Gerakan Kebangkitan Kemurtadan Dan Jalan Pencegahannya (Bagian 2)

 

. . . . . . . . . . . . . . .

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang baru saja saya sebutkan ini (ada di akhir bagian pertama), menurut keyakinan saya berdasar pengalaman praktek jihad, hal yang harus dilakukan oleh putra-putra gerakan jihad dan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah pada hari esok dengan berjihad melawan musuh-musuh-Nya adalah melakukan hal-hal berikut ini. Hal itu guna mencegah kemunculan fitnah seperti Dewan Kebangkitan ini dan menguburnya begitu ia muncul, bahkan mencegah agar bibit-bibitnya yang keji sama sekali tidak bisa muncul, dengan bimbingan dan pertolongan Allah semata. Kita senantiasa memohon kepada Allah petunjuk dan kelurusan dalam segala perkara.

 

Pertama: Memahami skala prioritas fase jihad

Sesungguhnya perkara terpenting yang harus dipahami dengan baik oleh sebuah kelompok mujahidin adalah memahami hakekat-hakekat setiap fase jihad yang dilaluinya. Setiap fase dari fase-fase jihad memiliki metode dan tata-cara jihad yang dipaksakan oleh realita kehidupan yang harus dihadapinya.

Setiap kondisi memiliki cara tertentu yang tepat dalam menyampaikan, baik penyampaian pemikiran dengan berkomunikasi dengan masyarakat maupun metode beramal dalam realita lapangan.

Sebagai contoh, daf’us shail (menghadapi musuh yang menyerang kaum muslimin) memiliki kekhususan-kekhususan dan fiqih haraki (fiqih pergerakan) yang khusus, yang menuntut kita untuk mengerahkan seluruh potensi dan mengarahkan usaha pokok kita untuk menolak serangan musuh, menyatukan seluruh masyarakat dan gerakan-gerakan Islam untuk memerangi musuh. Bukannya menyibukkan diri dengan perkara-perkara lain yang lebih sering memecah belah daripada memersatukan, bahkan bisa jadi tanpa sengaja menyebabkan masyarakat terjatuh dalam ‘pelukan’ musuh yang kafir dan menyebabkan kawan yang semula mencintai berbalik menjadi musuh yang membenci.

Contoh lainnya adalah menegakkan hukum hudud (potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina yang telah menikah, jilid bagi peminum khamr, dan hukuman mati bagi pembunuh, pent) di darul harbi dan di wilayah yang tidak Anda kuasai sepenuhnya. Maksudnya sebuah wilayah yang kekuasaan Anda terhadapnya hanyalah kekuasaan “fiktif” belaka; boleh jadi di waktu malam Anda yang menguasai wilayah itu, tapi di waktu siang musuh kafirlah yang menguasainya. Atau musuh kafir bisa merebut kembali dan menguasai wilayah tersebut dengan mudah, jika mereka mau.

Contoh nyata dari hal itu adalah apa yang dialami oleh Taliban Pakistan di lembah Swat, wilayah Persukuan Pakistan yang berbatasan dengan Afghanistan.[1] Pada pengalaman mereka terdapat banyak pelajaran bagi orang yang mau merenungkannya. Padahal penduduk lembah Swat sangat mencintai mujahidin dan keimanan mengakar kuat dalam hati mereka. Namun sungguh jauh perbedaan antara penguasaan yang sebenarnya dengan penguasaan “fiktif” yang temporal.

Contoh lainnya adalah mewajibkan masyarakat untuk menyerahkan sebagian harta mereka guna membiayai jihad fi sabilillah. Meskipun tindakan itu dibolehkan oleh sebagian ulama fiqih dengan syarat-syarat yang telah disebutkan dalam kitab-kitab fiqih, namun hal yang harus selalu diperhatikan adalah dampak dari setiap tindakan, maslahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan) yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Biasanya tindakan itu justru menyebabkan masyarakat bersatu untuk gerakan jihad, apalagi dalam kondisi kelemahan. Hal ini juga pernah terjadi di sebagian wilayah persukuan Pakistan, hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Sebagian kecil contoh yang saya sebutkan ini dan contoh-contoh lain yang belum saya sebutkan sangat banyak, adalah perkara yang harus dijaga dan diperhatikan dengan baik dalam memanage peperangan. Dengan demikian musuh tidak akan mendapatkan pintu masuk untuk merusak masyarakat dan memprovokasi mereka untuk memerangi mujahidin.

