Gerakan Kebangkitan Kemurtadan, Dan Jalan Pencegahannya (Bagian.1)

 

Syaikh Abu Ubaidah Abdullah bin Khalid Al-’Adam

 

GERAKAN KEBANGKITAN KEMURTADAN

Dan Jalan Pencegahannya

 

Yayasan Media Al-Fajr

 

*  *  *  *  *  *  *  *  *

 

Belum lama ini Yayasan Media Al-Fajr, yang memiliki kompetensi mempublikasikan karya-karya mujahidin Al-Qaeda dan Daulah Islam Irak, merilis hasil kajian seorang komandan lapangan dan instruktur militer mujahidin Al-Qaeda pusat, syaikh Abu Ubaidah Abdullah bin Khalid Al-’Adam. Situs-situs jihad internasional kemudian mempublikasikannya ulang secara lebih luas.

Meski ringkas, hanya 8 halaman, kajian itu sangat penting dan berbobot karena merefleksikan hasil evaluasi intern dari pengalaman jihad mujahidin Al-Qaeda selama sepuluh tahun terakhir pasca serangan 11 September 2001. Kajian itu diberi judul Shahwat Ar-Riddah was Sabil li-Man’iha (Gerakan Kebangkitan Kemurtadan dan Cara Mencegahnya).

Istilah Shahwat (gerakan kebangkitan) sendiri selama ini dikenal di kalangan aktivis Islam sebagai sebuah istilah positif, menunjuk kepada gerakan-gerakan Islam yang bangkit dan berjuang demi menegakkan khilafah Islamiyyah dan menerapkan syariat Islam di muka bumi. Jika kemudian sang komandan lapangan Al-Qaeda menggabungkannya dengan kata tambahan ar-riddah (kemurtadan), tentu beliau sedang membuat istilah plesetan.

Memang benar, istilah Shahwat ar-riddah (gerakan kebangkitan kemurtadan) adalah istilah plesetan beliau terhadap Majalis Ash-Shahwat (Dewan Kebangkitan). Tahukah Anda, apakah gerangan Majalis Ash-Shahwat itu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus mundur tiga belas tahun ke belakang. Saat invasi aliansi salibis internasional pimpinan AS dan NATO berhasil menggulingkan rezim sosialis Saddam Husain di Irak pada 2003, sang panglima pasukan salib internasional George W. Bush membentuk pemerintahan AS di Irak, di bawah pimpinan Lewis Paul Bremer III yang memegang otoritas pemerintahan di Irak selama periode 3 Juli 2003 sampai 28 Juni 2004.

 

Lewis Paul Bremer III

 

Lewis Bremer, mantan Dubes AS untuk Belanda, membubarkan semua lembaga pemerintahan sipil dan militer Irak peninggalan Saddam Husain. Ia membentuk lembaga pemerintahan ‘boneka’ baru yang akan menjadi pelayan kepentingan AS dan Barat di Irak. Dalam hal itu Lewis Bremer harus mengangkat boneka-boneka sipil dan boneka-boneka militer di Irak.

Milisi-milisi Syiah yang menjalani latihan militer dan bertahan di luar Irak (Iran dan Suriah) selama bertahun-tahun memasuki Baghdad di atas tank-tank AS dan NATO. Merekalah yang direkrut secara resmi oleh Lewis Bremer untuk menjadi Polisi Nasional Irak, Tentara Nasional Irak dan Dinas Intelijen Irak. Milisi-milisi Syiah yang loyal kepada rezim Syiah Rafidhah Iran itu secara resmi berdasar undang-undang menempati pos dua departemen paling menentukan dalam pemerintahan boneka Irak; Departemen Pertahanan dan Departemen Dalam Negeri.

Di bidang pemerintahan sipil, Lewis Bremer membentuk pemerintahan parlementer yang dipimpin oleh tokoh Syiah Rafidhah, Nuri Al-Maliki dan beranggotakan mayoritas tokoh Syiah Rafidhah, segelintir tokoh nasionalis-sekuler suku Kurdi dan segelintir ‘pengkhianat’ sunni.

