tersebut sama hukumnya dengan orang yang sombong dan membangkang. Maka seorang mufti yang faqih haruslah membedakan antara dua kondisi tersebut.

Wallahu a’lam.

Inilah pendapat yang nampak kuat menurut saya, yang merupakan hasil diskusi dengan syaikh-syaikh kami, dan yang menurut kami sesuai dengan kesimpulan dan perpaduan berbagai dalil.

Menurut saya dan berdasarkan berbagai pengalaman saya dalam lapangan perjuangan Islam dan jihad, yang paling penting untuk diperhatikan dan dijelaskan adalah:

Manusia itu bisa saja berbeda pendapat dalam hukum-hukum semacam ini…

Tapi kalau ada yang mengklaim bahwa pendapatnya (terutama orang yang berpendapat kafirnya semua orang tanpa terkecuali) adalah pendapat yang benar sementara pendapat lainnya adalah pendapat yang sesat, dan bahwasanya pendapatnya adalah pendapat yang sudah baku dan merupakan perkara yang telah pasti diketahui dalam ajaran Islam, dan bahwasanya ini adalah konsekuensi tauhid yang kebalikannya adalah syirik dan kafir, dan bahwasanya orang yang tidak sependapat dengannya berarti dia adalah orang yang tidak memahami dan tidak merealisasikan tauhid, dan seterusnya …

Saya katakan: ini adalah benar-benar kebodohan dan kesesatan dan tidak dapat diterima dari siapapun orangnya.

Karena tidak diragukan lagi bahwa masalah ini adalah masalah ijtihadiyah yang dibangun berdasarkan kajian dan pemahaman dalil. Ini adalah suatu pemahaman yang merupakan hasil pemikiran dan pengkajian dalil, padahal tidak semua pokok persoalannya maupun cabangnya yang hukumnya itu merupakan perkara yang secara pasti dikenal sebagai ajaran Islam. Oleh karenanya sebelumnya telah kami ingatkan — dan kami akan berikan penjelasan tambahan pada tempatnya dalam jawaban ini, insya Allah — bahwa kesalahan besar yang dilakukan oleh penulis kitab Al Jami’ Fi Thalabil ‘Ilmisy Syarif, yaitu Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz — semoga Allah membebaskan beliau — adalah ketika menjadikan vonis kafir terhadap orang-orang yang dia sebut sebagai para pembela thaghut murtad pada hari ini merupakan hukum yang sudah disepakati berdasarkan ijma’ qath’i, yang mana orang akan kafir jika tidak sependapat dengannya, alasannya karena masalah ini sama persis dengan status hukum para pengikut Musailamah Al Kadzab yang disepakati oleh para sahabat dalam memvonis kafir mereka!..

Ini benar-benar kesalahan fatal dan kekeliruan besar yang harus senantiasa diingatkan dan diperingatkan. Karena beliau dalam hal ini tidak memahami perbedaan antara dua kasus tersebut.[4]

Wallahul muwaffiq.

 

Pendapat Syaikh ‘Athiyatullah Tentang Tentara Qadzafi Secara Khusus

Syaikh ‘Athiyatullah berkata:

Kembali kepada masalah Si Zindiq Qadzafi.

Demi Allah wahai saudaraku, menjatuhkan vonis kafir kepada seluruh tentara, polisi dan lainnya itu ada kemungkinan benarnya. Dan siapa saja yang divonis kafir di antara mereka maka jangan sesalkan kecuali dirinya sendiri.

Namun demikian, menurut pendapat yang paling kuat menurutku dan yang nampak berdasarkan yang saya ketahui tentang kondisi realitanya, saya berpendapat bahwa anggota dewan revolusi itu kafir. Maka siapa saja yang tergabung di dalamnya dia kafir murtad. Demikian pula dengan pasukan unit khusus dan intelejen. Karena mereka itu adalah kalangan ideologis yang secara khusus dipilih dan memiliki hubungan dekat dengan pemerintah. Pada diri mereka terdapat kekafiran yang sangat jelas dan tidak dapat lagi diperkirakan akan adanya kesamaran, takwilan ataupun alasan lainnya pada diri masing-masing mereka!..

Adapun anggota tentara biasa untuk sampai saat ini saya tidak memvonis kafir setiap orang yang menjadi anggota tentara sampai kita benar-benar mengetahui kondisinya. Ini artinya dia masih berada dalam hukum asalnya sebagai orang Islam selama kita belum tahu — apabila kita memahami kondisinya — bahwa dia terjatuh dalam kekafiran. Demikian halnya dengan anggota polisi …

Perkataan saya ini berlaku buat mereka dari sisi ini, artinya dari sisi status mereka sebagai pembantu thaghut dan tentara negara murtad, ketika mereka tergabung sebagai anggota tentara dan polisi.

Adapun jika ada sebab kekafiran lainnya, maka dia divonis sesuai dengan sebab tersebut.

Mereka itu semuanya sebagaimana yang telah kami katakan adalah tentara dan pasukan murtad, hukumnya adalah sama dengan hukum pemerintahnya dalam hal pembunuhan, peperangan dan semua hukum peperangan lainnya, seperti menjadikan harta mereka sebagai ghanimah, menghabisi yang sudah terluka, mengejar yang lari dan membunuh yang telah dikuasai — selama tidak diketahui bahwa dia mukrah (dipaksa) atau lainnya berdasarkan bukti, bukan sekadar pengakuan — dengan tanpa ragu.

Wallahu a’lam wa ahkam.