 

Kedua: Berkomunikasi dengan masyarakat sesuai madzhab yang mereka pahami

Hal ini termasuk perkara yang penting dan sangat perlu dalam praktek jihad, yaitu berkomunikasi dengan masyarakat sesuai dengan madzhab yang berkembang luas, mereka pahami dan mereka ikuti di tengah mereka, memperhatikannya (menjaganya) dengan sangat serius. Terkhusus lagi apabila para pemimpin jihad dan orang-orang yang berjihad bukan berasal dari daerah setempat, alias muhajirin.

Saya masih ingat peristiwa yang saya alami pada awal-awal peperangan melawan pasukan salibis AS di Afghanistan, tepatnya di wilayah persukuan Pashtun, di mana pangkalan-pangkalan militer kami pada waktu itu tersebar luas di wilayah perbatasan Afghanistan-Pakistan. Beberapa orang mujahid lokal dari wilayah itu mendatangi saya. Mereka mengajukan kepada saya beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan masalah takfir dan beberapa masalah fiqih lainnya. Saya katakan kepada mereka, “Silahkan bertanya kepada fulan,” seorang kyai di tengah mereka. Padahal saya mengetahui jawaban atas pertanyaan mereka tersebut. Tujuan dari hal itu saya anggap sudah sangat jelas, al-hamdu lillah, tidak perlu penjelasan panjang lebar lagi.

 Termasuk dalam hal ini adalah amar ma’ruf nahi munkar. Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar diharuskan memenuhi beberapa syarat sebagaimana telah dibahas dalam buku-buku fiqih. Terkhusus jika merubah kemungkaran dengan tangan dan kekuatan militer. Kita sampai saat ini masih berada dalam fase menolak musuh yang menyerang (daf’us shail) dan fase kelemahan (ketertindasan) yang memang pada hari ini dialami oleh kemunculan gerakan jihad apapun di dunia. Tiada daya dan upaya melainkan dengan izin Allah Ta’ala.

Dalam masalah ini kita harus memperhatikan satu perkara yang sangat penting, yaitu bertahap dalam merubah kemungkaran dan bertahap dalam berkomunikasi dengan manusia, di mana kita berbicara kepada mereka sesuai kadar pemahaman mereka (apa yang mereka pahami), bukan sesuai kadar pemahaman kita (apa yang kita pahami); memperhatikan pemahaman dan penalaran mereka, terkhusus lagi dalam perkara-perkara tersamar (al-masail al-khafiyah; tersembunyi, perkara yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam) yang telinga masyarakat belum biasa mendengarnya. Khususnya lagi masalah takfir dan hal-hal yang berkaitan erat dengannya.        

Mengenai hal ini, saya masih ingat dengan baik bagaimana masyarakat awam suku-suku di Waziristan, bahkan para mujahidinnya sekalipun, memerlukan waktu yang cukup lama sampai menjadi jelas bagi mereka kekafiran Tentara Pakistan. Mereka belum percaya sepenuhnya atas kekafiran Tentara Pakistan, sampai mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Tentara Pakistan memerangi mereka. Barulah saat itu mereka melihat langsung kekafiran dan kebiadaban Tentara Pakistan.

Sesungguhnya berkomunikasi dengan masyarakat sesuai kadar pemahaman mereka merupakan perkara yang sangat penting dan sangat perlu. Jika kita tidak pandai mempergunakannya, niscaya dampak yang akan timbul akanlah buruk. Oleh karenanya, mujahidin harus menguasainya dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha:

لَوْلَا أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُوعَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ لَهَدَمْتُ الْكَعْبَةَ وَبَنَيْتُهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ

Seandainya bukan karena kaummu belum lama meninggalkan jahiliyah (belum lama masuk Islam, pent) tentulah aku akan meruntuhkan Ka’bah dan membangunnya kembali sesuai bangunan yang dibuat oleh nabi Ibrahim.”[2]

Saya katakan, sabda beliau yang bijaksana ini harus menjadi semboyan perjalanan,  penunjuk jalan dan tempat mengembalikan perkara dalam perjalanan jihad yang panjang ini.