Pemerintahan baru Irak adalah boneka AS yang loyal kepada Iran. Ternyata AS dan Iran memiliki kerjasama dan kesamaan tujuan di Irak; memerangi muslim sunni. Pemerintahan sipil dan militer loyalis Syiah Rafidhah Iran itu telah melakukan pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, pemenjaraan, penyiksaan biadab dan pengusiran terhadap ratusan ribu warga muslim sunni di seluruh wilayah Irak. Ratusan ribu pemuda muslim sunni juga menganggur dan kehilangan pekerjaan. Krisis kemanusiaan yang dialami oleh kaum muslim sunni di Irak membuat mereka anti terhadap pemerintahan baru sipil-militer Irak yang dibentuk oleh AS namun loyal kepada rezim Syiah Rafidhah Iran itu.

Pada saat yang sama, aliansi pasukan salibis AS dan NATO mengalami kekalahan bertubi-tubi oleh gempuran mujahidin Al-Qaeda dan belasan kelompok jihad muslim sunni di Irak. Secara psikologis, Al-Qaeda dan seluruh kelompok jihad muslim sunni itu mendapat dukungan kuat dari kaum muslim sunni Irak di daerah basis muslim sunni, terutama di Irak Selatan. Begitu telaknya kekalahan yang dialami oleh aliansi salibis AS dan NATO, sehingga mereka kebingungan untuk keluar dari Irak tanpa harus kehilangan muka.

 

Henry Kissinger

 

Dalam kondisi sulit itulah, tokoh Yahudi dan mantan Mentri Luar Negeri AS, Henry Kissinger menulis sebuah artikel di koran The Washington Post. Menurutnya, strategi keluar dari krisis yang dialami oleh AS di Irak harus berangkat dari integrasi yang sistematik antara elemen politik dan elemen keamanan. Caranya adalah menggalang dan menarik tokoh-tokoh muslim sunni untuk terlibat dalam pemerintahan sipil dan militer di Irak.

Strategi yang disarankan tokoh Yahudi itu akhirnya betul-betul dijalankan di Irak. Segelintir tokoh muslim sunni diberi kursi jabatan ‘tidak terlalu strategis’ dalam pemerintahan boneka Nuri Al-Maliki. Para ulama sunni, kepala suku dan tokoh masyarakat muslim sunni direkrut dengan gelontoran dana dan senjata untuk membentuk sebuah pasukan semi-militer sunni dengan tujuan pokok memerangi kelompok teroris di wilayah muslim sunni; Al-Qaeda dan kelompok-kelompok jihad lainnya yang gigih memerangi aliansi salibis AS-NATO dan rezim Syiah Rafidhah Irak.

Kelompok ulama, tokoh masyarakat dan kepala suku muslim sunni yang berhasil digalang oleh Pentagon untuk memerangi mujahidin Islam Irak inilah yang disebut Majalis Ash-Shahwat (Dewan Kebangkitan). Unsur-unsur Majalis Ash-Shahwat pertama kali dibentuk pada akhir 2004 dengan nama Brigade Hamzah, yang menghimpun kelompok Hizbul lslam Al-Iraqi (Partai Islam Irak) di kota Al-Qaim, Irak Barat. Komandan lapangan dan pemimpin militernya adalah kolonel Ahmad Athiyah yang tewas pada 2005. Athiyah hanyalah komandan lapangan belaka, sebab pengendali dan pemimpin yang sesungguhnya dari Brigade Hamzah adalah syaikh (tuan) Shabbah Satham Asy-Syarji yang menetap di Oman. Tuan Asy-Syarji adalah tokoh marga Bu Mahal, salah satu marga dalam suku Dalyam. Ia adalah cucu dari syaikh (tuan) Afatan Asy-Syarji, tangan kanan Inggris semasa penjajahan Inggris terhadap Irak.