Dan dari kondisi realita tentara, polisi dan lainnya di negara-negara murtad baik Negara Arab maupun non Arab, kita dapat mengetahui bahwa di dalamnya bercampur orang-orang rusak, pendosa, tidak punya malu, tidak bermoral dan penyembah dunia, semua orang yang tidak punya etika yang lepas dari agama dan akhlaq, para zindiq yang kafir kapada Allah ta’ala dan kepada agama dan hari akhir, orang-orang atheis yang melepaskan diri dari ikatan agama dan syariat, orang yang mencela Allah, Rasul dan agama, ditambah banyak juga dari kalangan awam yang tetap menjaga ajaran agama dan shalat yang pada dirinya masih tersisa warna agama dan kebaikan, juga sejumlah orang yang komitmen dengan Islam yang masuk tentara atau polisi dengan alasan yang bermacam-macam, mungkin karena mereka tidak paham (jahil) atau mungkin karena para ulama’ su’ mengacaukan pemahaman mereka, atau alasan-alasan lainnya.

Komposisi campuran berbagai macam tipe manusia ini pada masing-masing negara berbeda-beda kadarnya.

Dan kewajiban kita adalah menyikapi masing-masing orang sesuai dengan yang pas baginya, baik dalam menilai perbuatannya maupun kondisinya.

 

Penjelasan Tambahan Dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Mengenai Masalah Ini.

Apa yang saya katakan mengenai personal tentara di negara-negara murtad ini sama persis dengan pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengenai Tartar dan balatentaranya, sebagaimana yang dapat dipahami dari perpaduan berbagai perkataan beliau secara keseluruhan.

Di mana perkataan beliau sangatlah tegas terhadap kafirnya penguasanya, yaitu Jangkis Khan. Bahkan beliau menegaskan kafirnya Jangkis Khan ini di beberapa tempat, seperti dalam ucapan beliau:

 بَلْ غَايَةُ كَثِيرٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ مِنْهُمْ مَنْ أَكَابِرِ أُمَرَائِهِمْ وَوُزَرَائِهِمْ أَنْ يَكُونَ الْمُسْلِمُ عِنْدَهُمْ كَمَنْ يُعَظِّمُونَهُ مِنْ الْمُشْرِكِينَ مِنْ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى كَمَا قَالَ أَكْبَرُ مُقَدِّمِيهِمْ الَّذِينَ قَدِمُوا إلَى الشَّامِ وَهُوَ يُخَاطِبُ رُسُلَ الْمُسْلِمِينَ وَيَتَقَرَّبُ إلَيْهِمْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ . فَقَالَ هَذَانِ آيَتَانِ عَظِيمَتَانِ جَاءَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُحَمَّدٍ وجنكسخان ، فَهَذَا غَايَةُ مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ أَكْبَرُ مُقَدِّمِيهِمْ إلَى الْمُسْلِمِينَ أَنْ يُسَوِّيَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ وَأَكْرَمِ الْخَلْقِ عَلَيْهِ وَسَيِّدِ وَلَدِ آدَمَ وَخَاتَمِ الْمُرْسَلِينَ وَبَيْنَ مَلِكٍ كَافِرٍ مُشْرِكٍ مِنْ أَعْظَمِ الْمُشْرِكِينَ كُفْرًا وَفَسَادًا وَعُدْوَانًا مِنْ جِنْسِ بُخْتِ نَصَّرَ وَأَمْثَالِهِ

“Bahkan kebanyakan orang muslim di antara mereka, posisi mereka di mata orang-orang terkemuka dalam jajaran komandan dan menteri adalah bahwa orang muslim itu menurut mereka sama dengan orang-orang musyrik yang mereka muliakan dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh utusan tertinggi mereka kepada kaum muslimin yang datang ke Syam ketika dia berbicara dengan para utusan kaum muslimin dan mengaku bahwa mereka juga muslim untuk menarik simpati kaum muslimin. Utusan itu mengatakan: Dua orang ini adalah sama-sama ayat agung yang datang dari Allah, yaitu Muhammad dan Jangkis Khan. Inilah cara paling maksimal yang digunakan untuk menarik simpati kaum muslimin oleh utusan tertinggi mereka, yaitu menyamakan antara utusan Allah, mahkluq termulia, pemuka anak Adam dan penutup para rasul dengan seorang raja kafir lagi musyrik, di antara orang musyrik yang paling kafir, paling rusak dan paling dhalim yang setipe dengan Nebuchadnezzar[5] dan orang-orang seperti dia.”

Ucapan beliau ini sama dengan apa yang secara jelas dan tegas tergambar dalam bahasa kita hari ini mengkafirkan pemerintah. Artinya adalah menganggap negara ini sebagai negara kafir dan murtad, bukan Negara Islam karena — dalam kapasitasnya sebagai pemerintah dan negara — terdapat di dalamnya kekafiran yang nyata seperti tidak melaksanakan syariat Islam dan menjalankan hukum thaghut buatan, melegalkan tindak kekafiran dan kezindikan yang terjadi di dalam wilayahnya dan yang dilakukan oleh rakyatnya, di bidang keilmuan, tulisan, media masa, dakwah dan lain-lain, memuja keduanya (yakni kekafiran dan kezindikan) dan lebih mengunggulkan para pelakunya, loyal terhadap orang-orang kafir, dan lain-lain. Dan dalam kasus ini Syaikhul Islam menyebutkan sejumlah sebab yang menjadikan kafirnya pemerintah tersebut (Tartar) yaitu beberapa pembatal keislaman yang terdapat padanya. Ucapan beliau dalam masalah ini panjang, maka di sini cukup saya berikan sebagai isyarat dan silahkan dikaji di sumbernya.

Sampai-sampai pada satu tempat beliau mengatakan: “Kesimpulannya, madzhab yang mereka anut itu tidak dapat berkumpul dengan agama Islam.”

Dan sepertinya pada satu tempat beliau mengatakan bahwa Negara Tartar itu negara kafir, maka silahkan dicek  …!

Untuk menjelaskan ini kami katakan: Seandainya Syaikhul Islam rahimahullah ditanya: Apakah Negara Tartar, Negara bangsa Mongol yang dipimpin oleh Jangkis Khan dan anak keturunannya sampai Holako itu Negara Islam atau negara kafir?

Maka saya yakin berdasarkan apa yang beliau katakan, beliau akan menjawab bahwa negara tersebut adalah negara kafir. Wallahu a’lam.