 

Ketiga: Tidak bersikap ekstrim (ghuluw) dalam beragama

Pengertian dari bersikap ekstrim (ghuluw) dalam beragama di sini adalah membebankan kepada masyarakat hal-hal yang tidak sanggup mereka tanggung, “mengkorek-korek” keyakinan mereka, dan menggiring masyarakat untuk mengikuti keyakinan kita dengan kekuatan senjata, sikap kasar dan keras. Barangsiapa tidak sependapat dengan kita dalam setiap keyakinan yang kita yakini, maka ia adalah musuh bagi kita. Atau minimal ia bukan dari kelompok kita, kita harus menjauhinya dan mengingatkan (pengikut) kita untuk mewaspadai dan menjauhinya.

Hal ini, tidak diragukan lagi, bukan perbuatan yang terpuji dalam berinteraksi dengan kaum muslimin. Sikap ekstrim dalam sebuah perkara hanya akan memperburuk perkara tersebut, bahkan menghancurkan perkara tersebut sekaligus menghancurkan pelakunya.

Sahabat Ibnu Abbas radhiayllahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda kepadanya pada pagi hari melempar Jumrah ‘Aqabah, “Ambilkan untukku kerikil-kerikil!” Maka Ibnu Abbas mengambilkan tujuh bijih kerikil ukuran sedang. Beliau membolak-balikkan kerikil itu di telapak tangannya, lantas bersabda, “Melemparlah dengan kerikil seperti ini.” Beliau lalu bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ؛ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

”Wahai masyarakat, jauhilah oleh kalian sikap ekstrim dalam beragama, karena hal yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian adalah sikap ekstrim dalam beragama.” (Hadits shahih) [3]

Termasuk contoh dari sikap ekstrim dalam beragama adalah cepat-cepat menjatuhkan vonis kafir, fasik, atau ahli bid’ah terhadap masyarakat dan melemparkan tuduhan-tuduhan yang tidak layak kepada mereka; tanpa memperhatikan kondisi masyarakat, jauhnya mereka dan asingnya mereka dari pemahaman yang benar terhadap agama Islam. Juga tanpa memperhatikan kebodohan yang mereka alami sejak masa dekade-dekade yang lama, atas usaha secara sengaja dari politik penguasa murtad dan aliansi salibis yang mendukungnya.

Sesungguhnya wajib untuk bersikap lemah-lembut dan berbuat baik kepada masyarakat, bahkan kepada orang-orang yang menyelisihi mujahidin sekalipun. Barangsiapa yang bisa kita tarik kepada barisan kita —barisan kebenaran—, maka kita menariknya dan itulah kewajiban kita selalu. Barangsiapa yang tidak bisa kita tarik ke dalam barisan kita, maka kita usahakan agar bersikap netral kepada kita. Barangsiapa yang tidak bisa kita usahakan bersikap netral kepada kita, maka kita berusaha tidak menjadikan perasaannya condong untuk memihak musuh kita. Kita harus waspada sepenuhnya jangan sampai ia menjadi musuh atau bergabung ke dalam barusan musuh.

Sesunggguhnya menampakkan permusuhan secara terang-terangan kepada masyarakat, baik kepada individu-individu atau kelompok-kelompok terhitung sebuah kekeliruan yang mematikan dalam praktek jihad, terkhusus lagi jihad pada fase daf’us shail. Tindakan itu akan menyebabkan masyarakat jatuh dalam “pelukan” musuh dengan mudah tanpa musuh Allah dan musuh agama ini tanpa perlu bersusah payah. Hal itu seperti halnya invasi militer kaum kafir asli terhadap negeri-negeri kaum muslimin yang menyebabkan masyarakat berpihak kepada mujahidin Islam. Maka wasapadalah, waspadalah, jangan melakukan tindakan ceroboh dengan memusuhi kaum muslimin yang awam. Terkhusus lagi jika ada kelonggaran untuk tidak menampakkan permusuhan tersebut.

