Catatan Redaksi: Arab Saudi dan Koalisi Militer Islam Melayani Siapa?

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji hanya milik Allah Rabb penguasa semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya yang mulia.

Amma ba’du.

Sensasi dan Harapan

Pembaca Muqawamah Media yang Allah muliakan, tentu masih jelas teringat dalam benak kita bagaimana reaksi dan antusiasme umat Islam dunia khususnya di tanah air atas sepak terjang raja baru Arab Saudi pasca pelantikannya. Raja Salman mulai melakukan berbagai manuver politik di luar kebiasaan para pendahulunya yang sangat konsevativ. Gebrakan-gebrakan politik yang telah ia lakukan diantaranya adalah:

1. Menjalin kembali hubungan mesra dan kuat dengan Turki. Hubungan kedua negara sebelumnya sempat merenggang akibat dukungan rezim Saudi terdahulu atas kudeta militer Mesir terhadap Presiden Mursi.

2. Membuka ruang dan kesempatan bagi Ikhwanul Muslimin yang di era rezim sebelumnya berada dalam tekanan.

3. Menjalin hubungan yang lebih dekat dengan HAMAS dan Partai Ishlah Yaman, keduanya adalah afiliasi Ikhwanul Muslimin.

4. Merombak total Kabinet kerajaan dengan menyingkirkan para loyalis rezim terdahulu dari posisi-posisi strategis di Pemerintahan.

5. Menggagas dan memimpin “Operasi Militer Hazm” untuk menyingkirkan pemberontak Syiah Houthi di Yaman.

Tidak hanya sampai di situ, Raja Salman melalui Menteri Luar Negeri Saudi kerap memberikan pernyataan pembelaannya atas penderitaan umat Islam di Suriah dan mengutuk keras kejahatan rezim Assad di sana.

Umat Islam yang telah sangat lama menderita dan sudah sangat muak kepada para pemimpin dunia Islam, kini mereka seakan-akan mendapatkan secercah cahaya terang dari sosok Raja Salman. Raja Salman telah menjelma menjadi seorang “Super Hero” yang dipercaya akan menyelamatkan dan mengobati penderitaan umat Islam. Sebelumnya Turki melalui Erdogan juga telah mendapatkan porsi yang sama dengan gebrakan-gebrakannya yang berani dan banyak membantu persoalan umat Islam dunia.

Arab Saudi bersama Turki telah menawarkan sensasi dan daya tarik tersendiri bagi umat Islam yang hampir putus asa. Dua ikon dunia Islam ini tampil sebagai pionir yang dinilai mewakili harapan umat Islam dunia. Dunia Islam seakan-akan kembali optimis dan bisa bermimpi bahwa penderitaan mereka akan segera terhapus melalui aksi dua pahlawan ini.

Fakta Yang Ternyata Pahit

Namun kita tidak boleh lupa bahwa sampai saat ini Arab Saudi dan Turki masih merupakan koalisi terdekat Amerika. Keduanya bahkan tergabung dalam Koalisi Internasional yang dipimpin oleh Amerika dalam perang penuh dusta terhadap kelompok Daulah Islam (Islamic State/IS) di Suriah dan Irak. Perang penuh dusta ini sejatinya hanyalah sebuah kamuflase untuk melegalkan turut campurnya Amerika dalam medan jihad Suriah yang sudah diambang pintu kemenangan.

Amerika yang tengah bersandiwara dengan memakai baju Koalisi Internasional tidak ingin membiarkan mujahidin untuk kedua kalinya dalam sejarah dunia modern berhasil merebut mutlak sebuah negara, sebagimana sebelumnya Thaliban telah berhasil menguasai dan mendirikan Pemerintahan Islam di Afghanistan. Amerika telah membaca bahwa kemenangan mujahidin di Suriah hanya tinggal menunggu hari. Jika Amerika tidak segera memainkan perannya di Suriah, maka rezim Assad yang sudah tidak berdaya membendung serangan mujahidin akan segera lengser, dan mujahidin dengan leluasa bisa mendirikan Imarah Islam. Tentu itu bukanlah berita baik untuk Amerika, Barat dan khususnya Israel yang merupakan tetangga langsung Suriah.

Jihad Suriah adalah proyek revolusioner kebangkitan umat Islam setelah sebelumnya sumbu kebangkitan umat telah dinyalakan melalui jihad Afghan melawan invansi Soviet. Musuh Islam menyadari jika jihad Suriah berjalan mulus dan kemenangan diraih oleh mujahidin, maka tatanan dunia akan segera berubah. Kekhawatiran inilah yang melatarbelakangi agenda terselubung dan konspirasi jahat dijalankan untuk menghancurkan proyek jihad Suriah.