Akan tetapi beliau tidak fokus dan tidak mengkonsentrasikan diri dengannya, mungkin karena persoalannya masih samar dan masih mengandung beberapa kemungkinan, dan adanya kemungkinan masyarakat tidak memahaminya, atau karena alasan lainnya, atau mungkin karena tidak terlalu besar manfaatnya dan tidak mempengaruhi pijakan banyak amalan. Dan beliau lebih fokus dengan sesuatu yang penting dan telah jelas, yang hampir-hampir tidak diperselisihkan lagi oleh seorang ulama’pun yang dapat dipercaya dalam jajaran ulama’ kaum muslimin, yaitu keadaan mereka yang melakukan pembangkangan dengan kekuatan untuk tidak menjalankan syariat Islam, yang menjadikan mereka wajib untuk diperangi sampai hukum Allah saja yang berlaku, dan bahwa memerangi mereka itu hukumnya wajib bagi kaum muslimin, dan bahwa model peperangannya adalah perang terhadap orang-orang yang murtad dari syariat Islam.

Namun demikian beliau tidak pernah dalam satu tempatpun dari perkataan beliau yang panjang itu menegaskan atas kafirnya semua personal mereka secara umum, atau kafirnya setiap orang yang bergabung dengan mereka dan menjadi anggota negara mereka. Sedangkan ucapan beliau yang berbunyi: “… dan setiap orang yang bergabung dengan mereka dari kalangan pemimpin perang atau pemimpin lainnya maka status hukumnya sama dengan mereka …” dan ini merupakan ungkapan yang paling tegas yang dapat ditemukan oleh orang yang mengkaji perkataan beliau, maksud dari perkataan beliau ini adalah status hukum perang dan pembunuhan.[6]

Adapun status kekafiran mereka, beliau tidak pernah menyatakannya secara tegas. Akan tetapi beliau menyebutkannya dengan ungkapan yang menunjukkan adanya rincian. Di mana beliau mengatakan: “… dan kemurtadan mereka dari syariat Islam itu sesuai dengan kadar apa yang menjadikan mereka murtad dari syariat Islam.”

Kemudian beliau merincinya pada beberapa tempat yang lain.

Bahkan beliau menegaskan bahwa tentara mereka itu percampuran dari orang-orang kafir, zindiq, atheis dan orang-orang yang melesat dari Islam dari kalangan orang-orang ahli bid’ah yang bid’ahnya sampai tingkat kekafiran yang ekstrim, orang-orang fasiq dan banyak dosa, dan sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali orang yang shalih di kalangan mereka. Misalnya saja beliau mengatakan:

وَقَدْ شَاهَدْنَا عَسْكَرَ الْقَوْمِ فَرَأَيْنَا جُمْهُورَهُمْ لَا يُصَلُّونَ وَلَمْ نَرَ فِي عَسْكَرِهِمْ مُؤَذِّنًا وَلَا إمَامًا وَقَدْ أَخَذُوا مِنْ أَمْوَالِ الْمُسْلِمِينَ وَذَرَارِيِّهِمْ وَخَرَّبُوا مِنْ دِيَارِهِمْ مَا لَا يَعْلَمُهُ إلَّا اللَّهُ . وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُمْ فِي دَوْلَتِهِمْ إلَّا مَنْ كَانَ مِنْ شَرِّ الْخَلْقِ . إمَّا زِنْدِيقٌ مُنَافِقٌ لَا يَعْتَقِدُ دِينَ الْإِسْلَامِ فِي الْبَاطِنِ وَإِمَّا مَنْ هُوَ مِنْ شَرِّ أَهْلِ الْبِدَعِ كَالرَّافِضَةِ وَالْجَهْمِيَّة والاتحادية وَنَحْوِهِمْ وَأَمَّا مَنْ هُوَ مِنْ أَفْجَرِ النَّاسِ وَأَفْسَقِهِمْ

“Dan kami telah menyaksikan sendiri para tentara mereka itu, kami melihat bahwa mayoritas mereka itu tidak shalat. Kami belum pernah melihat adanya muadzin atau imam di kalangan mereka. Mereka telah merampas harta dan anak-anak kaum muslimin, dan menghancurkan rumah-rumahnya, yang mana tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Tidak ada yang tergabung dalam negara mereka selain manusia yang paling jahat. Apakah orang yang zindiq dan munafiq yang tidak meyakini agama Islam dalam hati mereka, atau para ahli bid’ah yang paling buruk seperti Rafidlah, Jahmiyah, Ittihadiyah dan lain-lain, atau manusia-manusia yang paling banyak dosa dan paling fasiq.”

Beliau juga mengatakan:

فَهُمْ يَدَّعُونَ دِينَ الْإِسْلَامِ وَيُعَظِّمُونَ دِينَ أُولَئِكَ الْكُفَّارِ عَلَى دِينِ الْمُسْلِمِينَ وَيُطِيعُونَهُمْ وَيُوَالُونَهُمْ أَعْظَمَ بِكَثِيرِ مِنْ طَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمُوَالَاةُ الْمُؤْمِنِينَ ، وَالْحُكْمُ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَ أَكَابِرِهِمْ بِحُكْمِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا بِحُكْمِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ . وَكَذَلِكَ الْأَكَابِرُ مِنْ وُزَرَائِهِمْ وَغَيْرِهِمْ يَجْعَلُونَ دِينَ الْإِسْلَامِ كَدِينِ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى وَإِنَّ هَذِهِ كُلَّهَا طُرُقٌ إلَى اللَّهِ بِمَنْزِلَةِ الْمَذَاهِبِ الْأَرْبِعَةِ عِنْدَ الْمُسْلِمِينَ .