 

Keempat: Menahan diri dari sebagian orang yang berhak mendapatkan hukuman

Di antara sikap yang bijaksana di darul harbi adalah menahan diri dari sebagian orang yang berhak menerima hukuman, sebagai antisipasi dari timbulnya kerusakan yang lebih besar jika hukuman tersebut dilaksanakan. Medan-medan jihad sepanjang zaman telah membiasakan kita dengan keberadaan sebagian orang yang berhak mendapatkan hukuman karena kemurtadan mereka dan loyalitas mereka dengan musuh-musuh (dalam memerangi kaum muslimin).

Mereka terdiri dari beberapa golongan manusia dan kedudukan serta pengaruh mereka di tengah masyarakat juga bertingkat-tingkat. Sebagian mereka adalah tokoh yang ditaati di tengah kaumnya, ada yang kedudukannya di bawah itu, dan ada juga yang tidak memiliki kedudukan.

Orang yang seperti ini, khususnya orang yang ditokohkan dan ditaati di tengah kaumnya, sementara kemurtadannya belum terbongkar secara jelas, gamblang dan meyakinkan di hadapan kaum muslimin yang awam, sehingga masyarakat luas masih mengelilinginya dan mencintainya; orang seperti ini memerlukan “kebijaksanaan” (siasat) khusus dalam berinteraksi dengannya, khususnya jika urusannya telah berkaitan dengan pembunuhan dan “penghilangan” fisiknya.

Termasuk siasat yang cerdas adalah menunda eksekusi atas orang seperti itu sampai suatu masa tertentu. Mengeksekusi orang seperti itu saat ini akan menyebabkan seluruh kaumnya memusuhi putra-putra jihad demi menolong pemimpin mereka yang terbunuh dan membela fanatisme (ta’ashub) kebatilan. Telah shahih riwayat yang menyatakan bahwa ketika Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu meminta izin untuk memenggal kepala pemimpin kaum munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

دَعْهُ لَا يَتَحَدَّثُ النَّاسُ أَنَّ مُحَمَّدًا يَقْتُلُ أَصْحَابَهُ

“Wahai Umar, biarkan saja dia, jangan sampai masyarakat justru mengatakan: “Muhammad membunuhi kawan-kawannya sendiri.”[4]

Ini sekedar contoh dari sikap menahan diri dari sebagian orang yang harus menerima hukuman, supaya dampaknya tidak bertolak belakang dengan apa yang kita harapkan. Dampak yang bertolak belakang dengan harapan itu sudah sangat terkenal dan diketahui oleh orang-orang yang telah berpengalaman terjun dalam praktek jihad di lapangan. Kesimpulan ini juga dipetik oleh orang-orang non muslim sekalipun, contohnya para gerilyawan Vietnam.

Pengarang buku Pengalaman Vietnam, Ali Fayadh menulis:

Terdapat sejumlah pembunuhan politis yang justru memberi dampak negatif terhadap revolusi Vietnam. Pembunuhan terhadap Truong Anh, pemimpin kelompok Cao Dai [5], telah mendorong banyak pengikutnya untuk berpihak kepada Perancis dalam perang 1948 M. Pembunuhan terhadap Huynh Phu So[6], pemimpin kelompok Hoa Hao, pada tahun yang sama juga menyebabkan sebagian pengikutnya bekerja sama dengan Perancis.”

Andaikata diperlukan sebuah operasi yang saya namakan “pembunuhan pembuat jera dan penghentian kejahatan yang jelas” sekalipun, haruslah dilakukan dalam bentuk yang menghilangkan semua bentuk keragu-raguan, di mana tidak ada pembunuhan yang tidak memiliki alasan pembenaran atau alasan penjelas. Alangkah baiknya jika dilakukan pengadilan umum secara terbuka terhadap orang tersebut, jika hal itu memungkinkan. Sebab, seperti kata pepatah, akal (mayoritas) manusia terletak pada matanya. Hukuman bunuh lalu dilakukan oleh salah seorang anggota keluarganya sendiri, atau kerabatnya sendiri, atau kaumnya sendiri di depan masyarakat umum. Hal itu akan lebih menenangkan pikiran dan hati masyarakat.