Musuh Islam senantiasa menciptakan berbagai skenario dan konspirasi untuk menggagalkan kemenangan mujahidin di Suriah. Diantaranya dengan cara memecah belah barisan mujahidin, di mana Barat berhasil menunggangi musuh yang bisa menusuk dari dalam seperti Jama’ah Daulah (IS) dan juga faksi-faksi pemberontak pro Barat. Barat juga berhasil menjadikan Jama’ah Daulah (IS) sebagai alat legitimasi bagi mereka untuk masuk langsung dalam perang Suriah, bukan untuk membasmi kelompok tersebut melainkan untuk memerangi mujahidin secara keseluruhan.

Namun semua makar yang musuh agendakan atas umat Islam tidaklah sebanding dengan makar yang Allah Ta’ala kehendaki. Setelah melalui berbagai cobaan dan musibah, jihad Suriah kembali bangkit dan memberikan harapan bagi umat Islam. Jama’ah Daulah mulai melemah dan menghilang dari permukaan, mujahidin dari berbagai kelompok mulai bersatu untuk menyatukan visi dan misi mereka, dan rezim Assad semakin terjepit karena mengalami berbagai kekalahan telak di berbagai front.

Makar dan Konspirasi Baru

Fakta bahwa mujahidin Suriah telah berhasil keluar dari keterpurukan dan sedang bangkit menuju kemenangan telah menjadikan musuh Islam sangat khawatir. Mereka mulai memikirkan skenario baru untuk menggagalkan kemenangan mujahidin yang sudah di depan mata. Opsi pertama ditawarkan oleh Rusia, yaitu dengan tetap mempertahankan rezim Bashar Assad di tampuk kekuasan Suriah dan membasmi mujahidin di permukaan. Opsi kedua datang dari Amerika dan Sekutu, yaitu memaksa mujahidin Suriah untuk berdamai dengan Assad melalui Konferensi Riyadh. Opsi ketiga adalah menjadikan pihak yang tidak mau berdamai dengan Assad dan tetap melanjutkan peperangan sebagai musuh bersama.

Sesungguhnya Barat telah sampai pada kesimpulan bahwa mempertahankan Assad dan memaksa oposisi untuk berdamai adalah opsi terbaik, daripada mengambil resiko Suriah jatuh ke tangan mujahidin dalam waktu dekat. Sebagai langkah antisipasi atas kelompok mujahidin yang tidak mau masuk dalam jeratan mereka, maka baru-baru ini Arab Saudi yang merupakan sekutu dekat Amerika bersama 30 negara Islam telah mendeklarasikan Koalisi Militer Bersama untuk memerangi terorisme.

Ada Apa Dibalik Koalisi Militer Gabungan?

Arab Saudi kembali menawarkan sensasi mengejutkan dan terkesan heroik. Pada hari Selasa pagi (15/12), Arab Saudi telah membentuk “Koalisi Militer Islam” dari 34 negara untuk melawan “terorisme”. Koalisi Militer Islam untuk melawan terorisme akan dipimpin oleh Arab Saudi dan akan memiliki pusat komando bersama di kota Riyadh. Pusat komando ini berfungsi sebagai pusat pengkoordinasian operasi militer untuk menghadapi terorisme, serta sebagai pusat pengembangan program dan peralatan perang dalam rangka penguatan operasi militer.

Koalisi militer ini dibentuk berdasarkan prinsip-prinsip dan tujuan yang telah dicanangkan oleh Organisasi Kerjasama Islam (OKI), dan berdasarkan pakta kesepakatan PBB, yang menyerukan kerjasama untuk memberantas terorisme dalam bentuk apapun.

Pangeran Saudi, Muhammad bin Salman, dalam konferensi persnya telah menegaskan bahwa koalisi ini bukan hanya menargetkan Daulah Islamiyah atau IS, tetapi juga menargetkan seluruh organisasi yang dianggap sebagai organisasi teroris. Sayangnya, dalam pernyataan tersebut ia tidak sama sekali menyinggung atau menyatakan akan melawan Israel atau membebaskan Palestina.

Koalisi Militer ini tidak akan menyentuh Israel atau kepentingan Amerika di dunia Islam, bahkan ia akan menjadi alat untuk memerangi mujahidin yang mereka berikan label sebagai “Teroris”. Berdasarkan informasi yang beredar, organisasi-organisasi teroris yang akan ditergetkan oleh Koalisi Militer ini adalah:

1. Daulah Islam (IS)
2. Jabhah Nushrah
3. Hizbullat
4. Houthi Yaman
5. Al-Qaidah (Seluruh Cabang)
6. Kelompok Abu Sayyaf
7. Harakah As-Syabab Mujahidin Somalia
8. Partai Kurdistan
9. Anshar Baitul Maqdis
10. Boko Haram

Jelas sudah bahwa Koalisi Militer ini ternyata ingin menyapu bersih mujahidin yang sedang menyerang hegemoni Barat di dunia Islam. Terlepas dari daftar target yang tidak ada keraguan bahwa mereka adalah musuh yang nyata dan berbahaya bagi umat seperti: Hizbullat, Houthi Yaman, Jama’ah Daulah dan lainnya, namun memasukkan Jabhah Nushrah dan seluruh cabang Al-Qaidah dalam daftar target serangan adalah bukti bahwa Koalisi Militer ini dirancang untuk melayani kepentingan Barat.