ثُمَّ مِنْهُمْ مَنْ يُرَجِّحُ دِينَ الْيَهُودِ أَوْ دِينَ النَّصَارَى وَمِنْهُمْ مَنْ يُرَجِّحُ دِينَ الْمُسْلِمِينَ وَهَذَا الْقَوْلُ فَاشٍ غَالِبٌ فِيهِمْ حَتَّى فِي فُقَهَائِهِمْ وَعُبَّادِهِمْ لَا سِيَّمَا الْجَهْمِيَّة مِنْ الِاتِّحَادِيَّةِ الْفِرْعَوْنِيَّةِ وَنَحْوِهِمْ فَإِنَّهُ غَلَبَتْ عَلَيْهِمْ الْفَلْسَفَةُ . وَهَذَا مَذْهَبُ كَثِيرٍ مِنْ الْمُتَفَلْسِفَةِ أَوْ أَكْثَرِهِمْ وَعَلَى هَذَا كَثِيرٌ مِنْ النَّصَارَى أَوْ أَكْثَرُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْ الْيَهُودِ أَيْضًا ؛ بَلْ لَوْ قَالَ الْقَائِلُ : إنَّ غَالِبَ خَوَاصِّ الْعُلَمَاءِ مِنْهُمْ وَالْعِبَادِ عَلَى هَذَا الْمَذْهَبِ لِمَا أَبْعَدَ . وَقَدْ رَأَيْت مِنْ ذَلِكَ وَسَمِعْت مَا لَا يَتَّسِعُ لَهُ هَذَا الْمَوْضِعُ . وَمَعْلُومٌ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْمُسْلِمِينَ وَبِاتِّفَاقِ جَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ أَنَّ مَنْ سَوَّغَ اتِّبَاعَ غَيْرِ دِينِ الْإِسْلَامِ أَوْ اتِّبَاعَ شَرِيعَةٍ غَيْرِ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ كَافِرٌ

“Mereka mengaku sebagai orang Islam akan tetapi mereka memuja agama orang-orang kafir di atas agama kaum muslimin. Mereka mentaati dan berwala’ kepada orang-orang kafir melebihi ketaatan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya dan melebihi wala’ mereka terhadap orang-orang beriman. Mereka menyelesaikan perselisihan yang terjadi di kalangan para pembesar mereka berdasarkan hukum jahiliyah, bukan berdasarkan hukum Allah. Selain itu para pembesar mereka dari kalangan menteri dan yang lainnya, menganggap agama kaum muslimin itu sama dengan agama Nasrani dan Yahudi, dan bahwa semua itu adalah tata cara dalam beribadah kepada Allah yang kedudukannya sama dengan empat madzhab di kalangan kaum muslimin. Kemudian di antara mereka ada yang memandang bahwa agama Yahudi atau agama Nasrani itu lebih benar, dan di antara mereka ada juga yang memandang bahwa agama kaum muslimin itu lebih benar. Pendapat semacam ini telah menyebar dan dominan di tengah-tengah mereka sampai di kalangan para ahli fiqih dan ahli ibadah mereka, apalagi orang-orang Jahmiyah dari kalangan Ittihadiyah Fir’auniyah dan lainnya, karena filsafat lebih dominan di kalangan mereka. Ini merupakan pendapat banyak kalangan atau mayoritas dari penganut falsafat. Namun banyak atau bahkan kebanyakan orang-orang Nasrani dan Yahudi juga berpandangan seperti ini. Bahkan jika ada yang mengatakan bahwa mayoritas elit ulama’ dan ahli ibadah mereka itu pandangannya seperti ini, tentu perkataan orang itu tidak jauh dari kenyataan. Sungguh saya telah melihat dan mendengar sendiri semua itu yang jika diceritakan di sini tentu tidak akan muat. Padahal telah diketahui secara pasti dan baku, bahkan berdasarkan kesepakatan seluruh kaum muslimin bahwasanya barangsiapa membenarkan orang untuk mengikuti agama selain agama Islam atau mengikuti syariat selain syariat Muhammad SAW maka dia kafir.”

Dan ketika Syaikhul Islam ditanya tentang status hukum orang mukrah (dipaksa) di antara mereka, beliau menjawab dengan jawaban yang telah terkenal, yang itu menunjukkan bahwa beliau mengakui adanya orang-orang mukrah di tengah-tengah mereka.

Adapun mengenai takwil, maka beliau menegaskan bahwa kaum Tartar tersebut (yakni negara dan pemerintahnya) tidak mempunyai takwilan yang bisa diterima maupun tidak bisa diterima. Syaikhul Islam mengatakan bahwa sebagian orang murtad yang menolak membayar zakat yang diperangi oleh Abu Bakar Ash Shiddiq RA bersama seluruh sahabat lainnya itu memiliki syubhat yang tidak bernilai dan takwil yang tidak bisa diterima, yang mana mereka berdalil dengan ayat:

خذ من أموالهم صدقة

"Ambilah dari harta mereka sebagai sedekah (zakat)."

Mereka mengatakan bahwa perintah ini ditujukan kepada Nabi SAW sehingga apabila beliau telah meninggal maka kita tidak akan berikan kepada siapapun. Syaikhul Islam mengatakan: “Para sahabat semuanya tidak menerima takwil (alasan) ini dan memerangi mereka semua dengan model perang terhadap orang-orang murtad.” Beliau mengatakan: “Sementara orang-orang Tartar itu tidak memiliki sebuah syubhatpun walau sekedar syubhat yang nilainya mendekati syubhat yang tidak bernilai ini.” Ini perkataan beliau, semoga Allah merahmati beliau.

Inilah apa yang beliau katakan mengenai takwil kaitannya dengan Tartar yang mana mereka itu adalah Jengkis Khan dan negaranya.

Dari sini dapat dipahami masih terbukanya peluang adanya takwil (yang menghalangi jatuhnya vonis kafir) pada diri orang yang masuk dan tergabung dalam tentara, pasukan dan negara mereka dari kalangan kaum muslimin awam yang bodoh. Ini mungkin!

Ini kami sebutkan sebagai penguat dan pelajaran saja, karena yang menjadi dalil itu hanyalah Al Qur’an dan Sunnah serta apa saja yang semakna dengan keduanya.

