REKONTRUKSI DAKWAH NAJD

Oleh: Sofyan Sauri*

Fenomena gerakan Jihad destruktif yang meremehkan darah kaum muslimin, seperti terjadi di Timur-Tengah yang diusung Islamic State (ISIS) dan kejadian di tanah air baru-baru ini seperti tragedi Thamrin tidak lepas dari qaul dan fatwa gerakan Najd generasi kedua.

 Kepentingan pengaruh geopolitik dan pengaruh fatwa qaul Najd berbanding lurus dengan upaya memerangi madzhab di seluruh Najd dan Hijaz, untuk itu gerakan Najd dalam sejarahnya tidak pernah memerangi kafir Asli, vonis murtad, musyrik dan kafir hanya di tujukan kepada lawan-lawan politik gerakan Najd. Hal ini diperparah, dengan adanya infiltrasi penjajahan Inggris untuk mensupport pemberontakan terhadap Khalifah Turki Ustmani yang sebelumnya difatwakan kafir oleh gerakan Najd. Dan hari ini, luka tersebut dibuka kembali oleh generasi baru instan dalam gerakan Jihad, awalnya hanya sebuah ide dan gagasan gerakan ini muncul dari penjara-penjara mesir di era 60-an pasca memberangus gerakan Islam di sana seperti Syukri Musthafa dan Dr. Ahmad Aljazairi. 

Ketika invasi Amerika Serikat pada 2003 ke Iraq dimulai, gerakan Jihad yang concern dengan musuh dekat (rezim-rezim yang dianggap Murtad, pent) muncul. Lalu tidak beberapa lama kemudian mereka menyatakan bergabung dengan Al-Qaeda, penggabungan dua manhaj berbeda ini dilakukan demi kepentingan politik jihad. Sehingga, Syaikh Usamah bin Ladin mau menerima baiat setia Abu Mush’ab Az-Zarqawi, Amir Jamaah Tauhid wal Jihad untuk bergabung kepada Al-Qaeda. Kemudian dalam perkembangannya, al-Qaeda Irak yang bertransformasi menjadi Daulah Islam Irak selanjutnya bertransformasi lagi menjadi Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) setelah lepas dari induknya (al-Qaeda) mereka mengklaim dirinya dengan menamakan sebagai Khilafah.

Sikap nyeleneh gerakan ini, adalah fenomena menarik di dalam tubuh gerakan Islam modern, gerakan Jihad Islam sejatinya gerakan pembebasan negeri Muslim sebagai respon negeri Islam yang terjajah baik invasi asing maupun sebagai respon represif rezim di negeri-negeri muslim. Akan tetapi, dalam perjalanannya gerakan ini mengalami distorsi orientasi akibat kooptapsi intelejen yang memanfaatkan mereka untuk dibenturkan dengan gerakan Islam yang familiar dengan masyarakat seperti Ikhwanul Muslimin. 

Mereka melihat gerakan takfiri bisa dijadikan alat untuk black campaign pada gerakan Islam yang mengusung tathbiq Asy-Syar’i atau penerapan syariat Islam melalui formalisasi dalam perundang-undangan di negeri-negeri Islam. Fenomena kemunculan gerakan Islam yang menjamur ini mengancam eksistensi rezim dan kepentingannya di satu sisi, tetapi di lain sisi perkembangannya harus bisa di kontrol bahkan dikendalikan penyebarannya oleh negara, yang menarik dari gerakan takfiri ini adalah semangat mereka bisa digunakan untuk dibenturkan dengan kelompok yang tidak bisa dikendalikan. 

Sejatinya, kelahiran fenomena gerakan takfiri tidak bisa dilepaskan dari semangat yang meluap-luap pengusungnya. Justru di sinilah celah kesesatan itu muncul, terlalu percaya diri akibat tidak bisa memadukan teks nash yang tercantum dalam al-Qur’an dengan aplikasi pada tataran realita hingga menyebabkan banyak benturan resistensi dalam perjalanannya. Sikap tanaquth (bertolak belakang,pent) dan ta’arudh (kontradiksi) dalam operasi aksi-aksinya yang tidak bertanggung jawab telah membuat blunder dan mengakibatkan gerakan Jihad selalu gagal mencapai tujuannya.

Benang Merah Aliran Takfiri Dalam Gerakan Jihad Global
Legalitas syariat bagi sebuah operasi militer adalah bentuk komunikasi politik gerakan  Jihad, dia merupakan dialektika lama  yang terjadi sejak pertengahan tahun 1980-an di Mesir dan negara-negara jazirah Arab. Tahun-tahun itu merupakan fase akhir dari episode jihad melawan pemerintahan Muslim (rezim lokal), di jazirah Arab — dan sayangnya juga diseluruh penjuru bumi — yang penuh dengan kegagalan.