Setelah itu, AS membentuk pasukan Dziab Shahra’ (Serigala Padang Pasir), atau Quwwat Tsuwwar Al-Anbar (Pasukan Revolusioner Anbar) pada akhir tahun 2005. Salah seorang kepala suku Arbil, syaikh (tuan) Usamah Al-Jud’an diangkat sebagai pemimpin militernya, sampai ia tewas tiga bulan setelahnya. Tokoh besar di propinsi Anbar, Syaikh (tuan) Abdus Sattar Abu Raisyah akhirnya kembali dari Yordania. Dengan kehendak dan bantuan penjajah salibis AS, Abu Raisyah menyatukan seluruh tokoh, kepala suku dan pasukan semi militer sunni yang berhasil digalang AS dalam satu wadah di bawah nama Majlis Shahwah Al-Anbar (Dewan Kebangkitan Anbar). Secara resmi, Majlis Shahwah Al-Anbar diumumkan pada 2007 dengan pemimpin tertingginya Abu Raisyah.

 

Abu Raisyah bersama George W. Bush sebelum mati dibunuh di propinsi Anbar oleh Mujahidin

 

Majlis Shahwah Al-Anbar pertama kali dibentuk di propinsi Anbar pada 2007. Kesuksesan AS menggalang kekuatan tentara bayaran sunni dengan nama Majlis Shahwah Al-Anbar itu mendorong AS untuk melakukan cloning di propinsi-propinsi lain. Majlis Shahwah lainnya akhirnya dibentuk di propinsi Diyala, Shalahuddin, Ninawa dan akhirnya di propinsi Baghdad.

Pembentukan Majlis Shahwah di propinsi Baghdad dimulai dari distrik Abu Ghuraib dengan komandan militernya Tsamir At-Tamimi. Hal itu diikuti dengan pembentukan Majlis Shahwah di distrik-distrik lain dalam propinsi Baghdad; Ad-Daurah, Al-Amiriyah, As-Sayyidiyah, Al-Khadra’, Al-Yarmuk, Al-Manshur, Al-Jami’ah, Al-Ghazaliyah, Al-A’zhamiyah, dan Al-Fadhl, kemudian wilayah sabuk pengaman Baghdad Selatan, Baghdad Utara dan Baghdad Barat.

Direktur Komuniasi pasukan koalisi salibis AS-NATO di Irak periode 2007-2008, Laksamana Gregory Smith, dalam laporannya menyebutkan telah terbentuk 186 majlis shahwah di 186 wilayah di seantero Irak, berkekuatan 100.000 pasukan bersenjata. Gabungan majlis shahwah-majlis shahwah itulah yang disebut dengan majalis shahwat.

Majalis Ash-Shahwat yang berkekuatan 100.000 personil itu dilatih, dipersenjatai dan digaji oleh penjajah salibis AS. Pentagon telah menggelontorkan dana lebih dari US $ 70 juta guna melatih, mempersenjatai dan menggaji mereka. Setiap prajurit majalis as-shahwah menerima gaji rata-rata US $ 300, atau sekitar Rp. 2,7 juta dengan kurs US$ 1: Rp. 9000,00.

Majalis ash-shahwat adalah murtaziqah Amrikan wa Iran, tentara bayaran Amerika dan Iran. Mereka terdiri dari beberapa tipe manusia “muslim sunni”:

  1. Para kepala marga, tetua suku dan pengikutnya yang pro penjajah salibis AS, meyakini invasi militer salibis AS dan NATO (MNF-I) di Irak akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka.
  2. Para pemuda dan orang dewasa yang menganggur dan kehilangan pekerjaan, menginginkan pekerjaan yang mudah dan penghidupan / gaji yang layak.
  3. Para preman, kriminal dan mantan-mantan tentara/polisi di era Saddam Husain yang menginginkan senjata dan harta untuk kepentingan-kepentingan pribadi.
  4. Orang-orang yang menganut paham nasionalisme dan sekulerisme yang anti syariat Islam.