Selain itu, Syaikhul Islam rahimahullah ketika menyebutkan di beberapa tempat, yang mana beberapa kelompok yang beliau sebutkan dalam tentara mereka itu adalah: para fuqaha’, para ahli ibadah, orang-orang faqir (sufi) dan lain-lain. Pada setiap ucapan beliau itu engkau dapat perhatikan bahwa beliau itu tidak mengkafirkan semua golongan tersebut hanya sekadar mereka tergabung dalam tentara Tartar. Akan tetapi beliau menjadikan semua itu secara terperinci sebagaimana yang beliau sebutkan pada tempatnya. Wallahu a’lam.

Namun demikian beliau tetap menyebut mereka dengan sebutan “muslimin”.

Misalnya dalam ucapan beliau:

كَذَلِكَ وَزِيرُهُمْ السَّفِيهُ الْمُلَقَّبُ بِالرَّشِيدِ يَحْكُمُ عَلَى هَذِهِ الْأَصْنَافِ وَيُقَدِّمُ شِرَارَ الْمُسْلِمِينَ كَالرَّافِضَةِ وَالْمَلَاحِدَةِ عَلَى خِيَارِ الْمُسْلِمِينَ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ حَتَّى تَوَلَّى قَضَاءَ الْقُضَاةِ مَنْ كَانَ أَقْرَبَ إلَى الزَّنْدَقَةِ وَالْإِلْحَادِ وَالْكُفْرِ بِاَللَّهِ وَرَسُولِهِ بِحَيْثُ تَكُونُ مُوَافَقَتُهُ لِلْكُفَّارِ وَالْمُنَافِقِينَ مِنْ الْيَهُودِ وَالْقَرَامِطَةِ وَالْمَلَاحِدَةِ وَالرَّافِضَةِ عَلَى مَا يُرِيدُونَهُ أَعْظَمَ مِنْ غَيْرِهِ وَيَتَظَاهَرُ مِنْ شَرِيعَةِ الْإِسْلَامِ بِمَا لَا بُدَّ لَهُ مِنْهُ لِأَجْلِ مَنْ هُنَاكَ مِنْ الْمُسْلِمِينَ "أ.هـ.

“Demikian pula menteri dungu mereka yang mereka gelari dengan Ar Rasyid, dia berkuasa atas semua golongan tersebut dan lebih mengutamakan kaum muslimin yang jelek-jelek seperti Rafidlah dan orang-orang Atheis daripada kaum muslimin yang baik-baik, orang-orang yang berilmu dan beriman, sampai-sampai mereka mengangkat hakim agung mereka dari orang yang paling dekat dengan kezindiqan, atheis dan kekafiran kepada Allah dan Rasul-Nya, di mana kesesuaian orang-orang kafir dan munafiq dari kalangan Yahudi, Qaramithah, Atheis dan Rafidlah dengan apa yang mereka inginkan itu lebih besar daripada yang lainnya, dan mereka menampakkan diri dengan syariat Islam yang harus dinampakkan lantaran adanya orang-orang muslim di sana.”

Juga seperti dalam ucapan beliau:

فَمَنْ دَخَلَ فِي طَاعَتِهِمْ جَعَلُوهُ وَلِيًّا لَهُمْ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا وَمَنْ خَرَجَ عَنْ ذَلِكَ جَعَلُوهُ عَدُوًّا لَهُمْ وَإِنْ كَانَ مِنْ خِيَارِ الْمُسْلِمِينَ . وَلَا يُقَاتِلُونَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَلَا يَضَعُونَ الْجِزْيَةَ وَالصَّغَارَ . بَلْ غَايَةُ كَثِيرٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ مِنْهُمْ مَنْ أَكَابِرِ أُمَرَائِهِمْ وَوُزَرَائِهِمْ أَنْ يَكُونَ الْمُسْلِمُ عِنْدَهُمْ كَمَنْ يُعَظِّمُونَهُ مِنْ الْمُشْرِكِينَ مِنْ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى

 “Maka barangsiapa mau taat kepada mereka, niscaya mereka jadikan sebagai pemimpin bagi mereka meskipun dia kafir. Sedangkan orang yang membelot mereka anggap sebagai musuh mereka, meskipun orang tersebut termasuk orang baik di kalangan kaum muslimin, mereka tidak berperang atas nama Islam ataupun menggugurkan jizyah dan kehinaan (bagi orang kafir yang membayar jizyah), bahkan kebanyakan orang muslim di antara mereka, posisi mereka di mata para pembesar komandan dan menteri adalah bahwa orang muslim itu menurut mereka sama dengan orang-orang musyrik yang mereka muliakan dari kalangan Yahudi dan Nasrani.”

Yang seperti ini akan engkau sering dapatkan dalam ucapan Syaikhul Islam rahimahullah. Dan kata-kata “muslim” dan “muslimin” tersebut haruslah difahami sesuai dengan kontek pembicaraannya di masing-masing tempat. Karena terkadang beliau menyebutnya berdasarkan status sebelumnya, atau berdasarkan pengakuan mereka, sebagaimana terkadang juga mengandung kemungkinan hal itu berdasarkan dhahirnya sebagai orang Islam sampai adanya kejelasan atas kafirnya masing-masing individu mereka. Wallahu a’lam.