Sejatinya, operasi ini ingin mendapatkan simpati masyarakat Muslim lainnya, karena dukungan ummat adalah amunisi terbaik bagi umur gerakan Islam, terpisahnya gerakan jihad Islam dengan umat Islam adalah ajal yang siap menanti di liang kebinasaan. Alih-alih ingin mendapatkan simpati ummat, justru celaan yang didapatkan. Demikian sunnah kehidupan, ketentuan berlaku bagi siapa saja yang ingin memetik buah jihad yang belum matang untuk dipetik.

Kesalahan dalam menentukan target, timing waktu yang prematur dan status kehalalan operasi militer bagi gerakan Jihad adalah momok menyeramkan bagi ajal gerakan Islam. Banyak gerakan Islam karam aktifitasnya, dikarenakan kesalahan-kesalahan di atas yang terus berulang, mereka gulung tikar dikarenakan tinggimya semangat para pendukung yang tidak diimbangi ilmu yang menjaganya. 

Kesalahan itu diperparah dengan lepasnya dukungan ummat Islam karena sering tidak nyambung dengan logika ummat Islam, para pakar komunikasi dan pakar perang gerilya membuat rumus sosiologi tentang masyarakat bahwa rakyat adalah elemen terpenting dan terdepan dalam melindungi perang gerilya, bahkan beberapa nasehat petinggi dan tokoh Jihad sering mengatakan bahwa masyarakat Islam adalah oksigen bagi Jihad. Sementara, musuh gerakan Islam terus mengagendakan upaya menjauhkan massa Islam dengan pengusung ide gagasan.

Mesir Negeri Gerakan Jihad
Banyak gerakan Islam yang muncul di Mesir telah menjadi cikal bakal gerakan Islam di seluruh negeri-negeri Muslim, metode dan manhaj-nya membuat inspirasi model ideal gerakan Islam. Akan tetapi, ketika badai prahara menimpa gerakan Ikhwanul Muslimin di era 50 dan 60-an telah membuat gerakan ini lumpuh dikarenakan tokoh-tokohnya tertangkap di penjara-penjara rezim Mesir. Kelanjutan tarbiyah pembinaan kader-kadernya mulai tersendat, kemudian mulai mencari model alternatif pembinaan dan doktrin gerakan Islam yang lain. Ketika Ikhwanul Muslimin menjadi gerakan terlarang di Mesir, mereka para kadernya membuat baju baru untuk mengamankan semangat pengikutnya. 

Banyak kader gerakan Islam ini mencari inovasi dan improvasi dengan gerakan Islam di luar negeri, seperti gerakan Najd yang mulai tumbuh di Mesir seperti  Jama’ah Ansharul  Muhamadiyyah (JAM) dalam hal ini Dr. Sayyid Iman dan Dr. Ayman Adz-Zawahiri pernah mengikuti kajian-kajianya di beberapa masjid mereka. Dari sini, munculah Jama’ah Jihad yang kelak bergabung dengan gerakan Islam global Al-Qaeda. 

Di antara baju baru, gerakan Islam yang terinspirasi Ikhwanul Muslimin di kampus-kampus besar di Mesir adalah Jamaah Islamiyah (JI). JI di motori oleh ulama tuna netra, Syaikh Umar Abdurahman, yang hari ini masih mendekam di penjara Amerika setelah ditangkap oleh otoritas Mesir yang bekerjasama dengan Amerika saat itu. 

Kekosongan ulama dan tokoh gerakan Islam di negeri Kinanah itu, akibat lari dari kekejaman rezim represif Mesir ke negeri-negeri tetangganya, telah membuat gerakan Islam sedikit kesulitan mencari sosok pengarah dan murabbi gerakan dakwah ini. Banyak tokoh dan ulama Ikhwanul Muslimin di antaranya DR. Muhammad Qutb, Dr. Yusuf Qardhawi, Syaikh Sayyid Sabiq, Dr, Muhammad al-Ghazali, Syaikh Kamaludin As-Sananiri yang ikut hijrah ke negeri tetangga seperti Saudi Arabia dan negeri Islam lainnya.

Masuknya pemikiran Salafi, yang familiar dengan qaul dan fatwa Imam Dakwah Najd telah ikut mewarnai gerakan Islam di Mesir saat itu. Di sinilah gesekan pemikiran dan politik bertemu menjadi karakter gerakan Mesir selanjutnya. Mereka mulai familiar dengan pemikiran Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul qayyim, tidak hanya itu qaul-qaul keras fatwa Najd juga mulai mewarnai karakter Jamaah Islam yang mulai menemukan referensi akan legalnya memerangi rezim jahat seperti Mesir saat itu. 