Tujuan utama mereka adalah melaksanakan perintah yang diberikan oleh sang majikan yang menggaji mereka, penjajah salibis AS-NATO dan rezim Syiah Rafidhah Irak, yaitu memerangi mujahidin Al-Qaeda dan seluruh kelompok jihad muslim sunni lainnya yang memerangi penjajah salibis AS-NATO dan boneka rezim Syiahnya di Irak. Dalam dialog dengan pemimpin tertinggi aliansi pasukan salibis AS-NATO di Irak (MNF-I) jendral David Howell Petraeus, pemimpin tertinggi Majalis Ash-Shahwat, Abdus Sattar Abu Raisyah mengatakan: “Kami akan mengalahkan para teroris. Jika kami telah selesai mengalahkan mereka di sini, kami dapat pergi bersama kalian untuk menghancurkan mereka di Afghanistan.”

Inilah Majalis Ash-Shahwat. Sangat tepat apabila syaikh Abu Ubaidah Abdullah bin Khalid Al-’Adam memplesetkan nama organisasi mereka menjadi Majalis Shahwat Ar-Riddah (Dewan Kebangkitan Kemurtadan). Sebab Al-Qur’an, As-sunnah dan ijma’ ulama kaum muslimin telah menegaskan kemurtadan seorang muslim yang bekerjasama dengan musuh-musuh Islam dalam memerangi kaum muslimin. Dan itulah hakekat pekerjaan Majalis Ash-Shahwat.

Pasukan bayaran berkekuatan 100.000 personil dengan cabang yang tersebar di 186 wilayah Irak adalah sebuah tantangan besar bagi perjalanan jihad Al-Qaeda dan belasan kelompok jihad muslim sunni lainnya di Irak. Barangkali hal itu merupakan salah satu alasan yang mempercepat penyatuan Al-Qaeda dan sebagian besar kelompok jihad muslim sunni Irak dalam satu wadah, Daulah Islam Irak dengan pemimpin pertamanya, amirul mukminin syaikh Abu Umar Al-Baghdadi, yang kemudian gugur dan kini digantikan oleh amirul mukminin syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi.

Sebagian muslim sunni yang tergabung dalam wadah Majalis Ash-Shahwat —tidak main-main, berjumlah 100.000 orang— berhasil digalang oleh penjajah salibis AS-NATO untuk menggulung Al-Qaeda dan belasan kelompok jihad muslim sunni di Irak. Sudah menjadi sunatullah, musuh-musuh Islam senantiasa melakukan segala macam makar untuk memerangi kaum muslimin. Allah berfirman,

وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (QS. Ibrahim [14]: 46)

Syaikh Abu Ubaidah tak memungkiri bahwa Majalis Ash-Shahwat alias Majalis Shahwat Ar-Riddah yang dibentuk oleh aliansi penjajah AS-NATO di Irak —dan kemudian dikembangkan di wilayah-wilayah jihad di luar Irak: Afghanistan, Pakistan, Yaman, Somalia dan lain-lain— merupakan salah satu tantangan besar dalam jihad. Namun begitu, beliau hanya membahas hal itu sekilas saja, karena bagaimanapun juga makar orang-orang kafir merupakan sunatullah dalam perjuangan Islam.

Dalam kajian ringkasnya ini, syaikh Abu Ubaidah lebih menyoroti kemunculan Majalis Shahwat Ar-Riddah jenis yang lain, yang bahayanya boleh jadi tidak kalah dari Majalis Shahwat Ar-Riddah buatan aliansi pasukan salibis AS-NATO. Majalis Shahwat Ar-Riddah yang beliau maksudkan adalah Majalis Shahwat Ar-Riddah yang terbentuk secara tidak sengaja karena beberapa kesalahan langkah dan blunder yang dilakukan oleh mujahidin sendiri!

Tanpa bermaksud menghakimi, kajian ringkas ini beliau saripatikan dari pengalaman jihad Al-Qaeda Negeri Dua Sungai (Al-Qaeda fi Biladir Rafidain) di Irak dan Al-Qaeda pusat selama 10 tahun terakhir jihad di Afghanistan-Pakistan. Kajian ini merupakan bentuk muhasabah dan evaluasi intern beliau bagi seluruh mujahidin Al-Qaeda sendiri, kelompok-kelompok jihad lainnya dan seluruh kaum muslimin secara umum.