Di tempat lainnya beliau mengatakan:

فهؤلاء القوم المسؤول عنهم عسكرهم مشتمل على قوم كفار من النصارى والمشركين، وعلى قوم منتسبين إلى الإسلام ،وهم جمهور العسكر، ينطقون بالشهادتين إذا طلبت منهم، ويعظمون الرسول، وليس فيهم من يصلي إلا قليل جداً، وصوم رمضان أكثر فيهم من الصلاة، والمسلم عندهم أعظم من غيره، وللصالحين من المسلمين عندهم قد، وعندهم من الإسلام بعضه، وهم متفاوتون فيه

“Orang-orang yang menjadi obyek pertanyaan tersebut, tentara mereka terdiri dari orang-orang kafir dari kalangan Nasrani dan orang-orang musyrik, ada juga orang-orang yang mengaku Islam, dan ini mayoritas tentara mereka. Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat jika mereka diminta mengucapkannya, mereka mengagungkan Rasul. Namun mereka yang shalat sedikit sekali. Orang yang puasa Ramadlan lebih banyak daripada yang shalat. Orang muslim di kalangan mereka lebih terhormat daripada yang lainnya. Orang-orang muslim yang shalih mendapatkan penghormatan di sisi mereka. Sebagian lagi mereka melaksanakan sebagian ajaran Islam. Dan mereka ini sangatlah berbeda-beda tingkatannya dalam Islam.”

Di tempat lainnya beliau mengatakan:

وأيضاً لا يقاتل معهم غير مكره إلا فاسق، أو مبتدع، أو زنديق، كالملاحدة القرامطة الباطنية، وكالرافضة السبابة، وكالجهمية المعطلة من النفاة الحلولية…

“… dan juga, tidak ada yang ikut berperang bersama mereka selain orang yang mukrah (dipaksa) kecuali orang fasiq, atau ahli bid’ah, atau zindiq seperti orang-orang atheis Qaramithah Bathiniyah, Rafidlah Sabbabah, dan seperti Jahmiyah Mu’athilah dari kalangan Nufat Al Hululiyah …”[7]

Ibnu Katsir rahimahullah menceritakan beliau di dalam Al Bidayah Wan Nihayah, bahwasanya beliau berkeliling di tengah-tengah pasukan kaum muslimin sambil memotivasi mereka dan menghilangkan keragu-raguan mereka dalam memerangi bangsa Tartar tersebut dengan mengatakan:

لو رأيتموني في صفهم وعلى رأسي المصحف فاقتلوني

“Jika kalian melihat saya dalam barisan mereka dan di atas kepala saya ada Al Qur’an maka bunuhlah saya.”

Ini menunjukkan penegasan beliau atas tidak kafirnya orang hanya sekadar berada dalam barisan mereka, menunjukkan betapa beliau berusaha untuk menjauhi vonis kafir kecuali ketika benar-benar sangat jelas dan buktinya sangat terang, menunjukkan kehati-hatian beliau dalam masalah ini, dan menunjukkan fokus beliau terhadap satu hukum yang sudah sangat jelas dan nyata, yaitu: disyariatkannya bahkan diwajibkannya memerangi dan membunuh bangsa Tartar tersebut.

Selain itu semua, sesungguhnya kesimpulan dari apa yang beliau ucapkan itu adalah bahwasanya beliau menganggap perang terhadap mereka ini masuk dalam kategori perang terhadap orang-orang yang enggan melaksanakan syariat Islam (perang terhadap thaifah mumtani’ah), dan ini sangat mirip dengan perang terhadap orang-orang murtad yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq dan para sahabat lainnya, semoga Allah meridlai mereka semua.

Sedangkan beberapa fuqaha’ yang menganggap perang terhadap mereka ini masuk dalam kategori perang terhadap bughat (para pembangkang), maka sesungguhnya Syaikhul Islam menganggap pendapat ini adalah pendapat yang bodoh sekali dengan ungkapan yang sangat tegas dan keras.

Ini saya sebutkan di sini sebagai penguat dan tambahan, dan segala puji bagi Allah atas bimbingan-Nya.

 

Bersambung….

 


[1] Saya berharap para pembaca tidak tergesa-gesa untuk anti pati dan menolak ketika penulis (Abu Turab Al Janubi) memberi judul [Pendapat Syaikh ‘Athiyatullah …], seraya mengatakan atau membatin: apalah pendapat Syaikh ‘Athiyatullah jika dibandingkan dengan hukum Allah dan Rasul-Nya. Atau jika menurutnya pendapat beliau tidak sesuai dengan yang dia pahami dari dalil Al Qur’an dan Sunnah, dengan lantang mengatakan: Hampir saja batu menghujani kalian dari langit, saya katakan ini sabda Rasulullah SAW, sementara kalian mengatakan ini pendapat Abu Bakar dan Umar. Dalam menjelaskan persoalan yang bersifat ijtihadi seperti ini, Syaikh ‘Athiyatullah sebelum menjawab pertanyaan beliau pernah menjelaskan:

“Engkau harus mengerti bahwa ketika engkau bertanya tentang pendapatku, maka saya katakan ini adalah pendapatku sesuai dengan apa yang Allah nampakkan kepadaku. Lalu saya sampaikan pendapat dan pengetahuan saya. Dan kita tidak mengatakan bahwa ini adalah hukum syar’i, kecuali pada permasalahan yang telah kita ketahui secara yakin bahwa persoalan tersebut adalah hukum dan syari’at Allah. Seperti permasalahan-permasalahan yang disebutkan secara nash dan disepakati secara ijma’. Adapun mayoritas persoalan yang kita bicarakan ini adalah persoalan ijtihad dan kajian, yang mana kesimpulannya diambil dengan cara istidlal (memahami dalil), dan bukan dalam persoalan yang bisa dikatakan: ini adalah hukum Allah .. Allah ta’ala berfirman:

ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب

"Dan janganlah kalian mengatakan dengan lisan kalian secara dusta bahwa ini halal dan ini haram untuk membuat kedustaan kepada Allah."

Dan Rasul SAW bersabda:

وإذا حاصرت أهل حصن فأرادوك أن تنزلهم على حكم الله فلا تنزلهم على حكم الله، ولكن أنزلهم على حكمك فإنك لا تدري أتصيب حكم الله فيهم أم لا

"Dan apabila engkau mengepung suatu benteng, lalu penghuni benteng tersebut meminta agar kamu memperlakukan mereka sesuai dengan hukum Allah maka janganlah kamu memperlakukan mereka dengan hukum Allah. Akan tetapi perlakukanlah mereka sesuai dengan hukummu, karena kamu tidak tahu apakah kamu tepat dalam memperlakukan mereka sesuai dengan hukum Allah atau tidak."