Waspadalah! Waspadalah! Jangan sekali-kali hal seperti itu dipimpin dan dilaksanakan oleh mujahidin yang datang dari luar, alias muhajirin. Sungguh dampaknya tidak akan baik. Jangan sampai terpedaya oleh kekuasaan temporal (sesaat) atau kemenangan temporal (sesaat), terutama pada wilayah-wilayah di mana suku-suku memiliki pengaruh dan kekuasaan. Sungguh saya telah menyaksikan sendiri bagaimana hal itu memiliki dampak yang sangat buruk terhadap sebagian kelompok jihad, saya menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang yang semula mencintai mujahid kemudian berbalik menjadi orang-orang yang membenci, bahkan memerangi dan mengusir, mujahidin.

Sesungguhnya manajemen jihad dan fiqih (ilmu) jihad memerlukan berlipat-lipat kali upaya melebihi upaya yang kita kerahkan dalam bidang kekuatan militer. Sesungguhnya peperangan tidak lain hanyalah sebuah sarana untuk merealisasikan sebuah tujuan politis, dan tujuan politis kita adalah mengarahkan manusia untuk beribadah kepada Rabb mereka.

 

Kelima: Menarik dukungan

Sesungguhnya salah satu pondasi pokok amal jihadi dan pilar utama eksistensinya adalah meraih dan menarik dukungan orang-orang besar dan terpandang di tengah masyarakat, yaitu para ulama, pemimpin, ketua suku dan orang-orang yang ditaati di tengah masyarakat secara umum.

Mereka adalah tiang utama yang sangat penting bagi dukungan dan keikut sertaan masyarakat pada dakwah jihadiyah. Bukan hanya pada kondisi lapang semata, namun juga dalam kondisi yang paling sempit dan sulit. Ia adalah jaminan keamanan bagi seluruh amalan jihad ketika taupan badai menerjang, barisan tergoncang dan musuh bersatu padu memerangi mujahidin.

Seorang pemimpin dan tokoh yang ditaati di tengah kaumnya sangat layak untuk menggerakkan sukunya atau mayoritas anggota sukunya untuk berbaris di belakang mujahidin, guna menolong dan mendukung mujahidin.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa salam telah berdoa kepada Allah Ta’ala agar menjayakan Islam melalui salah satu dari dua orang yang lebih Allah cintai; Abu Jahal (Amru bin Hisyam) atau Umar bin Khathab. Ternyata laki-laki yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala adalah Umar bin Khathab.[7]

Ini adalah salah satu sunatullah dalam meraih pembelaan, kejayaan dan kemenangan. Itulah sunnah mencari simpati dan menarik dukungan orang-orang kuat di tengah kaumnya. Metode untuk hal itu sangatlah banyak. Di antaranya, pernikahan dan permisanan, musyawarah dan meminta pendapat, mengangkatnya sebagai ketua dan pemimpin, mendakwahi dengan sungguh-sungguh dan menerangkan kebaikannya bagi dien dan dunia mereka. Metode terakhir ini merupakan tiang pokok dalam masalah yang sedang kita bahas ini.

Metode-metode meraih dukungan yang sebagiannya saya sebutkan ini, saya telah melihat kebaikannya dengan kedua mataku sendiri dan mengalaminya sendiri di wilayah-wilayah persukuan Pakistan. Beberapa keluarga besar di sana telah bangkit dengan mengerahkan seluruh anggotanya untuk menolong sebagian kelompok mujahidin dan berperang bersama mereka. Lebih dari itu, mereka bahkan melakukan hijrah dan meninggalkan kampong halamannya. Sebagian kepala suku-suku di sana telah berhijrah dan meninggalkan kampong halaman serta tempat penggembalaan ternak suku-suku mereka, semata-mata demi membantu dan mendukung mujahidin. Padahal hijrah itu memiliki kesulitan-kesulitan yang hanya diketahui oleh orang-orang yang pernah merasakan langsung pahit getirnya.

Sesungguhnya rahasia kesuksesan amalan jihad dalam sebuah pergerakan (amal jihadi haraki) dengan seluruh unsurnya dan kesinambungannya dalam bentuk yang menjamin penegakan daulah Islamiyyah dan merealisasikan tujuan jihad, adalah terletak dalam banyak aspeknya pada kuatnya ikatan antara penduduk dan mujahidin yang bertempur, sementara itu mencegah shahwat (gerakan sebagian elemen umat Islam yang bekerja untuk kepentingan musuh) merupakan salah satu pondasi pokok yang penting bagi eksistensi dan kesinambungan “nyawa” jihad.