Sebab, Al-Qur’an dan as-sunnah telah mengajarkan kepada setiap mujahid untuk senantiasa bermuhasabah. Faktor utama musibah yang menimpa kaum muslimin, termasuk mujahidin di medan jihad, adalah faktor kesalahan dan dosa pribadi, bukan karena kehebatan dan kecanggihan makar orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri." (QS. An-Nisa’ [4]: 79)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Hal yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Anfal [8]: 53)

 إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

"Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian)." (QS. Asy-Syura [42]: 30)

Khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq, seorang sahabat yang dijamin masuk surga, menulis surat kepada Khalid bin Walid dan seluruh komandan pasukan Islam sebelum dimulainya perang Yarmuk:

فَأَنْتُمْ أَعْوَانُ اللَّهِ، وَاللَّهُ نَاصِرٌ مَنْ نَصَرَهُ، وَخَاذِلٌ مَنْ كَفَرَهُ، وَلَنْ يُؤْتَى مِثْلُكُمْ عَنْ قِلَّةٍ، وَلَكِنْ مِنْ تِلْقَاءِ الذُّنُوبِ، فَاحْتَرِسُوا مِنْهَا، وَلْيُصَلِّ كُلُّ رَجُلٍ مِنْكُمْ بِأَصْحَابِهِ

Kalian adalah para penolong (dien) Allah, Allah akan menolong orang yang menolong (dien)-Nya dan menelantarkan orang yang kafir kepada-Nya. Orang seperti kalian tidak akan dikalahkan oleh sebab sedikitnya jumlah pasukan, namun bisa saja dikalahkan karena faktor dosa-dosa kalian sendiri. Maka waspadailah dosa-dosa dan hendaklah satu sama lainnya di antara kalian saling mendoakan.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 9/547 karya Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi)

Salah seorang sahabat yang juga dijamin masuk surga dan panglima tertinggi pasukan Islam di Irak, Sa’ad bin Abi Waqash, saat memimpin pasukan Islam menyeberangi sungai Tigris untuk menaklukkan ibukota imperium Persia, Madain, mengatakan:

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، وَاللَّهِ لَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ وَلِيَّهُ، وَلَيُظْهِرَنَّ اللَّهُ دِينَهُ، وَلَيَهْزِمَنَ اللَّهُ عَدُوَّهُ، إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي الْجَيْشِ بَغْيٌ أَوْ ذُنُوبٌ تَغْلِبُ الْحَسَنَاتِ

Cukuplah Allah bagi kita dan Dialah sebaik-baik pelindung. Demi Allah, Allah benar-benar akan menolong wali-Nya, memenangkan agama-Nya dan mengalahkan musuh-Nya jika dalam pasukan Islam tidak terdapat tindakan aniaya atau dosa-dosa yang lebih banyak dari amal-amal kebaikan.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 10/12)

Berikut ini terjemahan atas kajian syaikh Abu Ubaidah Abdullah bin Khalid Al-’Adam yang berjudul Shahwat Ar-Riddah was Sabilu li-Man’iha, dengan tambahan catatan kaki berupa takhrij hadits dan penjelasan ringkas tentang beberapa istilah yang asing.

 


 

Gerakan Kebangkitan Kemurtadan dan Jalan Pencegahannya 

 

Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah, shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah, keluarga, sahabat dan semua orang yang setia mengikuti sunnahnya.