Hadits riwayat Muslim dan lainnya dari hadits Buraidah bin Al Hushaib.

Demikianlah cara para ulama’ dan para imam kita dalam berfatwa dan berpendapat pada semua permasalahan, yaitu mengatakan: Kami berpendapat begini … Kami tidak berpendapat begini … Kami senang begini … Kami tidak senang yang begini … Kecuali pada persoalan yang ada nashnya dari Allah dan Rasul-Nya, atau pada persoalan yang kejelasannya setara dengan yang ada nashnya, sebagaimana yang ditetapkan oleh para ulama’ kita pada tempatnya, sebagaimana juga yang dapat engkau lihat secara panjang lebar di dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in dan yang lainnya.

Intinya bahwa apa yang saya katakan ini adalah pendapat saya.

Jika benar maka dari Allah dan jika salah maka dari saya dan dari Setan, sementara Allah ta’ala dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.”

Demikianlah penjelasan Syaikh ‘Athiyatullah dalam Liqa’ Maftuh nya. Sedangkan dalam mengomentari hadits di atas Ibnul Qayyim berkata: “Dalam hadits ini terdapat hujjah yang sangat jelas atas tidak diperbolehkannya mengatakan hukum Allah pada persoalan ijtihadi yang mana dia tidak ketahui bahwa hal tersebut secara yakin memang hukum Allah. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf: Takutlah kalian untuk mengatakan; Allah telah menghalalkan begini, atau mengharamkan begini, sehingga kelak Allah akan mengatakan kepadanya: Kau dusta, Aku tidak menghalalkan begini dan tidak mengharamkan begini.” (Ahkamu Ahlidz Dzimmah I/114)

[2] Dalam buku Ahlul Qiblah ketika mengoreksi pendapat Syaikh Abdul Qadir yang mengkafirkan semua pembela thaghut secara ta’yin, Syaikh Abu Qatadah mengatakan: “Terkadang suatu kaum itu diperangi sebagaimana kita memerangi orang-orang murtad dan kita namakan kelompoknya sebagai kelompok murtad namun kita tidak menamakan setiap personalnya sebagai orang-orang murtad lantaran adanya penghalang yang terdapat pada sebagian personal dari kelompok tersebut. Maka dengan sekedar adanya kemungkinan terdapat penghalang, kita harus memberlakukan dan memperhatikannya. Dan di sini dia sendiri (Syaikh Abdul Qadir) mengakui akan adanya kemungkinan terdapatnya penghalang. Bahkan inilah yang lebih dominan terjadi pada jaman kita ini. Maka adanya penghalang ini wajib untuk diberlakukan.

Syaikh Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: ‘Tidak bisa dikatakan bahwa sekedar berkumpul dan tinggal bersama orang musyrik itu seseorang menjadi kafir. Akan tetapi yang dimaksud adalah bahwa barangsiapa tidak mampu keluar dari perkumpulan orang-orang musyrik lalu mereka memaksanya ikut keluar bersama mereka maka hukumnya orang tersebut sama dengan mereka dalam persoalan boleh dibunuh dan diambil hartanya, dan bukan dalam masalah dikafirkan.’ [Majmu’atur Rasa-il Wal Masa-il jilid XII, bagian I, halaman 135]”

Dalam buku yang sama Syaikh Abu Qatadah mengatakan:

“ …tentang Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Tidak ada pada semua kelompok yang mengaku Islam yang ada kebid’ahan dan kesesatannya yang lebih buruk daripada mereka. Tidak ada yang lebih bodoh, lebih dhalim dan lebih dekat kepada kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, yang lebih jauh dari hakekat-hakekat iman daripada mereka. Orang-orang Rafidlah itu adalah antara orang munafiq atau orang yang bodoh. Tidak ada orang Rafidlah atau Jahmiyah selain orang yang munafiq atau orang yang bodoh terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi SAW.’ [Manhajus Sunnah V/160-161]

Meskipun beliau mengatakan seperti ini terhadap mereka, namun beliau juga mengatakan tentang mereka: ‘Yang benar adalah bahwa keyakinan-keyakinan yang mereka katakan itu, yang diketahui bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Rasul SAW itu adalah kekafiran. Demikian pula perbuatan-perbuatan yang merupakan jenis perbuatan orang-orang kafir terhadap orang-orang muslim adalah juga kekafiran. Akan tetapi untuk mengkafirkan salah seorang tertentu di antara mereka dan memvonisnya kekal di neraka, itu tergantung dengan terpenuhinya syarat-syarat takfir dan penghalang-penghalangnya.’ [Al Fatawa XXVIII/500]

Demikianlah, meski demikian para imam kaum muslimin menamakan Rafidlah ini sebagai kelompok murtad dan kafir. Al Bukhari mengatakan: Bahwa Abdur Rahman bin Mahdi mengatakan: Keduanya adalah dua agama, Jahmiyah dan Rafidlah.’ [Khalqu Af’alil ‘Ibad, karangan Al Bukhari, hal. 125] Bahkan Ibnu Taimiyah menyebut mereka itu termasuk dalam sifat munafik. Beliau mengatakan: ‘Rafidlah itu kondisi mereka adalah termasuk jenis orang-orang munafiq.’ [Minhajus Sunnah VI/424].

Dengan demikian kita tahu bahwa harus dibedakan antara memvonis kafir terhadap kelompok dengan memvonis para personalnya.”