“Allah Maha Melaksanakan urusan-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Yusuf [12]: 21)

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.

 

 Abu Ubaidah Abdullah bin Khalid Al-’Adam

16 Jumadil Awwal 1433 H

 

Markaz Al-Fajr lil-I’lam

Al-Fajr Centre for Media

 

Team Muqawamah Media

 

 


Catatan kaki:

[1]. Lembah Swat adalah sebuah lembah dan distrik administratif dalam provinsi Khyber Pakhtunkhwa, dekat perbatasan Afghanistan-Pakistan. Ibukota distrik lembah Swat adalah Shaidu Syarif, namun kota terbesarnya adalah Mingora. Provinsi Khyber Pakhtunkhwa dahulunya disebut Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan atau North-West Frontier Province (NWFP) adalah salah satu provinsi dari empat provinsi dalam negara Pakistan yang terletak di sebelah Barat Laut Pakistan, dekat perbatasan Pakistan-Afghanistan.

[2]. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam tentang keinginan meruntuhkan Ka’bah dan membangunnya kembali sesuai bentuk bangunan yang dibangun oleh nabi Ibrahim dan Ismail ‘alaihimas salam telah diriwayatkan oleh imam Bukhari, Muslim dan lain-lain dengan beragam lafal. Di antaranya diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim dengan lafal sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الجَدْرِ أَمِنَ البَيْتِ هُوَ؟ قَالَ: «نَعَمْ» قُلْتُ: فَمَا لَهُمْ لَمْ يُدْخِلُوهُ فِي البَيْتِ؟ قَالَ: «إِنَّ قَوْمَكِ قَصَّرَتْ بِهِمُ النَّفَقَةُ» قُلْتُ: فَمَا شَأْنُ بَابِهِ مُرْتَفِعًا؟ قَالَ: «فَعَلَ ذَلِكَ قَوْمُكِ، لِيُدْخِلُوا مَنْ شَاءُوا وَيَمْنَعُوا مَنْ شَاءُوا، وَلَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ بِالْجَاهِلِيَّةِ، فَأَخَافُ أَنْ تُنْكِرَ قُلُوبُهُمْ، أَنْ أُدْخِلَ الجَدْرَ فِي البَيْتِ، وَأَنْ أُلْصِقَ بَابَهُ بِالأَرْضِ»

Dari Aisyah RA berkata, “Saya bertanya kepada Nabi SAW apakah Hijr Ismail di sekitar Ka’bah termasuk bagian dari Ka’bah?” Beliau menjawab, “Ya.” Saya bertanya, “Kenapa mereka tidak memasukkannya ke dalam Ka’bah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya kaummu kehabisan biaya (saat merenovasi Ka’bah pada zaman jahiliyah).” Saya bertanya, “Kenapa pintu Ka’bah tinggi?” Beliau menjadab, “Itu perbuatan kaummu, agar mereka bisa memasukkan siapa pun yang mereka kehendaki ke dalam Ka’bah dan mereka bisa menghalangi siapa pun yang tidak mereka kehendaki. Sekiranya bukan karena kaummu baru saja meninggalkan masa jahiliyah dan khawatir jika hati mereka mengingkarinya, tentulah aku akan memasukkan Hijr Ismail ke dalam Ka’bah dan aku akan menempelkan pintu Ka’bah ke tanah.” (HR. Bukhari no. 1584 dan Muslim no. 1333)

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ قَوْمُكِ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ – قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ – بِكُفْرٍ، لَنَقَضْتُ الكَعْبَةَ فَجَعَلْتُ لَهَا بَابَيْنِ: بَابٌ يَدْخُلُ النَّاسُ وَبَابٌ يَخْرُجُونَ ” فَفَعَلَهُ ابْنُ الزُّبَيْرِ

Nabi SAW bersabda, “Wahai Aisyah, sekiranya bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekafiran, tentulah aku akan meruntuhkan Ka’bah (lalu merenovasinya) dan aku buatkan dua pintu padanya; satu pintu untuk memasukinya dan satu pintu untuk keluar darinya.” Maka (khalifah) Abdullah bin Zubair (pada tahun 64-65 H, pent) melaksanakan keinginan beliau SAW tersebut. (HR. Bukhari no. 126 dan Muslim no. 1333 dengan lafal Bukhari)