Selama masa invasi militer salibis ke Irak dan setelah pasukan salibis Barat benar-benar mengalami kekalahan yang tidak bisa dihindari lagi di tangan pelopor-pelopor jihad umat ini sehingga para pemimpin Barat hampir saja mengumumkan kekalahannya; pemikiran para pemimpin Barat ‘tercerahkan’ dengan apa yang pada saat itu dikenal dengan nama Majalis ash-Shahwat (Dewan Kebangkitan). Nasrani Barat mendapatkan pada diri Majalis ash-Shahwat ini tujuan yang telah lama ia cari dan impi-impikan, sekaligus jembatan yang menyelamatkannya dari terjatuh dalam kekalahan dini secara militer dan ekonomi di Irak. Dan memang tujuan Barat tercapai lewat Majalis ash-Shahwat.

Dewan Kebangkitan (Majalis ash-Shahwat) yang murtad ini memang memberikan pengaruh yang sangat jelas bagi perjalanan gerakan-gerakan jihad di Irak, dengan membendung perluasan dan kemajuan gerakan jihad, bahkan menjadi salah satu sebab yang menjaga nama baik aliansi salibis Barat di Irak, walau secara parsial.

Oleh karena itu akal bulus aliansi salibis Barat AS merancang penggunaan Dewan Kebangkitan (Majalis ash-Shahwat) ini di kawasan-kawasan lain yang menjadi ajang pertempuran antara aliansi salibis Barat melawat pelopor-pelopor jihad umat Islam di belahan bumi timur dan barat.

Saya tidak sedang menilai proses clonning Dewan Kebangkitan (Majalis ash-Shahwat) ini atau sejauh mana kesuksesan dan kegagalannya di kawasan-kawasan lain. Pembicaraan tentang hal itu ada tempatnya tersendiri, bukan dalam kesempatan ini. Hanya saja ada satu hal yang menurut dugaan saya merupakan hal terpenting sehingga mendorong saya untuk menulis tema ini. Hal terpenting itu adalah bagaimana cara kita, dengan kekuatan dan bimbingan Allah semata, mencegah timbulnya Dewan Kebangkitan-Dewan Kebangkitan seperti ini di tempat-tempat lain yang menjadi ajang peperangan kita melawan musuh-musuh agama Islam?

Sebab, kemunculan musuh dalam bentuk seperti ini — Dewan Kebangkitan— merupakan sebuah pengalaman baru bagi putra-putra pergerakan jihad, sebelumnya mereka belum pernah terbiasa berinteraksi dengannya. Hanya kepada Allah semata tempat meminta pertolongan.

Tidak selamanya Dewan Kebangkitan muncul karena dibentuk dan dipersenjatai oleh musuh. Justru terkadang Dewan Kebangkitan muncul sebagai reaksi atas sebagian kesalahan yang dilakukan oleh mujahidin tanpa ada kesengajaan, disebabkan oleh keterbatasan mujahidin dalam memahami tuntutan-tuntutan skala prioritas fase jihad yang sedang mereka terjuni. Allah semata Yang Maha Menjaga dari segala bentuk ketergelinciran.

Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang baru saja saya sebutkan ini, menurut keyakinan saya berdasar pengalaman praktek jihad, hal yang harus dilakukan oleh putra-putra gerakan jihad dan orang-orang yang dimuliakan oleh Allah pada hari esok dengan berjihad melawan musuh-musuh-Nya adalah melakukan hal-hal berikut ini. Hal itu guna mencegah kemunculan fitnah seperti Dewan Kebangkitan ini dan menguburnya begitu ia muncul, bahkan mencegah agar bibit-bibitnya yang keji sama sekali tidak bisa muncul, dengan bimbingan dan pertolongan Allah semata. Kita senantiasa memohon kepada Allah petunjuk dan kelurusan dalam segala perkara.

 

Bersambung …..

 

Yayasan Media Al-Fajr

 

Team Muqawamah Media

Tinggalkan Balasan

Muqawamah Media adalah fasilitator antara umat dengan para Pemimpin dan Ulama mereka. Muqawamah Media akan berusaha menghubungkan pesan, arahan, dan nasehat-nasehat dari para Ulama dan Pemimpin umat tersebut kepada umatnya.

Email: [email protected]

Newsletter

Bagi kaum muslimin yang hendak menyalurkan donasi, dapat transfer ke rekening berikut :