Ketika Obama memberikan kuliah di hadapan taruna militer Amerika baru-baru ini, ia memberikan gambaran perubahan strategi Amerika dalam perang melawan teroris hari ini. Amerika telah banyak belajar dalam satu dekade terakhir bahwa perang melawan teroris akan menjadi lebih efisien jika Amerika bisa melibatkan sebanyak-banyaknya sekutu untuk menghadapi musuh yang sama. Peran inilah yang saat ini sedang dijalankan oleh Amerika. Kini Amerika dapat menunggu dengan tenang di sarangnya, karena perang melawan Al-Qaidah akan diambil alih oleh Arab Saudi yang baru saja membentuk Koalisi Militer Gabungan bersama 34 negara untuk memerangi Al-Qaidah.

Musuh Islam Bertepuk Tangan Bahagia

Koalisi Militer Gabungan 34 negara sama sekali tidak memberikan ketakutan dan kekhawatiran pada bangsa kafir. Amerika dan Inggris dalam rilis resmi kenegaraan telah menyatakan kebahagian dan dukungan penuh mereka atas Koalisi Militer ini. Bahkan Israel yang berada tepat di tengah kawasan negara-negera yang tergabung dalam koalisi juga turut bahagia dan merasa semakin aman.

Amos Gilad, Ketua Departemen Keamanan dan Politik di Kementrian Pertahanan Israel telah menjelaskan dengan gamblang menganai pandangan Israel atas Koalisi negara-negara Islam. Berikut ini adalah video konferensi pers Amos Gilad:

Transkrip Pernyataan Amos Gilad:

“Terdapat dampak positif baru dari hal ini, bukan sesuatu yang baru, namun ini sangat positif. Saya menyebut negara-negara ini sebagai sumbu Sunni, mereka adalah Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kerajaan Jordania. Mereka semua adalah sekutu Amerika, dan memang ada sedikit kritik dari mereka untuk Amerika, namun secara umum mereka sangat mengutamakan bantuan dari Amerika.”

“Hubungan Amerika dengan negara-negara ini sangat kuat dan sangat strategis. Saya yakin bahwa koalisi ini, yaitu koalisi Sunni yang telah saya sebutkan tadi adalah sebuah kontribusi yang besar bagi stabilitas di Timur Tengah, dan tentu saja untuk kepentingan Israel juga. Kita memiliki perjanjian damai dengan mereka, memang bukan seperti hubungan damai antara Amerika dan Kanada, namun Koalisi ini setidaknya bisa memberikan stabilitas bagi Israel. Perdamaian (dengan mereka) walaupun dingin namun sangat penting sekali, dan hubungan keamanan kita dengan negara-negara tetangga juga sangat penting, semua itu telah semakin membaik. Hubungan strategis yang telah kita jalin dengan negara-negara tetangga kita adalah prioritas.“

Demikianlah musuh-musuh Islam sedang merasakan kebahagiaan karena 34 negara Islam dipimpin oleh Arab Saudi sedang menjalankan suatu agenda yang hakikatnya adalah untuk membantu musuh Islam.

Penutup

Dengan berbagai musibah dan bala yang sedang menimpa umat Islam saat ini di berbagai belahan bumi, seharusnya Arab Saudi dan negara-negara Islam bersatu karena tulus untuk menolong mereka. Seharusnya Arab Saudi dan negara-negara Islam bersatu untuk memerangi Israel yang semakin bringas mempertontonkan kejahatan mereka di Palestina. Seharusnya Arab Saudi dan negara-negara Islam lainnya bersatu untuk menggulingkan Assad dan menolong kaum muslimin Suriah. Seharusnya Arab Saudi dan negara-negara Islam bersatu untuk menghentikan agenda jahat Iran di berbagai negeri kaum muslimin. Namun mengapa mereka kini bersatu untuk kepentingan musuh Allah!?

Semoga Allah melindungi umat Islam dan mujahidin dari berbagai makar dan kejahatan musuh, dan semoga Allah hencurkan segala tipu daya musuh atas umat ini. Allahumma amin.

Dewan Redaksi Muqawamah Media

Logo-Lengkap_kecil

Tinggalkan Balasan

Muqawamah Media adalah fasilitator antara umat dengan para Pemimpin dan Ulama mereka. Muqawamah Media akan berusaha menghubungkan pesan, arahan, dan nasehat-nasehat dari para Ulama dan Pemimpin umat tersebut kepada umatnya.

Email: [email protected]

Newsletter

Bagi kaum muslimin yang hendak menyalurkan donasi, dapat transfer ke rekening berikut :