 [3]. Hadits Ibnu Abbas ‘radhiyallahu ‘anhuma tentang larangan sikap ekstrim dalam beragama diriwayatkan oleh imam Ahmad no. 3248, An-Nasai no. 3057, Ibnu Hibban no. 3871, Abu Ya’la no. 2427, Al-Baihaqi no. 9534 dan lain-lain. Sanadnya shahih menurut syarat imam Muslim. Dinyatakan shahih oleh syaikh Syuaib Al-Arnauth, Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Husain Salim Asad dan para ulama muhaqqiq lainnya.

[4]. Hadits Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu meminta izin untuk memenggal kepala Abdullah bin Ubay bin Salul diriwayatkan oleh imam Bukhari no. 3330, 4905, 4907, Muslim no. 2584, Tirmidzi no. 3315, An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra no. 8812 dan 11535, Ahmad no. 15223, Ibnu Hibban no. 5990, 6582, Al-Baihaqi no. 17866, Abu Ya’la no. 1957, Abdur Razzaq no. 18041 dan lain-lain.

[5]. Cao Dai adalah sebuah sekte keagamaan dan politik yang didirikan pada tahun 1920an oleh sekelompok intelektual Vietnam Selatan. Kelompok ini menggabungkan tiga agama terbesar di Vietnam (Budha, Konfusianisme dan Kristen) dengan tata cara pemujaan ala Vietnam dan kepahlawanan Barat. Sekte ini merupakan sebuah kelompok yang kuat, memiliki lebih dari 1, 5 juta pengikut dan berperang dengan gigih melawan kelompok Komunis Vietnam (terutama di propinsi Tay Ninh), bahkan setelah penarikan mundur pasukan AS dari Vietnam. Lihat: http://freepages.military.rootsweb.ancestry.com/~karmen/TermA-L.html.

[6]. Hoa Hao adalah sebuah sekte dalam agama Budha, memiliki sekitar dua juta pengikut di sebelah barat Sungai Mekong. Sekte ini dibentuk pada tahun 1930an. Sejak pemimpin dan pendiri gerakan ini, Huyn Phu So, dibunuh oleh pasukan Ho Chi Minh, sekte ini berbalik menjadi penentang dan musuh yang gigih bagi kelompok Komunis Vietnam. Lihat: http://freepages.military.rootsweb.ancestry.com/~karmen/TermA-L.html.

[7]. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam untuk keislaman Abu Jahal atau Umar bin Khathab telah diriwayatkan oleh para ulama hadits dari jalur banyak sahabat; Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khathab, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Barra’ bin ‘Azib, Ibnu Abbas, Utsman bin Al-Arqam, Anas bin Malik, Aisyah dan Tsauban radhiyallahu ‘anhum. Sebagian riwayat tersebut berderajat shahih menurut syarat imam Bukhari dan Muslim, sebagaimana dikatakan oleh imam Al-Hakim dan Adz-Dzahabi. Salah satu contoh hadits doa tersebut adalah riwayat dari jalur Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اللهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، فَكَانَ أَحَبُّهُمَا إِلَى اللهِ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Ya Allah, jayakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Abu Jahal atau Umar bin Khathab.” Ternyata orang yang lebih dicintai oleh Allah adalah Umar bin Khathab. (HR. Ahmad no. 5696,Abd bin Humaid dalam Al-Muntakhab no. 759, Tirmidzi no. 3681, Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah 2/215-216, Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra 3/267 dan Ibnu Hibban no. 6881. At-Tirmidzi berkata: Hadits hasan shahih)  

Tinggalkan Balasan

Muqawamah Media adalah fasilitator antara umat dengan para Pemimpin dan Ulama mereka. Muqawamah Media akan berusaha menghubungkan pesan, arahan, dan nasehat-nasehat dari para Ulama dan Pemimpin umat tersebut kepada umatnya.

Email: [email protected]

Newsletter

Bagi kaum muslimin yang hendak menyalurkan donasi, dapat transfer ke rekening berikut :