Pecah Kongsi Aliran Jihad
Dalam aliran thiyyar jihadi, terdapat perbedaan mencolok yang akhirnya menjadi penyebab terpecahnya gerakan Jihad saat ini. Perbedaannya, selalu berputar dalam masalah tentang boleh atau tidaknya memerangi rezim tanpa mengkafirkan mereka secara individu (ta’yin) dengan memerangi sekaligus mengkafirkan individunya.

Dalam bantahannya terhadap kitab al-Qaulul Qathi’, kitab Al-Jami’ karya Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz yang tertuduh sebagai kitab yang berperan menyebarkan pemikiran Manhaj Takfiri, didalam Bab Iman dan Kafir disana ternyata didalamnya  tidak memisahkan antara sikap mengkafirkan para tentara dan polisi ini dengan sikap untuk memerangi mereka. Beliau juga, mengelompokkan mereka sebagai Kafir mumtani ‘bisy Syaukah (orang-orang kafir yang melawan dengan kekuatan,pent). Sayangnya, penerapan dhowabit takfir (rambu-rambu vonis kafir,pent) yang disajikan oleh syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz ini, memiliki banyak kecacatan dan dicurigai sebagai salah satu faktor pemicu merebaknya fikrah khawarij. Sehingga, menuai banyak kritik dari para ulama.

Syaikh Abu Bashir at-Tarthusi menerbitkan pembanding bahasan tersebut dalam buku Al-Qawaidu Fit Takfir. Demikian pula syaikh Al-Maqdisy mengkritiknya dalam catatannya berjudul An-Nukat Al-Lawami’. Dan terakhir, Majelis Komando Tertinggi al-Qaeda atas perintah syaikh Usamah (silakan cek dalam buku Letter from Abbotabad) memerintahkan Syaikh Abu Yahya Al-Liby untuk menulis Nazharat Fil Ijma Qath’i (surat perintah syaikh Usamah bisa dilihat dalam Rasail Syaikh Usamah allati Nusyirat Ba’da Istisyhadihi risalah no.19, hlm 47-48).

Dari sini, ada perbedaan yang jelas antara kedua aliran ini yang memilih jalan Jihad untuk tujuan mereka, yang pada akhirnya sebagian besar pengikut kedua jamaah ini bergabung menjadi satu dalam satu wadah yang dipelopori Syaikh Usamah Bin Ladin yaitu Tanzhim Qoidatul Jihad yang lebih berhati-hati dalam urusan darah dibanding Islamic State atau Khilafah Bahgdadi sebagai aliran Jihad yang meremehkan urusan darah.

Pemikiran Dr.Abdul Qadir bin Abdul Aziz semakin familiar dengan pemikiran madrasah Najd yang melahirkan thiyyar aliran Salafi Jihadi yang keras dan kaku hingga pada akhirnya melahirkan pemikiran takfiri. Dalam ‘Diskursus Khilafah antara Nubuwah dan Realita’ pada tanggal 1 Mei 20016 di Jakarta belum lama ini, sempat terungkap kedok mereka dengan pada pemaparan pro-Khilafah yang gandrung dengan qaul dan fatwa gerakan Najd yang selalu berputar dalam api fitnah seperti Udzhur bil Jahl ( pemberian maaf karena faktor kebodohan dalam perkara syirik akbar) , takfir Mu’ayan ( pengkafiran individu) , Asma wa ahkam ( Penamaan dan status muslim seseorang) , dan Kaidah ‘’Man lam Yukaffir aw syakka kufruhu Fahuwa kafir ( barang siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir atau ragu-ragu maka dia kafir) istilah-istilah di atas adalah perkara-perkara asing ditengah-tengah ummat Islam, merupakan bagian perkara yang bersifat rincian, yang hanya bisa diketahui melalui kajian, akan tetapi diklaim oleh para takfiri sebagai masalah ma’lum minadd dien bidh dharurah ( masalah yang telah diketahui seperti sholat, puasa, zakat dan haji), akan tetapi justru disinilah pintu masuk pengkafiran itu berkembang,  ..waallahu A’lam 

Sdr. Samsudin Uba dan Abu Nusaibah sebagai Duta Khilafah al Baghdadi saat acara diskursus Khilafah antara Nubuwah dan Realita yang sangat sering menggunakan qaul dan fatwa gerakan Najd sebagai hujjah mereka.

* penulis : Aktifis Dakwah, mantan Narapidana kasus Terorisme

Tinggalkan Balasan

Muqawamah Media adalah fasilitator antara umat dengan para Pemimpin dan Ulama mereka. Muqawamah Media akan berusaha menghubungkan pesan, arahan, dan nasehat-nasehat dari para Ulama dan Pemimpin umat tersebut kepada umatnya.

Email: [email protected]

Newsletter

Bagi kaum muslimin yang hendak menyalurkan donasi, dapat transfer ke rekening berikut :