[3] Ini persis dengan apa yang dinasehatkan oleh Syaikh Sulaiman Al ‘Ulwan dalam Syarhu Al Wasithiyah. Di sana beliau mengatakan: “Pembatal-pembatal Islam itu dipelajari dan diajarkan dengan membahas nau’ (amalan-amalam kekafiran) nya, bukan dengan membahas ‘ain (pelaku) nya. Dan hendaknya setiap penuntut ilmu dan orang awam baik laki-laki maupun perempuan mempelajari dan menghafalnya sehingga dia dapat mewaspadainya dan menetapkan prinsip umumnya, bahwa jika ia melakukan pembatal tersebut maka dia kafir. Akan tetapi ketika menerapkan hukum tersebut kepada si A atau si B, maka ini di luar wilayah orang awam sehingga hendaknya ia serahkan masalah ini kepada orang yang berilmu, selama orang awam tersebut bukan sebagai muqallid bagi seorang ulama’ yang dia percayai imannya, ilmunya dan kewara’an (kehati-hatiannya) dalam masalah ini.” (Dinukil dari Al I’dad Syar’i, Syaikh Abu Maryam Al Uzdi)

[4] Syaikh ‘Athiyatullah menyinggung masalah ini di tempat yang lain dalam Liqa’ Maftuh, beliau mengatakan:

“Namun demikian tidak mengapa kami cantumkan catatan di sini:

Yaitu masalah Musailamah Al Kadzab dan orang-orang yang semacamnya, serta para pengikutnya yang dikafirkan oleh para sahabat berdasarkan ijma’, dan juga yang disepakati oleh para ulama’ Islam secara ijma’.

Ketahuilah bahwasanya para sahabat itu mengkafirkan mereka itu alasannya adalah karena  mereka mengikuti orang-orang pendusta yang mengaku sebagai nabi. Maka para sahabatpun bersepakat mengkafirkan semua orang yang beriman, mengikuti dan membela para pendusta tersebut.

Dan tidak diragukan lagi bahwa mengaku sebagai nabi setelah Nabi Muhammad SAW, dan mengikuti orang-orang yang mengaku-aku sebagai nabi tersebut adalah perbuatan kafir akbar yang mengeluarkan pelakunya dari Islam berdasarkan ijma’ yang tidak ada perselisihan di kalangan umat Islam dalam masalah ini. Dan ini adalah termasuk perkara yang secara pasti dapat diketahui dari ajaran Islam yang baku bagi semua orang.

Inilah perkara yang disepakati oleh para sahabat RA.

Adapun contohnya pada jaman kita ini adalah: kelompok Baha-iyah Babiyah dan kelompok Qadiyaniyah, kami berlepas diri kepada Allah dari mereka. Maka mereka ini adalah orang-orang kafir berdasarkan ijma’. Dan kekafiran mereka ini termasuk perkara yang secara pasti diketahui dari ajaran Islam yang mana orang yang tidak sependapat akan kafir juga seperti mereka jika telah mengetahui kondisi mereka.

Lalu apakah memvonis kafir seorang penguasa dari penguasa-penguasa yang tidak menjalankan syariat Islam pada hari ini atau yang melakukan pembatal Islam lainnya, apakah kekuatan vonis kafir ini sama dengan kekuatan vonis kafirnya Musailamah Al Kadzab dan para pengikutnya?

Yang benar adalah bahwa kasus ini berbeda sebagaimana yang telah kami jelaskan. Karena terkadang vonis kita kepada beberapa penguasa itu kekuatan dan kejelasannya mendekati vonis kita kepada Musailamah dan para pengikutnya, dan terkadang perbedaannya jauh.

Dan sebagaimana yang telah kami katakan berkali-kali bahwa para penguasa murtad ini tidaklah satu tingkat kejelasannya. Dan kekuatan vonisnyapun juga tidak satu tingkat.

Maka barangsiapa tidak memperhatikan hal ini dia salah ..!

Wallahu a’lam wa bihi at taufiq.

[5] Nebukadnezar (605-563 SM) M. raja paling terkenal Negara Babilonia modern yang memimpin tentara Babilonia dalam pertempuran yang menentukan di negeri Syam dan menghancurkan beberapa kerajaan, termasuk Kerajaan Yehuda (yakni kerajaan yang disebutkan dalam Taurat sebagai kerajaan dua suku bangsa Israel setelah kerajaan kesatuan Israel dibagi menjadi dua yaitu: Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel Utara). Nebukadnezar sendiri artinya adalah pembela Nebu. Sedangkan Nebu yang adalah dewa perdagangan putra dewa Marduk bagi bangsa Babilonia. (Wikipedia)

[6] Lihat foot note no. 9

[7] Qaswaratut Tauhid, seorang penulis senior yang mendapatkan titel qalam jihadi mumayyiz di situs Al Jihad Al ‘Alami, dalam mengomentari perkataan Ibnu Taimiyah ini mengatakan: “Di sini Ibnu Taimiyah membagi tentara Tartar menjadi tiga macam, padahal Tartar itu kekafirannya lebih banyak dan lebih besar daripada pemerintah-pemerintah hari ini dalam memerangi agama Allah. Dan beliau menyebutkan tiga macam hukum bagi mereka:

Pertama: Fasiq. Sementara telah diketahui bahwa fasiq itu tidak kafir berdasarkan ijma’ kaum muslimin. Dan Ibnu Taimiyah menyebutnya dengan Fasiq Milli, artinya masih di atas millah (agama) Muhammad SAW.

Kedua: Mubtadi’ (ahli bid’ah). Sementara menurut pendapat yang rajih (kuat) Murji-ah dan Jahmiyah itu tidak kafir secara ta’yin (tiap individunya), yaitu orang-orang yang menyangka bahwa thaghut itu adalah ulil amri dan yang menganggap orang-orang yang berseberangan dengan mereka sebagai khawarij.

Ketiga: Zindiq. Dan yang ini adalah murtad berdasarkan ijma’ kaum muslimin.”

Tinggalkan Balasan

Muqawamah Media adalah fasilitator antara umat dengan para Pemimpin dan Ulama mereka. Muqawamah Media akan berusaha menghubungkan pesan, arahan, dan nasehat-nasehat dari para Ulama dan Pemimpin umat tersebut kepada umatnya.

Email: [email protected]

Newsletter

Bagi kaum muslimin yang hendak menyalurkan donasi, dapat transfer ke rekening berikut :